Penetapan Awal Bulan Ramadhan

Bagikan :

Telah disepakan bahwa jumlah bulan Qamariyah dalam satu tahun adalah 12 tahun sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. al-Taubah [9]: 36 dan juga sabhda nabi riwayat Bukhari dari Ibnu Umar sebagai berikut:

ان امة امية لا نكتب ولا نحسب الشهر هكذا وهكذا يعني مرة تسعا وعشرين ومرة ثلاثين

 “Kami adalah umat yang ummi, tidak dapat menulis dan tidak dapat menghitung tidak tahu ilmu hisab. Bulan adalah sekian dan sekian. Maksudnya ada yang 29 hari da nada pula yang 30 hari.

Hadist ini menunjukkan bahwa nabi tidak mempergunakan ilmu hisab dalam menentukan awal bulan, tetapi juga tidak menunjukkan adanya larangan demikian. Sungguh suatu tindakan sangat bijaksana, mengingat waktu itu di kalangan masyarakat arab ilmu hisab belum banyak berkembang.

Diantara kedua belas bulan tersebut, yang paling mendapat perhatian Islam adalah bulan Ramadhan, Syawal dan Dzulhijjah. Sebab di dalamnya terdapat kewajiban berpuasa dan haji atas umat Islam. Berkenanaan dengan masalah puasa Ramadhan, hadist riwayat Abu Daud dari Aisyah r.a menjelaskan, nabi sangat memperhatikan (akhir) bulan sya’ban melebihi bulan-bulan lain, kemudian ia berpuasa karena melihat (hilal) Ramadhan. Apabila hilal terhalang awan, ia menghitung bilangan bulan menjadi 30 hari, selanjutnya ia berpuasa. Hadist lain menyatakan:

صوموالرؤيته وافطروا لرؤيته فان غبي عليكم فاكملوا عدة شعبان ثلاثين

Artinya :

Berpuasalah karena melihat (hilal Ramadhan) dan berbukalah (mengakhiri puasa) karena melihatnya (hilal syawal). Kemudian apabila kamu terhalang/mendung, maka sempurnakanlah bilangan bulan sya’ban 30 hari. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Hadist lain mengatakan :

لاتصوموا حتي تروا الهلال ولا تفطروا حتي تروه فان غم عليكم فاقدروا له

Artinya :

Janganlah berpuasa sampai kamu melihat hilal (bulan ramadhan) dan janganlah berbuka sampai kamu melihatnya (hilal bulan syawal). Kemudian apabila kamu terhalang awan/mendung, maka kadar-kanlah untuknya. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).

Dalam hadist di atas, tampaklah bahwa untuk menentukan awal bulan, saat puasa dimulai dan diakhiri, nabi hanya menggunakan satu patokan, yaitu ru’yah (melihat hilal). Tetapi apakah ru’yah ini merupakan satu-satunya pedoman? Dapatlah pengertian “ru’yah” di sini dikembangkan menjadi, misalnya, “imkanur ru’yah” hingga pada gilirannya hisab falakipun bisa dijadikan alternatif?

Ru’ah dan Hisab

Berdasarkan zahir dari hadist di atas, sebagian fuqaha berpendirian, penentuan awal dan akhir bulan Ramadhan harus ditetapkan berdasarkan “ru’yah” atau melihat bulan yang dilakukan pada hari ke-29. Apabila ru’yah tidak berhasil, baik karena hilal belum bisa dilihat maupun karena terjadi gangguan cuaca, maka penetapan awal bulan harus berdasarkan istikmal (menyempurnakan bilangan bulan menjadi 30 hari). menurut golongan ini “ru’yah” dalam kaitannya dengan puasa ini bersifat ta’abbudi/gair ma’qulal-ma’na. artinya dikembangkan. Sehingga, pengertiannya hanya terbatas pada “Melihat dengan mata telanjang”, dan dengan demikian secara mutlak perhitungan hisab falaki tidak dapat digunakan.

Sementara golongan lain mengatakan, “ru’yah” di sini termasuk ta’qquli/ma’qul al-ma’na, dapat dirasionalkan, diperluas dan dikembangkan. Sehingga ia dapat diartikan antara lain dengan “mengetahui”-sekalipun bersifat zanni (dugaan kuat)-tentang adanya hilal, kendatipun tidak mungkin dapat dilihat misalnya berdasarkan hisab falaki. Namun di antara pendapat golongan kedua ini, yang lebih kuat adalah pendapat yang mengatakan “ru’yah” harus diartikan “imkanur ru’yah”, artinya hilal dapat dilihat.

Dengan kata lain, yang dimaksud dengan “ru’yah” ialah segala hal yang dapat memberikan dugaan kuat (zann) bahwa hilal telah ada di atas ufuk dan mungkin dapat dilihaat. Karena itu, menurut imam qalyubi, awal bulan dapat ditetapkan berdasarkan hisab qat’i yang menyatakan demikian. Tentang kapan hilal dapat dilihat, perhitungan hisab falaki dalam masalah ini sangat diperlukan, dan mengenai para ahli hisab tidak sependapat, sekalipun mereka sepakat bahwa ru’yah hanya mungkind apat dilakukan setelah ijtima’. Sebab, hal ini berkaitan erat dengan posisi hilal di atas ufuk barat setelah matahari terbenam. Posisi hilal ini, menurut mereka, berkisar antara tiga keadaan:

  1. Pasti tidak mungkin dapat dilihat (istihalah arrru’yah)
  2. Mungkin dapat dilihat (imkanu ar-ru’yah), dan
  3. Pasti dapat dilihat (al-qat’u bir-ru’yah).

Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

MUI DAN KASUS TERORIS 2021

Sat Nov 20 , 2021
Bagikan :morePenangkapan Ahmad Zain An-Najah [AZA] oleh Densus 88 mengagetkan masyarakat Indonesia, terutama umat Islam. Pasalnya, dia merupakan salah satu dari Pengurus Majelis Ulama Indonesia [MUI]  Pusat sebagai anggota komisi fatwa. Sehingga penangkapanya menimbulkan pro dan kontra di kalangan umat Islam sendiri. Zain An-Najah ditangkap di wilayah bekasi, Jawa Barat. […]