Ketika Buya Hamka Bertemu Kiai As’ad

Bagikan :

Imam Ghozali, Dosen STAIN Bengkalis

Ketika ada berita bahwa Hadratusyeikh As’ad Syamsul Arifin dipromosikan untuk menjadi Ketua Umum MUI Pusat, Dia pun keberatan dengan mengatakan bahwa dirinya belum ulama dan tidak pantas untuk menerimanya. Lalu dia memberi saran agar Buya Hamka yang menjadi Ketua Umum MUI. Sontak saja mendengar ini, Buya Hamka pun menolak: “ Jika Kyai As’ad bukan Ulama, apalagi Saya?”. Kedua orang ini sama-sama menolak. Namun aturan administrasi harus ada yang mengisi jabatan tersebut, akhirnya dengan berat hati Buya Hamka menerima amanah tersebut.

Penulis hanya bisa membayangkan saja, seorang Kyai As’ad menolak menjadi Ketua Umum MUI karena merasa bahwa dirinya bukan ulama. Padahal ayahnya yaitu Hadratusyeikh Syamsul Arifin adalah ulama yang menetap di Perkampungan Mekah sekitar 200 meter dari Ka’bah pada masanya. Di sini juga, As’ad kecil dilahirkan. Keduanya telah meneguk lautan ilmu agama pada para Ulama di Mekah dan kemudian hari merintis Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Asembagus Situbondo dengan jumlah santri saat sekarang ini sekitar 23.000. Ulama, Penulis, Orator Ulung, dan juga seorang pahlawan kemerdekaan yang memberi semangat kepada “arek-arek” Surabaya yang kemudian melahirkan fatwa dari Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari : “ Jihad membela negara adalah wajib.”

Ketawadhuan ini juga bisa dilihat dari generasi selanjutnya. Wahid Hasyim putra dari Mbah Hasyim Asy’ari saat berada di Yogyakarta biasa nya menemui Kahar Muzakir tokoh Muhamadiyah. Mereka ngobrol sambil bergantian “pijet-pijetan”, laksana teman lama yang tidak pernah bertemu. Padahal pada saat berada di Ruang Sidang dan menyikapi kebijakan pemerintah Soekarno serta pendirian partai politik kadang berbeda pandangan yang cukup tajam. Tapi semua selesai di Ruang Sidang. Dan keputusan pemerintah bisa dipastikan ada yang menyenangkan dan tidak menyenangkan bagi mereka berdua, tapi tidak menghalanginya untuk tetap membangun persaudaraan dalam keberagaman.

Tradisi ini dilanjutkan oleh putranya, K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ketika melanjutkan sekolah di Yogya, ibunnya menitipkan Gus Dur ke Kiai Junaidi seorang tokoh Muhamadiyah di zamanya. Kiai ini yang kadang setiap malam mengantar Gus Dur pergi ke Pesantren Al-Munawir Krapyak Asuh KH. Ali Maksum. Dan pagi hari dia sekolah di smep. Disini juga dia berkenalan dengan Sumantri seorang guru yang secara Ideologi sangat bertentangan dengan nya. Namun dengan tetap semangat Gus Dur belajar kepadanya bahasa Inggris, sehingga menguasainya dengan sangat baik.

Kini kisah tersebut sepertinya terpendam dalam manuskrip sejarah. Sebagian bangsa ini sudah mulai melupakan tradisi para ulama yang agung.  Akibatnya generasi saat ini mengambil jalan pintas dengan merefleksikan ulama pada Baju-Baju, Sorban, Gamis yang dijual di Toko pada pasar rakyat. Mereka bisa membeli dengan murah dan bisa tampil seperti ulama. Akhirnya terjadi trasnsaksional, ada penjual dan pembeli. Saat memasuki tahun politik, munculah sebutan Ulama laksana musim Durian. Mereka bertemu, mendekati dan didekati oleh para Pembawa kepentingan. Mereka menggunakan Media Sosial untuk mempromosikan diri ulama dan pengikut banyak. Sebagai wujud legitimasi sebagai ulama, mereka pun berdoa kesuksesan, walaupun sebenarnya kadang dengan doa nya sendiri pun kurang percaya diri akan dikabulkan oleh Allah s.w.t.

Kadang rindu juga dengan ulama atau ustadz-ustadz Kampung yang mungkin belum tercemar oleh limbah politik transaksional. Namun kini sebagian ulama dan ustadz Kampung pun sudah memegang Android dan  bisa mengirim pesan melalui Messenger, bahkan juga main Tik-Tok. Namun demikian, penulis masih percaya bahwa orang-orang yang benar-benar menangis di malam hari agar negara ini aman dan bangsa ini maju dan berkah senantiasa selalu hadir di setiap masa. Namun kita sulit untuk menemui identitasnya. Bukan karena mereka tinggal di Gunung, tapi bisa juga mereka bagian dari teman-teman kita yang kadang punya nama Paimin, Paijo, Marto, yang pendidikannya tidak jelas, yang status sosialnya kadang ditertawakan,  yang status keagungannya sengaja ditutupi oleh Allah, tetapi doa nya sangat mustajab.

Itulah kekasih Allah yang tawadhu


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Islam dan Budaya

Wed Sep 14 , 2022
Bagikan :moreImam Ghozali, Dosen STAIN Bengkalis Pada tahun 1992-1994-an saya pernah tinggal di daerah Plengkung Gading, di dekat Alun-Alun Kidul (Alun-Alun Selatan) Yogyakarta. Lebih tepatnya di antara dua Alun-Alun; Alun-Alun Selatan dan Alun-Alun Utara yang merupakan komplek dekat Keraton Yogyakarta. Sekitar dua tahun tinggal di sebuah Rumah Besar yang konon […]