Kemerdekaan kaum Pinggiran

Bagikan :

Bagi Sartuni seorang Petani memahami arti kemerdekaan berbeda dengan para ilmuwan dan orang-orang Kampus yang sering disebut sebagai kaum Intelektual. Sartuni hanya seorang Petani Kentang di Wonosobo yang hari ini sedang merasa menderita karena gagal panen akibat dingin yang sangat ekstrim. Kemerdekaan diartikan dengan sangat sederhana, yaitu apabila tanaman Kentang atau Padi di Sawah melimpah dan bisa dijual dengan harga yang memuaskan. Sang Istri yang berada di sampingnya pun terlihat sedih. Namun karena pernah belajar agama kepada Kiai Zaidun, sang istri masih bisa bersikap sabar dan memberi semangat kepada suaminya.

“ Semua sudah diatur oleh Allah, Mas” kata Surtini

Sartuni mengangguk tanda setuju. Pandangan mata terus melihat hamparan Kebun Kentang yang berada di depannya sambil menyedot dalam-dalam Rokok Gudang Garam Merah. Walaupun masih pagi, Sartuni sudah merokok. Sebab Rokok di daerah dingin sangat bermanfaat untuk menjaga tubuh tetap hangat dan menjaga kesehatan. Maka tidak heran apabila, anak-anak kecil dan berangkat Sekolah di daerah dingin kadang dianjurkan merokok agar suhu badan terasa panas.

“Paman Parmin di Riau pun sama, Sawit harga nya lagi turun Mas” kata Surtini

“ Iya dik, semalam dia nelpon saya. Kelihatannya memang semua sedang mendapat cobaan gagal panen” jawab Sartuni.

“ Sudah 77 tahun kita merdeka, tapi masih saja harga Sawit naik turun” kata Sartuni

“ Saya kira tidak ada hubungan dengan kemerdekaan Mas. Contohnya kita punya Sawah. Padi tahun kemaren kurang bagus karena Hama Wereng. Tapi tahun ini hasil nya sangat baik. Bagus tidaknya tergantung pada kondisi alam. Contoh yang nyata, tanaman  Kentang kita sekarang gagal karena cuaca yang sangat dingin” jawab Surtini.

Sartuni diam. Ingin membantah argument istrinya pun percuma. Toh apa yang disampaikan benar juga. Namun menurut Sartuni, negara harus hadir menjaga harga Sawit, Kentang, dan lain-lain agar pendapatan petani naik dan membantu hidup sejahtera.

“Apapun kondisi kita saat ini, harus tetap bersyukur. Jika dibandingkan dengan kondisi orang tua kita dulu, saat ini jauh lebih baik. Dulu waktu kita masih kecil, setiap hari hanya makan “gaplek” tanpa lauk, hanya dioleh “jelantah” dan “garam” sudah terasa enak” kata Surtini menghibur diri.

“Benar juga dik, mungkin kita jarang bersyukur, sehingga mendapat cobaan gagal panen Kentang seolah-olah belum pernah mendapatkan kenikmatan sama sekali” jawab Sartuni.

Mereka pun mulai bisa menerima kegagalan panen kentang tahun ini. Kenangan sejarah masa lalu dan saat ini ikut menetralisir suasana batin semakin dewasa. Mereka teringat saat melihat tetangganya yang hidupnya sangat mewah setelah bekerja di Arab Saudi menjadi Tenaga Kerja Indonesia [TKI]. Mereka pun tergiur melihatnya. Waktu itu ingin menjual tanah nya untuk modal pergi ke Arab Saudi. Karena orang tuanya tidak setuju, akhirnya mereka merawat Kebun warisan orang tua. Suka duka menjadi petani telah menjadi makanan sehari-hari. Sudah merasakan makna kehidupan yang ternyata tidak selamanya mulus, tetapi juga kadang penuh dengan ujian hidup. Karena ini justru menjadi bisa belajar syukur atas segala kejadian yang menimpanya.

Kini Sartuni dan Surtini belajar dari dari kejadian yang menimpa tetangga yang sudah beberapa bulan tidak lagi pergi ke Arab Saudi. Rumahnya paling bagus di desa tersebut seperti museum. Sepi dan sering tertutup seperti tidak berpenghuni. Konon sejak teman-temannya dan para aktivis yang terlibat dalam gerakan pemberontakan dan masuk dalam daftar gerakan khilafah di hukum pancung di Arab Saudi, kini dia pun sudah tidak lagi pergi ke Arab Saudi. Dia terlihat asing di kampung sendiri.

Sartuni dan Surtini bersyukur. Kemerdekaan tidak harus selalu diidentikan dengan kemewahan harta dan kekayaan. Kenyataannya orang-orang yang sudah mendapatkan kenikmatan sebagaimana warga Arab Saudi pun tetap tidak puas dan melakukan gerakan-gerakan mengatasnamakan agama; mengganti ideologi negara yang sekarang dianggap ideologi sesat. Padahal Ideologi negara Arab sudah diidentikan dengan ideologi Islam pun masih dikafirkan oleh para pengusung khilafah. Imbasnya pemerintah Arab Saudi pun menangkap mereka dan menghukum Pancung.

Sartuni dan Surtini bersyukur. Mereka memang tidak mengerti tentang persoalan ideologi dan arti dari sebuah kemerdekaan para kaum intelektual. Mereka hanya berfikir bahwa hidup yang baik adalah apabila ada kerukunan, bisa beribadah, bisa bekerja, dan bisa silaturahim dengan keluarga dan masyarakat. Itulah arti kemerdekaan yang menurut mereka sangat berharga. Sebuah makna kemerdekaan yang mungkin hari ini sudah mulai tergerus oleh hedonisme dan eklusifitas pemahaman agama yang sangat kering akan nilai-nilai kemanusiaan.

Selatpanjang, 16 Agustus 2022

Imam Ghozali


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Merah Putih di Ngruki

Thu Aug 18 , 2022
Bagikan :moreImam Ghozali [Dosen STAIN Bengkalis] Ada sesuatu yang istimewa pada hari ulang tahun kemerdekaan ke-77 tahun ini. Bukan karena penyanyi cilik Farel Prayoga yang berhasil membuat para pejabat negara ikut bergoyang gembira, atau juga bukan karena Paskibra Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes tetap melakukan pengibaran Bendera Merah-Putih di bawah guyuran […]