Kenapa awal Ramadhan bisa Berbeda?

Bagikan :

Kadang-kadang publik disuguhi pertanyaan dalam alam bawah sadar, dan ada juga menjadi perbincangan ringan tentang persoalan tentang terjadi “perbedaan” dalam memulai puasa bulan romadhan. Ada juga perbedaan permulaan ramadhan juga dikaitkan dengan sesuatu yang berbau politis. Umpamanya ada kalimat begini yang kadang beredar di media sosial: “ puasa saja tidak bisa sama, bagaimana islam bisa bersatu?”.

Ini pertanyaan sederhana, lumrah, dan wajar karena pengetahuan masyarakat tentang teknik penentuan awal bulan ramadhan tidak mengetahui dengan baik. Namun pertanyaan sederhana ini dan sejenis ini menjadi persoalan serius ketika sudah dibumbui oleh muatan politik dan disampaikan secara berantai melalui WA Grup, FB, IG, Twitter dengan melakukan propaganda untuk tujuan politik tertentu yang kemudian melahirkan kalimat yang sangat bombastis. Umpamanya seperti ini: “ jika Islam bersatu, maka lebaran pasti sama”, atau “ hanya dengan tegaknya syariat Islam, Ramadhan dan Idul Fitri bisa bersatu.”

Mungkin orang tersebut tidak paham atau sebenarnya paham tapi menyembunyikan kepahaman untuk suatu tujuan tertentu. Mungkin juga orang tersebut tidak memahami bahwa bumi tidaklah seperti uang koin seribu rupiah yang semua datar dan sama. Padahal walaupun datar sekalipun ketika matahari muncul di ufuk timur, maka tanah yang datar disebelah timur pun mendapatkan cahaya yang berbeda dengan yang berada di barat. Perbedaan ini pun sudah mempengaruhi perbedaan jam bukan? Itu sebabnya, sering propaganda politik menghilangkan akal sehat, yang penting tujuan tercapai, apakah benar atau salah, itu urusan nanti.

Metode Rukyatul Hilal

Metode rukyatul hilal adalah aktivitas pengamatan hilal dengan melihat secara langsung atau menggunakan teleskop. Hilal adalah nampaknya bulan sabit muda pertama setelah terjadinya konjungsi ( ijtimak atau bulan baru) di arah matahari terhenam yang dijadikan acuan jatuhnya awal bulan dalam kalender hijiryah termasuk ramdhan.

Pengamatan hilal yaitu pada hari ke-29 untuk menentukan apakah hari berikutnya sudah terjadi pergantian bulan atau belum. Dalam metode rukyat, hilal yang berada di bahwa ketinggian dua derajat mustahil diamati dengan mata, namun jika lebih dari dua derajat maka hilal memungkinkan untuk dilihat dengan mata telanjang.

Jika menggunakan metode rukyat, maka visual hilal yang teramati akan menjadi tanda bahwa besok hari akan jadi hari pertama bulan dalam kalender hijriah. Namun jika hilal tidak terlihat maka disepakati bahwa lusa adalah waktu jatuhnya awal bulan, dan berlaku baik untuk penentuan awal bulan Ramadhan dan bulan-bulan lain termasuk bulan syawal.

Nabi Muhammad s.a.w bersabda:

“Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah (mengkahiri bulan ramadhan) karena melihat hilal ( bulan syawal ). Kemudian apabila kamu terhalang awam mendung, maka sempurnakanlah bilangan bulan sya’ban menjadi 30 hari ( H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah).

Nabi Muhammad s.a.w bersabda:

“Janganlah berpuasa sampai kamu melihat hilal ( bulan Ramadhan) dan janglah berbuka sampai kamu melihatnya (hilal di bulan syawal). Kemudian apabila kamu terhalang awam mendung, maka kadarkanlah untuknya” ( H.R. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Umar).

Metode Hisab

Metode hisab merupakan serangkaian proses perhitungan yang salah satunya bertujuan menentukan posisi geometris benda langit untuk kemudian mengetahui waktu di mana benda langit menempati posisi tersebut, atau mengetahui apakah suatu siklus waktu sudah mulai atau belum.

Cara menentukan awal bulan, bahwa hisab hakiki dengan acuan ijtimak atau konjungsi sebagai batas kulminasi awal dan akhir bulan Qamariyah. Metode hisab menggunakan tiga kriteria yaitu terlah terjadi ijtimak bulan-matahari, ijtimak terjadi sebelum terbenam matahari, dan bulan di atas ufuk atau belum terbenam pada saat matahari terbenam.

Kemudian hilal dianggap sudah wujud (terlihat) apabila matahari terbenam lebih dahulu daripada terbenamnya hilal walaupun hanya berjarak kurang dari satu menit.

Kesimpulan

Berdasarkan paparan di atas, baik metode rukyat hilal (melihat bulan) dan hisab adalah metode ilmiah untuk menentukan awal bulan termasuk awal bulan Ramadhan. Perbedaan metode ini memungkin berbeda dalam menenghasilkan kesimpulan untuk menentukan awal bulan Ramadhan. Artinya, perbedaan ini adalah perbedaan ilmiah yang secara konstitusi sudah jelas kebenaran legalitas formalnya dari Nabi bahwa : Orang yang berijtihad benar mendapatkan dua pahala, dan berijtihad salah mendapatkan satu pahala. Baik metode rukyat atau hisab itu ijtihad, bukan politis. Itu sebabnya perbedaan dalam menentukan awal bulan puasa adalah dibenarkan secara ilmiah, dan jangan dipolitisir untuk kepentingan politik dan melakukan propaganda serta menyebarkan kebencian terhadap pemerintah.


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Materi Filsafat ilmu ke-6

Wed Apr 6 , 2022
Bagikan :moreDASAR EPISTEMOLOGIS Menurut Jujun S. Suriasumantri, dasar epistemologis yaitu metode atau cara-cara mendapatkan pengtahuan yang benar. Kemudian Amsal Bakhtiar menjelaskan, emistemologis yaitu cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengadaian dan dasar-dasar serta pertanggungjawaban atas pertanyaan mengenal pengetahuan yang dimiliki. Pengetahuan yang diperoleh manusia melalui akal, indra, […]