Ketika Benteng Mulai Rapuh

Bagikan :

Era reformasi 1998 sebenarnya mempunyai semangat yang luarbiasa untuk memperbaiki kehidupan yang lebih baik bukan hanya dalam bidang ekonomi [ yang saat itu sedang sekarat], bukan hanya bidang politik [ yang saat itu otoriter orde baru menjadikan Golkar sebagai pemain utama dan menjadikan tameng untuk tetap berkuasa], tetapi mempunyai semangat untuk membangun kebersamaan dalam berbedaan, perbedaan dalam persatuan dan kesatuan dalam satu negara yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia [NKRI].

Penulis masih ingat, saat masih di Pesantren di tahun 1998-an, para kyai turun gunung untuk menenangkan para santri karena ada peristiwa penculikan para guru ngaji oleh kelompok Ninja. Para santri di gembleng ilmu kanuragan [kesaktian] agar tidak mempan oleh senjata tajam jika tiba-tiba ada Ninja menyerang. Tahun-tahun berikutnya, para kyai pun memberikan pandangan tentang pentingnya politik kebangsaan yang menjadi ciri politik Nahdlatul Ulama [NU] dengan slogan hubul wathan minal iman, mencintai tanah air sebagian dari iman. Saat itu, saya belum mengenal arti slogan tersebut. Ma’lum kehidupan santri hanya memfokuskan ngaji, dan membantu Pesantren dalam pembangunan gedung belajar yang setiap jum’at pagi gotong-royong [ istilah Pesantren “roan”] ke Sungai mengumpulkan batu dan pasir. Santri belum mengenal urgensi kalimat tersebut. Hanya ada kata “sami’na wa atha’na”, dengarkan dan laksanakan perintah guru.

Ketika liburan, Penulis bertemu dengan beragam manusia. Ada anak-anak tidak mau mencium tangan orang tuanya ketika pulang dari kuliah atau belajar agama di tempat tertentu. Ada juga berita, sebuah sekolah di tempat tertentu  mengharamkan pengibaran Merah Putih. Dan di depan mata saya sendiri, ada juga para pegawai tidak mau menghormat Bendera Merah-Putih karena dianggap bagian dari ibadah dan sebagai bentuk menyembah kepada Bendera tersebut. dan kini, setelah semakin banyak membaca referensi, ternyata para dosen, pegawai pemerintahan, dan mahasiswa sampai kepada siswa sudah berani mengatakan bahwa “NKRI itu mengikuti model barat, kafir, toghut dan harus diganti dengan “Khilafah Islamiyah.”

Kini peristiwa-peristiwa di atas bukan hanya sebatas cerita kosong, tapi fakta nyata di depan kita. Saat ini akses internet bisa melihat pasukan-pasukan yang menamakan diri sebagai “Tentara Allah” atau “Tentara Pembela Kalimat Tauhid” karena selalu mengibarkan bendera tauhid saat parade dengan kostum serba hitam memang sangat menimbulkan gambaran yang mengerikan dan menakutkan. Parade ini tentu bukan karnawal anak-anak Taman Kanak-Kanak [TK] sebagaimana pada zaman Orde Baru di bulan Agustus atau disebut agustusan dalam memperingati hari kemerdekaan 1945. Namun parade ini adalah realita dalam rangka menghancurkan NKRI yang merdeka pada 17 Agustus 1945. Parade ini yang terus bergerak, mempengaruhi masyarakat, mahasiswa, siswa untuk ikut gabung dan membangun kekuatan politik bawah tanah yang sewaktu-waktu akan muncul di permukaan tanah untuk melakukan gerakan-gerakan politik baik secara evolusi maupun secara revolusioner.

Pergerakan secara evolusi masuk melalui lembaga-lembaga pendidikan milik pemerintah. Mereka masuk sebagai dosen, guru, rektor, kepala sekolah, pegawai pemerintah, perusahaan-perusahaan milik negara dan posisi-posisi strategis lainya. Mereka bergerak seperti penyakit gatal yang ketika “digaruk”, maka akan gatal di tempat lain, sehingga tidak terasa seluruh tubuh telah terjadi pandemic kudis. Jika ini hanya sebatas penyakit gatal, masih bisa diobati dengan ukuran dosis yang pas. Namun jika meningkat pada penyakit kanker, bisa jadi seluruh tubuh tinggal menunggu kematian. Celakanya jika tubuh itu adalah NKRI. Na’udzubillah mindalik.

Lihatlah di sekitar kita, bagaimana ada seorang ustadz secara terang-terangan menyerang NU dan menyanjung Muhamadiyah sebagai bagian trik politik devide et impera [ politik adu domba]. Lihatlah di youtube ada ceramah memuja-muja pemerintah, tapi disisi lain tidak mau mengibarkan bendera merah putih dan tidak mau memasang gambar garuda Pancasila di kantor-kantornya. Lihatlah, para dosen, para pejabat-pejabat tertentu, dosen dan lain-lain secara instens melakukan kegiatan pengajian terselubung dan secara masif menyebarkan ide-ide atau ajaran-ajaran pengajian mereka di grup-grup WA. Mereka adalah orang yang mendapatkan gaji dari pemerintah, beasiswa dari pemerintah, tapi pada saat yang sama meng-kafir-kan pemerintah. Ironis sekali. Tapi ini sebuah fakta yang ada.

Bagaimana jadinya jika ini sudah masuk ke tubuh Tentara Nasional Indonesia [TNI] dan Polisi Republik Indonesia [Polri]. Apa jadinya jika dalam tubuh tentara telah terbelah paham ideologi yang sebagian ideologi ke-kiri, sebagian lagi ke-kanan, sebagian lagi tetap berpegang teguh kepada Pancasila? Bukankah ini mempunyai potensi berpecah belah bangsa ini? Bagaiman jika benteng dan penjaga negara yaitu tni dan polri sudah terkena doktrin ekstrem kanan-kiri? Bukankah ini sangat mengerikan?

Di saat yang sama benteng NKRI yang berada di masyarakat seperti Muhamadiyah sudah terpapar kadernya kepada ideologi transnasional [ silahkan baca buku Ilusi Negara Islam yang diterbitkan oleh Wahid Institute dan Ma’arif Institute]. Benteng lain yaitu Nahdlatul Ulama di berbagai daerah masih sibuk dengan rebutan selembar kertas yang ironisnya hanya memikirkan [mohon maaf] beberapa lembar “Uang Kertas”. Tentu yang seperti ini adalah oknum. Artinya masih banyak kader-kader NU yang idealis tetap mempertahankan jatidirinya sebagai pewaris ajaran hadratusyeikh KH.Hasyim Asy’ari.

Tentu saja jika kata “oknum” kemudian menjadi suatu yang lumrah dan menjadi budaya, maka nu sebagai benteng nkri pun sedang mengalami persoalan yang serius. Sebab perjuangan mempertahankan NKRI tidak sebatas diserahkan kepada masyarakat yang hanya dijadikan “martil” peperangan, namun militansi para pengurus NU untuk memberi contoh gerakan khaliyah baik dalam wujud ijtihad, jihad dan mujahadah perlu diperlihatkan secara nyata di depan para jamaahnya. Ini merupakan suatu cara dalam rangka membangun ghirah [semangat] kebersamaan sebagai pejuang dan penjaga NKRI dan ahlusunnah wal jama’ah. Jika pengurus masih sibuk selembar kertas dan hanya untuk kepentingan hubud dunia, maka kesakralan NU bisa dipastikan hilang. NU laksana buih dilautan, besar tapi tidak punya kekuatan. Semua karena cinta dunia atas nama agama dan jam’iah.

Semoga muhtamar ke-34 NU nanti melahirkan semangat militansi sebagai penjaga NKRI dan ahlusunnah wal jama’ah.

Al-faqir,

Vijian faiz


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Peran Guru dalam Pengembangan Kurikulum

Fri Nov 26 , 2021
Bagikan :moreOleh: Wirdatul Khasanah NIM : 22190123313 Dosen Pengampu Dr. Salmaini Yeli, M.Ag Dr. Andi Murniati, M.Pd PROGRAM PASCASARJANA PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU 2021 M KATA PENGANTAR Puji syukur atas rahmat Allah SWT, berkat rahmat serta karunia-Nya sehingga makalah dengan judul “Peran Guru […]