Kisah Ibu Tua Mencium Hajar Aswad

Bagikan :

Imam Ghozali, Dosen STAIN Bengkalis

Malam ini saya dibangunkan oleh Muhammad Mursholeh, kawan satu kamar. Saya melihat jam, waktu masih menunjukan pukul 03.45 dini hari. Sebenarnya masih ngantuk. Namun saya merasa tidak etis jika tidur lagi berada di area “Pertamanan Surga.” Setelah semua kawan selesai mandi, gantian saya mandi taubat. Lalu saya memakai baju Ihram.

Sebenarnya jika sudah selesai melaksanakan rangkaian ibadah Umrah, Jamaah boleh menggunakan baju apa saja yang penting rapi dan sopan. Tapi resikonya tidak bisa sholat di Masjidil Haram lantai pertama dekat Ka’bah, hanya bisa sholat di lantai ke dua atau ketiga. Namun saya mempunyai program bisa sholat di dekat Ka’bah, itu sebabnya setiap waktu sholat lima waktu, saya senentiasa memaki baju ihram.

Program malam ini yaitu mencium Hajar Aswad. Saya pun berangkat ke Masjidil Haram lantai pertama. Ketika memasuki area dekat Ka’bah, saya fokuskan mendekat Ka’bah. Saya merasa ada jalan yang terang menuju ke arah itu. Walaupun kadang kesenggol oleh orang-orang yang berbadan tinggi yang berasal dari Negara-negara Afrika, Ubekistan, namun terpentalnya pun semakin mendekat Ka’bah. Akhirnya, saya bisa mencium Ka’bah cukup lama. Bahkan bolak-balik kucium, sembari berdoa semoga ada keberkahan wajah dan tubuh ku terbebas dari Api Neraka.

Saya terus berjalan menuju Hajar Aswad dengan metode terus menempel tangan saya ke Dinding Ka’bah. Di samping saya ada seorang ibu tua. Umur mungkin sekitar 55 tahun lebih. Perawakan model dari Indonesia. Dia terus menangis karena saking cintanya kepada Nabi, sehingga dengan segala upaya dia terus berusaha ingin mencium Hajar Aswad. Namun itu tidak mudah. Jamaah sangat padat dan berdesak-desakan sangat, sehingga ibu tersebut seperti mengerang kesakitan sangat ekstrem.

Saya ingin bilang kepada orang-orang yang berbadan besar untuk memperhatikan ibu-ibu tua di sampingnya. Namun harus pakai bahasa apa. Waktu itu tidak ada untuk bisa menjelaskannya. Saya menyadari, semua berdes-desakan karena perasaan cinta yang sangat mendalam. Hanya doa yang kupanjatkan untuk ibu tua tersebut terlindungi oleh dorongan jamaah Umrah lainya. Doa saya dengan hitungan detik dikabulkan oleh Allah s.w.t. seorang laki-laki putih berbadan besar di depan saya melihat ibu disamping saya. Dengan tangan yang kekar, dia meletakan tangannya di Ka’bah dan memberi kesempatan ibu tersebut untuk menciumnya. Setelah berhasil mencum Hajar Aswad, ibu itu pun keluar, lalu orang yang melindungi ibu tadi gantian menciumnya.

Saya di belakangnya, saya ingin menciumnya. Tapi karena desakan dari segala arah, saya pun hanya bisa memegang Hajar Aswad dengan terus membaca sholawat nabi. Tiba-tiba dorongan kuat dari arah belakang. Gara-gara ini, kepala saya masuk ke dalam Hajar Aswad. Cukup lama saya mencumnya. Di dalamnya saya terus membaca sholawat Nabi. Setelah merasa cukup, saya ingin keluar dari tempat tersebut, lagi-lagi dorongan dari segala penjuru menyebabkan saya tidak bisa bergerak ke mana-mana. Akhirnya kepala saya masuk lagi, saya mencium berkali-kali. Bisa jadi ini bagian doa-doa yang tertunda hari kemaren belum bisa mencium. Akhirnya malam ini saya bisa mencium Hajar Aswad dengan durasi yang sangat lama menurut ukuran keumumannya. Anggap saja sekalian menjamak menciumnya. Ternyata yang bisa dijamak bukan hanya Sholat Fardhu, tapi juga mencium Hajar Aswad.

Saya terus membaca sholawat di dalam Hajar Aswad dan juga berfikir ingin keluar dari nya. tidak etis terlalu lama, ada ribuan orang ingin mencium pada saat yang sama. Bagaimanapun, perasaan kemanusian sosial dalam kondisi apapun harus ditebarkan ke seluruh penjuru Dunia.

Tiba-tiba saya mendengar dari belakang, suara yang sangat keras khas orang-orang Timur Tengah ditunjukan kepadaku, yang kalau diterjemahkan bebas kira-kira begini:

“Hei orang Indonesia, jangan lama-lama di Hajar Aswad, gantian !”

Saya pun mbatin dalam hati dengan menjawab omongan jamaah Umrah tadi sambil tersenyum:

“Mas, saya ini ingin keluar dari Hajar Aswad, tapi ora iso. Kepalaku lengket di Hajar Aswad karena sampaean nekan aku terus”

Semakin lama tekanan semakin kuat. Tubuh ku ketutup oleh jamaah besar-besar. Saya hanya setinggi ketiak mereka. Saya menyadari untuk cepat-cepat keluar dari situ. Saya harus bisa menerobos tekanan lautan manusia yang begitu hebat. Sholawat terus saya kumandangkan dari bibirku. Saya sudah berjanji untuk senantiasa menyanjung nabi atas keagungan dan kemulyaannya.

Waktu itu, saya merasakan oksigin di sekitar Hajar Aswaad habis. Saya terus berusaha keluar. Tiba-tiba ada jama’ah Umrah dari Indonesa, seorang ibu ngomong atau menasehati begini: “Mas, jika ingin keluar, badan berbalik dan jalan nya mundur”. Saya tidak tahu itu teori apa, mungkin maksud baiknya adalah jangan sampai badan kita membelakangi Ka’bah. Akhirnya, saya pun mengikuti nasehatnya. Dan berhasil keluar, lalu saya pun duduk mencari barisan shaf sholat sembari menunggu sholat subuh.

Malam begitu indah. Kedua mata ku yang selama ini penuh pandangan maksiat, oleh Allah dan Rasul nya diberi kesempatan untuk menatap Ka’bah di depan mata ku. Saya duduk, mengatur nafas dan  menunduk bersyukur dengan senantiasa membaca istighfar dan sholawat kepada nabi Muhammad s.a.w.


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Penganut Tarekat dari Sinegal di Masjid Haram

Mon Dec 12 , 2022
Bagikan :Imam Ghozali, Dosen STAIN Bengkalis Hari minggu sore (11 Desember 2022) setelah Sholat Ashar, saya mengelilingi Ka’bah. Ini bukan thawaf, tapi belajar merenung diri dan silaturahim dengan para kekasih Allah dari berbagai belahan Dunia. mereka mempunyai amalan yang beragam untuk merayu Tuhan dan berharap menjadi kekasih-Nya dengan jalan yang […]

Baca Juga