Tradisi NU, “Ger-Ger-an” atau “Geger-Geger-an?”

Bagikan :

Kegiatan NU selalu menarik perhatian baik di internal sendiri maupun di luar NU. Di kalangan internal NU, penulis melihat warna warga Nahdilyiin yang beragam latarbelakang pendidikan dan profesi telah memberikan sumbangsih cara pandang NU saat ini dan masa-masa yang akan datang. NU yang lahir dari tradisi Pesantren yang terkenal dengan tradisi tradisional kini telah mentranformasi dirinya menjadi ormas keagamaan yang tetap berdiri kokoh pada tradisi, namun juga berharap mampu berperan mewarnai kehidupan modern saat ini. Jadi NU sebenarnya ingin menjadi seperti Muhamadiyah yang modernis, tapi tetap berpijak pada tradisi-tradisi pada garis-garis besar keagamaan dan kehidupan sosial yang mengacu kepada empat Madzhab dalam bidang fikih, Asy’ariah Al-Maturidiyah dalam bidang tasawuf, dan Al-Mawardi dalam bidang fikih. Penjabaran-penjabaran nya dalam bidang lain terutama tentu saja tidak jauh dari garis-garis organisasi.

Psikologi warga NU yang demikian komplek latarbelakang pendidikan yang tidak hanya berasal dari Pondok Pesantren, tapi sudah banyak bergeser pada pendidikan-pendidikan modern baik di dalam negeri maupun luar negeri jelas membawa beban yang sangat mendalam, tentang bagaimana memformat NU yang modern tapi tetap menjaga tradisi. Padahal transformasi pada tubuh generasi NU begitu cepat melalui pendidikan yang mungkin bisa jadi selama sebagai warga NU belum mendapatkan pengkaderan “ke-NU-an” yang matang dan mendalam. Lalu dengan keterbatasan pengetahuan ini kemudian harus menerima pintu estafet kepemimpinan di masa-masa yang akan datang. Kondisi yang jelas tidak mudah untuk mempertemukan kedua aliran yang masih berpegeng teguh dengan gaya Pesantren dan gaya kaum intelektual NU yang bisa jadi belum mengenyam pendidikan pesantren. Akibatnya, rumusan-rumusan tentang apa dan bagaimana NU ke depan, akan senantiasa mengalami tarik-menarik di tubuh NU sendiri. Dan ini akan terus menerus terjadi di masa mendatang [ ini tentu berbeda dengan Muhamadiyah yang telah memposisikan diri sebagai organisasi yang modernis, walaupun harus diakui pilihan modernis itu sendiri justru juga telah menyebabkan Muhamadiyah kehilangan kadernya dan banyak beralih ke Tarbiyah, Salafi dan Wahabi].

NU yang lahir dari tradisi pesantren merupakan tradisi yang unik. Tradisi NU yang sering diidentikan dengan tradisi “sawir” [musyawarah keagamaan] adalah tradisi utama sebagai tradisi intelektual kyai atau ulama NU. Perbedaan pendapat di pesantren dalam merumuskan “hukum” sering terjadi “geger” penuh dengan amarah, emosi dan kadang sampai “mufaraqah” [ keluar dari majelis sawir ], namun ketika selesai, mereka pun biasa bertemu dan akur kembali yang sering diistilahkan dengan “ ger-ger-an” atau saling bersendau gurau.

Jadi social capital NU yang demikian banyak serta beragam sering terjadi benturan-benturan yang tidak bisa dielakan, apalagi ketika organisasi ini sudah bersentuhan dengan kepentingan politik, mau tidak mau tensi “ger-ger-an” pun mengalami penurunan dan yang terjadi adalah “geger-geger-an” yang sangat menguras energi ormas itu sendiri. NU akhirnya terjebak dalam kepentingan praktis dan lupa terhadap pondasi NU itu sendiri. Slogan NU, tapi bisa jadi amaliah organisasi sudah jauh dari akhlakul karimah para pendiri NU sendiri.

Disisi lain, kelompok yang berada di luar NU melihat ormas sebesar ini menjadi tempat untuk mengepresikan diri dalam beberapa bentuk, ada dengan cara mendekati ada yang dengan cara melawan secara head to head. Tentu saja, bagi kelompok yang secara terang-terang bersebarangan dengan NU, maka secara politik tidak ada persoalan sebagai posisi jelas bersebarangan dengan NU. Yang berbahaya adalah orang yang mengepresikan diri dengan cara bersahabat dan kemudian hari menjadi warga baru dalam tubuh organisasi maka ada kemungkinan menjadi dua, dia akan menjadi warga Nahdiyin dan militan atau sebaliknya akan melakukan pembusukan organisasi dari dalam. Ini sangat dilematis.

Tentu saja sangat sulit merawat organisasi sebesar NU yang jumlahnya puluhan juta yang tersebar di dalam dan luar negeri. Laksana seorang gadis yang cantik, semua pun ingin meminangkan, walaupun sang laki-laki tadi tidak mengenal warna huruf hijaiyah akan berubah menjadi seorang pujangga yang mampu melahirkan kata-kata petuah bijak. Ironisnya, kadang kehadiran gadis cantik itu kadang membutakan siapa saja yang melihatnya, bukan hanya yang bodoh, yang berilmu pun melihat gadis cantik menjadi bodoh dan berbuat pun diluar aturan-aturan ilmu pengetahuan dan agama.

Semoga para pengurus NU dan banom-banom nya menyadari tugas yang sangat berat ini. Para pengurus nu dan banom-banom nya tentu saja bukan hanya mengejar selembar kertas untuk diakui legitimasi secara hukum semata, tapi juga harus lahir dari hati dan diwujudkan dalam amaliah untuk menjaga nu tetap eksis dan memberi manfaat kepada jama’ah, jam’iyah dan bangsa, negara serta agama.

Al-faqir

Vijian Faiz


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Ketika Benteng Mulai Rapuh

Wed Nov 24 , 2021
Bagikan :moreEra reformasi 1998 sebenarnya mempunyai semangat yang luarbiasa untuk memperbaiki kehidupan yang lebih baik bukan hanya dalam bidang ekonomi [ yang saat itu sedang sekarat], bukan hanya bidang politik [ yang saat itu otoriter orde baru menjadikan Golkar sebagai pemain utama dan menjadikan tameng untuk tetap berkuasa], tetapi mempunyai […]