Siapa Presiden 2024 ?

Bagikan :

Oleh : Imam Ghozali

Sejak Orde Lama sampai memasuki era reformasi, latarbelakang presiden bervariasi. Pertama, Soekarno adalah seorang insinyur, dia pemikir yang jenius, olah kata yang tidak ada duanya saat ini. Istilah-istilah yang diucapkan selalu saja menjadi popular seperti “berdikari” yang mempunyai arti “berdiri di atas kaki sendiri”. Soekarno juga seorang orator ulung. Masyarakat Indonesia sanggup berjam-jam mendengarkan pidatonya. Selain itu postur tubuh yang tinggi tampan “digandrungi” oleh para wanita. Pendek kata, Soekarno adalah presiden yang jenius, intelektual yang dalam dirinya ribuan pemikiran dan ideologi yang kemudian melahirkan ide-ide dasar rumusan ideologi pancasila.

Presiden kedua, Soeharto berlatarbelakang militer. Sedikit bicara, tapi sangat jenius. Walaupun terbatas pada kemampuan bahasanya. Sistem militer diterapkan di seluruh pemerintahan, mulai pusat sampai bawah berlatar belakang militer. Partai politik disederhanakan menjadi tiga: PPP, GOLKAR dan PDI. Namun, prakteknya hanya satu, yaitu Golkar. PPP dan PDI hanya nama di atas kertas. Para pemimpin partai sebenarnya tangan panjang dari Soeharto. Dari sini penulis bisa melihat bahwa Soeharto membangun Indonesia tidak memberi kesempatan masyarakat untuk mengkritik dengan dalih menjaga setabilitas nasional. Lalu lahirlah konsep “Repelita” Rencana Pembangunan Lima Tahun dan mendapat gelar “Bapak Pembangunan”, dan justru dia turun karena dianggap tidak bisa membangun ekonomi oleh rakyatnya sendiri. Lahirlah reformasi.

Reformasi sebenarnya kesalahan Soeharto mendidik generasi muda ke luar negeri ( Amerika Serikat ). Pada saat soeharto berkuasa, makna Pancasila lebih diarahkan kepada ideology model kapitalis. Sumber daya alam diserahkan ke Amerika Serikat. IMF jor-joran membantu pinjaman modal untuk pembangunan. Ini strategi politik AS, agar mendapatkan daerah pasar penanaman modal di luar negeri agar Uni Soviet tidak masuk ke Indonesia. Saat Rusia kalah dalam perang dingin tahun 1991, AS mulai melepaskan Indonesia. Pada saat yang sama, generasi muda Indonesia hasil didikan AS sudah cukup banyak. Mereka membawa isu HAM, kemiskinan dan keterbelakangan Indonesia dibawah pemerintahan soeharto. AS pun melepaskan Soeharto dan mendukung anak-anak muda dan bekerja sama dengan mereka. Akhirnya pada tahun 1998 Soeharto tumbang oleh anak-anak asuhnya sendiri. AS berada di balik krisis moneter. Indonesia ambruk, Soeharto “Lengser Keprabon”.

Pengganti Soeharto adalah BJ Habibie, seorang ilmuwan, dosen, pakar teknologi yang karya-karya telah mendunia. Tidak ada seorang presiden yang secara keilmuwan mengalahkannya. Sampai detik ini, tidak ada mantan presiden yang karya-karya teknologinya dipakai di dunia internasional terutama dalam hal pesawat terbang kecuali BJ Habibie. Dia juga ketua ICMI, dan seorang muslim yang taat, lurus, jujur dan bersih. Dia juga seorang hartawan yang kekayaannya diinfakan untuk pembangunan sarana pendidikan. Namun kecerdasan yang luarbiasa yang konon di atas kecerdasan Albert Einstein ternyata tidak bisa mengelola negara. Timor Leste menjadi catatan kelam, pada 11 Februari 1999 BJ Habibie memberikan kemerdekaan atas Timor Leste.

Presiden keempat adalah hasil kompromi politik adalah seorang ulama pendidikan Timur Tengah, KH Abdurrahman Wahid. Dia juga seorang aktivis, budayawan, penulis dan pejuang hak-hak kaum minoritas. Tulisannya selalu tampil di berbagai media nasional mengangkat isu-isu tentang keislaman, keindonesia, kemanusiaan, keberagaman dan pembelaan terhadap kaum terpinggirkan. Kemampuan berdiskusi dengan kelompok-kelompok termarginalkan menyebabkan para pemimpin partai politik sepakat memilih nya sebagai win-win solution saat terjadi ketegangan dari kelompok Islam: GOLKAR, PAN, PKS, PPP,PBB dengan partai nasionalis pemenang pemilu yaitu PDI perjuangan. Hasilnya, Abdurrahman wahid menjadi presiden, Megawati menjadi wakil presiden. Namun, belum selesai masa kepemimpinannya, Gus Dur pun diimpeachment, dan digantikan oleh Megawati menjadi presiden, wakil presiden yaitu Hamzah Haz dari PPP.

Presiden selanjutnya Susilo Bambang Yudoyono yang dianggap sebagai TNI reformasi yaitu tni yang menerima ide-ide reformasi yang demokratis. Selain berlatarbelakang tni, dia juga doktor pertanian dari IPB. Pilihan pendidikan ini tentu merupakan strategi politik akan keterpihakannya terhadap ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Selain itu, Sby terpilih karena realita sejarah, bahwa Indonesia membutuhkan pemimpin yang kuat namun menerima ide-ide semangat reformasi. Slogan yang sangat indah “Katakan tidak pada korupsi” dan strategi politik modern, gagah, bersih dan berwibawa menghipnotis masyarakat Indonesia sebagai representasi masyarakat yang mampu membawa masyarakat yang makmur, cerdas dan bermartabat. Namun lagi-lagi, SBY harus ambruk oleh perilaku kader Partai Demokrat. Skandal pembangunan Gedung Hambalang telah menutup pemerintahan SBY dalam catatan hitam yang sangat menyedihkan.

Pengganti SBY adalah Joko Widodo atau Jokowi. Desain politiknya adalah membela “wong cilik”. Dengan baju “kotak-kotak” seharga Rp. 100.000 telah menempatkan jokowi sebagai presiden yang pro terhadap rakyat dan masyarakat kecil. Kedigdayaan SBY dan partai-partai pendukungnya ternyata tidak mampu melawan Jokowi yang krempeng dan sering diejek dengan istilah “plonga-plongo” suatu kata mengindentikan ketidaktahuan, bodoh dan tidak bisa apa-apa, suatu kata yang tidak pantas sama sekali untuk diucapkan kepada anak-anak kita, kepada orang pinggiran, kepada orang miskin, apalagi kepada seorang presiden. Tapi itu nyata, dan Jokowi tidak memperdulikan ejekan tersebut,dia pun terus melaju dengan gaya “sederhana” dan sering dianggap “ndeso” yang dianggap mewakili mayoritas bangsa Indonesia yang kebanyak kaum terpinggirkan. Bahkan hari ini jokowi mampu menempatkan keluarganya bukan pada lingkaran kekuasaan dengan menjadi pengurus partai politik dan menjadi menteri, tapi kemandirian dalam berpolitik menjadi walikota Solo dan Medan. Suatu model baru jenius politik “model ndeso” ala Jokowi, ndeso yang terkadang rasa kota, suatu strategi dalam menghubungkan dua kutub yang sering dipresepsikan berseberangan, tapi bisa disatukan olehnya.

Pada tahun 2024 perjalanan politik Indonesia masih meraba-raba. Tahun 2024 adalah tahun kepentingan. Para partai politik sudah tidak sebatas melihat figur dengan sederet titel gelar pendidikan atau latarbelakang tokoh agama yang terlihat bersih bak malaikat. Tahun 2024 adalah pertarungan kepentingan dan kekuasaan. Siapapun yang terpilih, maka kepentingan pasti lebih utama daripada kecerdasan intelektual. Sebab ketika seorang ilmuwan mengajar dan ulama berhutbah, maka dia masih dalam tataran orang-orang seperti Plato, Aristotel, Al-Farabi, dan Al-Ghozali. Tapi saat sudah memasuki lingkaran kekuasaan, maka teori yang berlaku adalah teori Ibnu Khaldun, yaitu kekuasaan seperti gelombang laut, tidak ada istilah Ulama, Cendekiawan, dan tokoh masyarakat, semua bisa hanyut dan tertelan dalam ombak kekuasaan yang dahsyat. Tidak ada kesempurnaan dari seorang pemimpin, tapi selalu saja ada catatan kebaikan. Dan hari ini para tokoh sedang menyembunyikan kegagalan dan memoles kebaikan yang mungkin tidak seberapa jika dibandingkan realita yang ada. Dan kepentingan selalu saja menciptakan sesuatu yang tidak mungkin menjadi nyata.


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *