Tertawa diantara Dua Kebenaran

Bagikan :

Betapa berat nabi menyakinkan kepada masyarakat jahiliyah, kalau dirinya telah melakukan Israi yaitu allah telah memperjalankan dari Masjid Al-Haram sampai masjid Al-Aqsa. Lalu Mi’raj naik ke langit. Nabi sendiri sebenarnya menyadari hal ini. Namun bagaimana lagi, nabi harus mengatakan yang sesungguhnya tentang apa dan bagaimana yang seharusnya diceritakan tentang peristiwa yang kemudian dikenal dengan nama Isra’  Mi’raj.

Para tokoh kaum kafirin pun mendatangi nabi. Mereka bergantian bertanya tentang aktivitas yang beberapa waktu terjadi padanya. Nabi dengan polos mengatakan bahwa dirinya telah sampai ke bait al-maqdis, lalu Mi’raj ke langit. Diantara mereka pun meminta kepada nabi untuk mengangkat kaki sebelah kanan, nabi pun mengangkatnya. Lalu diantara mereka ada lagi yang meminta untuk mengangkat yang sebelah kiri. Nabi pun mengatakan “ jelas tidak mungkin, jika diangkat kedua-duanya, saya pasti jatuh.”

Para tokoh kaum kafirin dan para pengikutnya yang menyaksikan saat itu pun tertawa mendengar jawaban nabi. Seolah-olah kebenaran tuhan saat itu runtuh dengan logika sederhana yang dibangun oleh kaum kafirin. karena hukum alam, siapapun tidak bisa berdiri ketika dua kakinya diangkat. Karena untuk bisa berdiri, orang harus menghinjak kakinya di bumi salah satu atau dua-duanya. Sebagian kaum muslim pun terprovokasi oleh olah logika kaum kafirin tadi. Mereka mulai ragu, “ Bagaimana mungkin nabi bisa Isra Mi’raj sedemikian spektakuler, untuk berdiri saja masih membutuhkan bantuan salah satu kaki-nya.” Namun tidaklah demikian bagi Abu Bakar. Apapun yang diucapkan oleh nabi, tanpa bukti atau tidak, Abu Bakar tetap percaya apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad S.A.W.

Sebenarnya para tokoh kaum kafirin mengetahui bahwa apa yang disampaikan merupakan sebuah kesalahan. Mereka tentu saja mengetahui bahwa kata “asra” dalam firman Allah yang menceritakan tentang peristiwa Isra Mi’raj mempunyai arti : “Allah telah memperjalankan” dan bukan “nabi telah berjalan.” Mereka adalah orang Arab, kaum intelektual Arab yang mengetahui bahasa dan sastra Arab serta menjadi bahasa ibu mereka. Namun kepentingan politik terlalu dalam membuat mereka menggiringkan makna yang benar menjadi makna yang salah dengan tamsil-tamsil yang menyesatkan.

Memang kelompok Islam dari kelangan rakyat biasa waktu itu belum mempunyai kecerdasan analisis sebagaimana Abu Bakar dan Ali Bin Abi Thalib. Mereka masih berfikir sederhana’ apa yang dilihat, di dengar dan dipercaya.” Ketika suatu hari ada hal yang lebih bisa dipercaya lagi, mereka bisa saja terjadi perubahan dalam bersikir dan bersikap. Untungnya, nabi Muhammad pada era permulaan Islam sudah dikelilingi orang-orang intelektual Seperti Abu Bakar, Umar bin Khatab, Utsman dan Ali Bin Abi Thalib serta para sahabat terpilih. Mereka menjadi penyambung lidah nabi dalam mempresentasikan ayat-ayat, hadist atau kejadian-kejadian yang memungkinkan nabi tidak sempat menjelaskan. Sehingga para kaum kafirin pun kemudian hari bersyahadat sebelum bertemu Nabi Muhammad S.A.W.

Walhasil dari cerita di atas kiranya kita melihat dalam kehidupan sehari-hari sering menyimpulkan hal-hal yang menurut analisis kita sudah benar padahal faktanya tidaklah demikian. Kita kadang sudah merasa benar dan mencoba membangun opini negatif kepada persoalan tertentu pada saat kita baru mengetahui analisis kulit tapi langsung menyimpulkan bahwa seluruh isinya seperti kulit. lalu kemudian melakukan konspirasi bersama untuk menjatuhkan siapapun yang dituju. Ironisnya selalu bicara atas nama kebenaran, keadilan, bahkan kadang atas nama agama. Namun sudah menjadi


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Salafi dan Ancaman Kerukunan Beragama

Tue Feb 15 , 2022
Bagikan :moreEra keterbukaan dengan ditandai pesatnya arus informasi melalui dunia internet dan media sosial telah melahirkan problematika sosial yang sangat beragam dan terkadang sangat membahayakan kerukunan umat beragama. Era informasi sebagai era kebebasan mengekspresikan pendapat telah melahirkan tokoh-tokoh baru muncul yang kemudian menjadi tokoh agama yang sering disebut ustadz, kiai, […]