Salafi dan Ancaman Kerukunan Beragama

Bagikan :

Era keterbukaan dengan ditandai pesatnya arus informasi melalui dunia internet dan media sosial telah melahirkan problematika sosial yang sangat beragam dan terkadang sangat membahayakan kerukunan umat beragama. Era informasi sebagai era kebebasan mengekspresikan pendapat telah melahirkan tokoh-tokoh baru muncul yang kemudian menjadi tokoh agama yang sering disebut ustadz, kiai, ataupun buya dan syeikh. Mereka menggunakan media sosial sebagai alat berdakwah dan sekaligus jalan untuk mendapatkan pundi-pundi kekayaan melalui banyaknya follower. Itu sebabnya, kegiatan dakwah pun menjadi ladang bisnis yang kemudian terjadi persaingan di antara pelaku bisnis. Akibatnya, mereka membuat konten yang terkadang provokatif dan menimbulkan suatu kegaduhan di masyarakat. Tentu saja, strategi konflik dalam bisnis di media sosial terkadang sebagai salah satu promosi gratis untuk mempromosikan dirinya di tingkat yang lebih luas lagi di masyarakat. Berapa yang membencinya, tetap akan muncul juga berapa yang mencintainya. Maka lahirlah masyarakat dunia maya yang tidak lagi diikat oleh nilai-nilai leluhur bangsa yaitu persatuan dan kesatuan dalam keberagaman, namun berdasarkan suka dan tidak suka terhadap informasi yang disampaikan oleh para ustadz kepada para followernya.

Fenomena yang dakwah yang meresahkan persatuan dan kesatuan baik umat beragama ataupun sesame umat islam mulai terusik setelah munculnya para pendakwah yang sering menyebutkan diri para salafiyun atau kelompok salafi. mereka tersebar di beberapa wilayah Indonesia. mereka secara terang-terangan menyalahkan hal-hal yang sudah menjadi tradisi dianggap sebagai ajaran atau amalan yang bid’ah, syirik dan kafir. Beberapa contoh kasus yang masih baru antara lain: pertama, ustadz zamzami dari Kampar Riau secara terang-terangan menyesatkan organisasi Islam seperti Muhamadiyah, NU dan Jama’ah Tabligh. Kedua, ustadz Zainal mempermasalahkan lagu “balonku ada lima” yang dianggap lambing kebencian terhadap Islam. Ketiga, yang terbaru yaitu ustadz Khalid Basalamah menyebut “Wayang” haram dan sebaiknya dimusnahkan dan para dalang untuk taubat nasuha.

Fenomena dakwah yang provokatif ini sebenarnya mempunyai agenda secara terbuka untuk melakukan tujuan besar mereka, yaitu: pertama, menancapkan paham wahabi-salafi di Indonesia melalui dakwah dengan menggunakan media-media dakwah seperti radio, tv, youtuber, tulisan-tulisan yang dikloning melalui internet, buku-buku, Koran, majalah dan sebagainya. mereka juga menggunakan lembaga-lembaga pendidikan dan dakwah yang mendapatkan bantuan dari luar negeri dengan mendirikan pesantren-pesantren dengan menggunakan nama para sahabat dan para ulama-ulama yang bermadzhab Syafi’i tetapi ajarannya bertentangan dengan Madzhab Syafi’i itu sendiri. kedua, mereka mendekati para pejabat pemerintah, penguasa dengan membuktikan ketaatan kepada pemimpin, tapi disisi lain mereka juga melawan pemerintah dengan tidak mau menghormati bendera, tidak mengakui demokrasi yang dianggap toghut dan tidak mengakui pancasila yang dianggap berhala. Mereka juga mendekati para petinggi dan anggota TNI, dan Polri dengan memberikan pengajian-pengajian yang sangat melemahkan nilai-nilai persatuan dengan pemahaman agama versi mereka dengan slogan “Sunnah Rasul”, yang seolah-olah hanya kelompok mereka yang paling sunnah yang lain dianggap “bid’ah.”ketiga, mereka akan menguasi instansi-instansi pemerintah dan kemudian menguasai pemahaman-pemahaman mereka terhadap ajaran-ajaran Wahabi. Sehingga ketika sudah terdoktrin secara mendalam dan mengakar, maka akan melahirkan kebijakan memberangus seluruh ajaran agama yang tidak sepaham dengan wahabi-salafi sebagaimana yang dicontohkan di Arab Saudi.

Jadi, gerakan Wahabi-Salafi bukan sebatas gerakan-gerakan amaliah ibadah semata. Mereka melakukan kegiatan dakwah dengan menyerempet hal-hal yang sensitif bukan sebuah kealpaan tapi sebuah kesengajaan untuk mengetahui respon masyarakat Islam mayoritas. Jika masyarakat mayoritas diam dan tidak peduli, maka gerakan mereka semakin masif dan menjadi virus mematikan setiap saat. Maka bisa dipastikan jika kelompok Islam moderat seperti NU dan Muhamadiyah tidak melakukan antisipasi, peristiwa pembunuhan ribuan ulama Ahlusunnah Waljamaah di Arab Saudi bisa jadi akan terulang lagi di Indonesia.

Sungguh ironis, Wayang sebagai media dakwah para Wali Sanga untuk mengislamkan non-muslim kini dianggap haram. Logikanya, para Wali Sanga telah melakukan kesalahan dalam menjalankan dakwah Islam.

Apakah yang waras tetap mengalah ?


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Filsafat Ilmu bagian Pertama

Wed Feb 16 , 2022
Bagikan :moreFilsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya (radic). Dengan kata lain filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu. Plato : filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada. Aristoteles : filsafat merupakan metode atau cara yang digunakan untuk menyelediki […]

Baca Juga