Kenangan bersama Tabrani Rab

Bagikan :

Beberapa waktu lalu, saya menulis kenangan bersama Anas Ma’mum dengan judul “Harimau dan Buaya di Bagansiapiapi”. Tulisan ini merupakan catatan kecil yang membekas tentang pribadi Anas Ma’mun sebagai sosok orang tua yang punya kemauan keras dan energik dalam memajukan kabupaten Rokan Hilir secara khusus dan Propinsi Riau secara umum. Benar, tidak tidak ada yang sempurna pada diri manusia, termasuk Anas Ma’mun. Namun para sesepuh telah mengajarkan  “Mikul Duwur Mendem Jero”, yang mempunyai arti senantiasa menyebut kebaikan seseorang dan menutup rapat-rapat keburukan orang sebagai cara untuk senantiasa berfikir positif maju terus dalam segala kekurangan. Biarkan sejarah yang mencatat segala sisi kehidupannya, dan sebagai generasi yang memandang jauh kedepan, mencatat seluruh kebaikan adalah jalan kearifan dalam menyongsong kehidupan yang lebih baik.

Hal yang sama pun saat bertemu dengan Prof. Tabrani Rab. Saya tidak mengenalnya secara fisik, namun mengenalnya secara spiritual. Tulisan-tulisanya sangat membekas dan menghentak relung-relung kalbu tentang arti sebuah keadilan, kemanusiaan, dan kemakmuran yang menjadi tema besar di Media Massa yang terkenal yaitu Riau Pos. saya berfikir, orang ini mungkin adalah orang yang sangat keras kepala, suka “ngeyel”, susah di atur dan berjiwa merdeka tanpa ada ikatan-ikata forma yang mengaturnya. Namun saat bertemu di acara pelantikan anas ma’mun pada tahun 2012 di Bagansiapiapi, dan saya duduk bersebelahan dengannya, ternyata memakai baju sangat rapi; Jaz hitam, Baju putih dan Celana hitam, tapi tidak memakai Songkok. Rambut tertata rapi. Saya di sebelahnya kadang tersenyum saat dia menatapku. Hidungnya mancung, matanya tajam dan sedikit bicara. Itu kesan saya, sangat kontras antara sosok asli dengan ide-ide besarnya yang sangat progresif sekali melebihi zamannya. Tulisannya seperti “Dentuman Mercon” di tengah malam. Apapun yang ditulis selalu akan menggema dan menggetarkan gelombang-gelombang suara sampai ke Jakarta.

Saya juga tidak tahu apakah karena suara Mercon terlalu sering berbunyi menyebabkan orang Jakarta menjadi tidak kaget, atau karena jarak nya cukup jauh sehingga getaran-getaran melemah saat sampai Jakarta? Pertanyaan-pertanyaan ini bagi Tabrani Rab tidak penting. Apakah orang akan mengikutinya atau tidak itu nomor sekian. Namun tugas terpenting sebagai seorang pemikir, penulis dan pejuang sebuah kebenaran dan keadilan adalah mengumpulkan kata-kata yang berserakan untuk menjadi suatu kekuatan besar sebagai jalan perubahan. Mungkin pada zamannya belum memberi manfaat karena memang kondisi SDM dan budaya sistem pemerintahan masih sedemikian kuat ketundukan pada sistem “Asal Bapak Senang”. Paling tidak, dia telah meninggalkan warisan sejarah bahwa di Riau pernah ada orang yang telah menyuarakan makna keadilan dan persamaan agar putra-putri Riau bisa berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan masyarakat Indonesia lainya.

Tentu saja tulisan-tulisan Tabrani Rab bukan sebatas hanya tersimpan dalam file-file sejarah tanpa makna. Saya percaya, bahwa regenerasi pemikiran selalu saja muncul dan membuka pemikirannya dalam ruang diskusi dan gerakan-gerakan yang memang mempunyai tujuan mulia tanpa ada kepentingan-kepentingan duniawiyah dalam arti sempit. Apa arti sebuah jabatan dan kekayaan yang hanya membelenggu dirinya dan tanpa memberi manfaat kepada orang lain. Ini hanya pikiran kolonialis. Dia justru menempatkan cara berfikir merdeka yang melihat jabatan dan segala kekayaan sepenuhnya untuk kesejahteraan bersama. Di terus menyuarakan keadilan kepada Pemerintah. Bisa jadi pengambil alihan PT Cevron Pacific Indonesia (CPI) oleh PT Pertamina melalui Unit Usaha PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) per 9 Agustus 2021 buah dari tulisan Tabrani Rab?

Saya memang tidak harus setuju semua tulisan dari Tabrani Rab terutama tentang kemerdekaan dan melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bisa jadi dia pun tidak berniat untuk melepaskan diri dari NKRI. Mungkin dia hanya geram dan mewujudkan rasa ngambek seperti seorang Istri saat tidak diberi Belanja Dapur sehingga minta diantar ke rumah orang tuanya. Tapi saat diberi uang belanja, Istri pun tersenyum. Ternyata ungkapan kebencian kadang mempunyai arti rasa cinta yang mendalam. Dan Tabrani Rab telah mampu merangkai kata-kata yang terlihat kontroversi dalam bingkai NKRI yang bukan karena benci tapi karena rasa sayang terhadap bangsa ini untuk tetap konsisten menegakan keadilan dan persamaan derajat untuk seluruh warga negara Indonesia. Sebagai penutup saya mengucapkan selamat jalan Prof Tabrani, semoga Allah menempatkan tempat mulia di sisi-nya. Amin.

Bengkalis, 15 Agustus 2022

Imam Ghozali


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Kemerdekaan kaum Pinggiran

Tue Aug 16 , 2022
Bagikan :moreBagi Sartuni seorang Petani memahami arti kemerdekaan berbeda dengan para ilmuwan dan orang-orang Kampus yang sering disebut sebagai kaum Intelektual. Sartuni hanya seorang Petani Kentang di Wonosobo yang hari ini sedang merasa menderita karena gagal panen akibat dingin yang sangat ekstrim. Kemerdekaan diartikan dengan sangat sederhana, yaitu apabila tanaman […]