K.H.R.Munajat, Ayahku dan Guruku-Bagian I

Bagikan :

Pada jam 07.14 menit, tanggal 01 September 2021, Ahmad adik saya menelpon. Isinya bapak telah kepundut teng ngersani gusti Allah. saya tidak kaget. karena memang sebelumnya bapak sudah sakit akibat ditabrak oleh sebuah Truk, saya bapak naik mobil pribadi, mobil sedan berwarna merah. waktu itu, bapak sebenarnya tidak ada persoalan serius. adik saya, agus justru yang tanganya patah, lalu dibawa ke pengobatan tradisional: sangkal putung. setelah kejadian ini, saya sering sms adik-adik saya, ahmad dan nunung. saya juga nelpon mas hamim [ abang saya kontan dari ibu nomor dua], bertanya keadaan bapak pasca kecelakaan. rata-rata menjawab, tidak ada persoalan, masih sehat dan bahkan masih bisa menjadi Imam saat sholat berjamaah.

Namun beberapa hari kemudian, sekitar 15-an hari, Istri Mas Khanifudin [ anak kedua dari istri pertama bapak ] menelpon saya sambil menangis. dia memberi informasi bahwa mbah kakung [sebutan bapak, anak-anak pun memanggil dengan sebutan mbah kakung karena sejak dulu para tamu yang datang selalu memanggil embah, sehingga anak-anak pun ikut memanggil mbah], sudah tidak bisa berdiri, sudah tidak bisa duduk, dan sudah terbaring. “Mbah sudah kritis” , katanya.

Saya bingung dan sedih. ingin pulang ke Banyumas-Jawa Tengah, tapi saya melihat keadaan istri dan anak-anak di Riau belum sehat, anak-anak masih sakit. saya tidak bisa meninggalkan istri dan anak-anak berada di rumah sendirian. selain itu, saya pun berfikir, bapak sudah banyak yang merawat di Jawa. sebab seluruh anak bapak [ dari empat ibu ] berada di Jawa. hanya saya yang berada di Riau. Ibu saya pun menyarankan tidak perlu pulang jika memang masih belum bisa. sebab menurut ibu, yang anak-anak dan ibu-ibunya serta menantu-menantu sudah merawat bapak setiap hari. Saya sedih, tapi tetap bersyukur seluruh anak-anak bapak bisa berkumpul dan merawat bapak. Saya pun mendoakan yang terbaik untuk bapak.

Namun Tuhan berkehendak yang terbaik. Tuhan memanggilnya pada hari rabu, sekitar jam 07.00. jam 07.14 saya mendapat telpon dari Ahmad. saya hanya menjawab : iya. lalu saya pun menelpon kawan-kawan yang ada di Kabupaten Kepulauan Meranti untuk menguruskan tiket pesawat. hari itu juga, saya pun terbang dari bandara Pekanbaru-Jakarta. lalu saya lanjutkan naik kereta api eksekutif melalui jam 20.00 WIB, sampai Purwokerto jam 01.30 dinihari, lalu meluncur ke Banyumas sekitar jam 02.00 dinihari sudah sampai di rumah.

Saya berusaha jangan sampai menangis dihadapan ibu. saya tidak ingin ibu bertambah sedih gara-gara tangisan saya. saat ibu membuka pintu, saya tetap tersenyum walaupun guratan sedih tetap tidak bisa dihilangkan dalam hati. begitu juga ibu, juga sangat sedih ditinggal oleh bapak. Kami semua sangat sedih. namun, saya melihat ibu sangat tegar menghadapi kenyataan yang sangat pahit. Ibu tidak meneteskan air mata. dia pun mengatakan kepadaku, bahwa semua kejadian ini sudah di atur oleh Allah SWT. Sedih itu pasti, tapi berlebihan sedih dikhawatirkan menjadi tidak terima atas keputusan Allah SWT.

Subhanallah, ibu saya benar-benar sudah memahami arti kehidupan, darimana manusia, dan akan kemana manusia hidup.


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Mengenal Syiah-Bagian 1

Tue Nov 9 , 2021
Bagikan :moreSyi’ah lahir karena ada rasa cinta mendalam terhadap Ali bin Abi Thalib sebagai ekspresi kecintaan terhadap keluarga Nabi Muhammad s.a.w. Hal ini karena sahabat Ali bin Abi Thalib menikah dengan putri nabi yang bernama Fatimah, seorang putri yang sangat dicintai oleh-nya. Karena kedalaman cinta kepada Fatimah, Ali bin Abi […]