Islam dan Budaya

Bagikan :

Imam Ghozali, Dosen STAIN Bengkalis

Pada tahun 1992-1994-an saya pernah tinggal di daerah Plengkung Gading, di dekat Alun-Alun Kidul (Alun-Alun Selatan) Yogyakarta. Lebih tepatnya di antara dua Alun-Alun; Alun-Alun Selatan dan Alun-Alun Utara yang merupakan komplek dekat Keraton Yogyakarta. Sekitar dua tahun tinggal di sebuah Rumah Besar yang konon ceritanya juga masih kepunyaan keluarga Kraton. Rumah yang besar tersebut ditunggu oleh seorang Janda berumur 90-an, dan seorang anak laki-laki beserta istrinya. Sedang anak-anak lainya sudah bekerja di berbagai tempat. Karena Rumahnya besar, maka di sewakan. Di tengah-tengah Rumah ada ruang kosong sekitar persegi empat berukuran lima meter, yang lantainya 50 cm lebih tinggi dari yang lain. Bisa jadi itu dulu-dulunya pernah menjadi tempat istimewa. Jika dilihat dari ciri-ciri Keraton memang modelnya begitu, rumah nya besar, lantai nya luas bertingkat-tingkat. Mungkin untuk menunjukan tingkat strata sosial tinggi.

Jika saya ingin ke Kamar, biasanya bertemu dengan janda tua tadi, duduk di Kursi. Saya sering mendengarkan syi’ir-syi’ir Jawa yang berbunyai antara lain “ Eling-eling dumateng Gusti Allah, kito sedoyo bade wangsul wonten ing ngarsanipun” ( Selalu ingat kepada Allah, kita semua akan kembali kepada-Nya). Ini jadi mengingatkan saya pada Lagu Sunan Kalijaga yang menyebarkan agama pada abad ke-16 yang potongan lagunya kurang lebih begini: “ Lir ilir, lir ilir…tandure wes sumilir…tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar”( Bangunlah, tanaman sudah bersemi telah menghijau laksana pengantin baru). Lagu ini kemudian dipopulerkan oleh Cak Nun dengan grup Kiai Kanjeng nya. Insya allah pada kesempatan lain penulis akan membahas lagu tersebut.

Ketika saya berjalan-jalan di Jawa Timur ke daerah Banyuwangi bertemu orang yang sudah tua menasehati saya bahwa hidup “Kudu Eling Dumaten Sang Hiyang Widi” ( Hidup harus ingat kepada Sang Pencipta atau Allah S.W.T). Ketika saya jalan-jalan ke Pesantren Syafi’iyah Salafiyah, menemukan kitab karya KHR.As’ad Syamsul Arifin berbahasa Madura berjudul “Risalah Tauhid” ( Judul ini mirip dengan Risalah Tauhid nya Muhammad Abduh, tapi isinya berbeda), pembahasanya menggunakan bahasa Madura seperti “aqoid saeket” dengan merujuk pada Kitab Tauhid seperti Aqidatul Awam, Tijan Darori, Minhajul ‘Abidin, Ihya Ulumuddin Dan Al-Hikam. Karena berbahasa Madura, kadang saya kurang paham. Padahal saya sudah berkumpul dengan orang Madura cukup lama sekitar 3 tahunan.

Ini berbeda ketika saya masuk ke daerah Riau. Saya menemukan Buku Tauhid berbahasa melayu. Saya masih ingat sampul warna bukunya merah. Tulisanya menggunakan Arab Melayu yaitu tulisan Arab tapi bunyinya berbahasa Melayu. Bagi saya tidak mengalami kesulitan membacanya. Sebab dulu ketika di Pesantren sudah biasa menulis atau mengartikan bahasa Arab dengan huruf Pegon atau Arab Gandul ( yaitu mengartikan bahasa Arab dengan tulisan Arab tetapi bunyinya bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, menulisnya dari atas ke bawah agak miring, itu sebabnya dikatakan tulisan Arab Gandul. Sedangkan yang diartikan biasanya tidak ada harokatnya, disebut Arab Gundul. Tulisan aslinya disebut Arab Gundul, sedang tulisan Arab untuk mengartikan disebut Arab Gandul. Ini hanya ada di Indonesia, di Arab tidak ada, agak susah dijelaskan, tapi kalau melihat langsung paham).

Dari sebagian kecil contoh di atas peran bahasa sebagai bagian bagian dari budaya mempunyai konstribusi yang sangat besar dalam penyebaran agama Islam ke seluruh pelosok Nusantara. Dari bahasa daerah yang mempunyai kekhasan dalam mengekspresikan pola hidup yang kemudian diwarnai oleh ajaran-ajaran Islam juga melahirkan suatu tradisi keislaman yang beragam dari satu daerah ke daerah lainnya. Mereka bisa mengamalkan ajaran agama dengan baik berangkat dari bahasa ibu yang mereka miliki. Itu sebabnya, para ulama dulu senantiasa menjaga bahasa daerah sebagai daerah sebagai simbol simbol penyatuan antara ulama dan masyarakat. Mereka juga mendirikan lembaga pendidikan seperti Pesantren kadang menggunakan nama desa nya atau daerahnya atau tanaman-tanaman yang menjadi ciri khas daerah tersebut. ini artinya apa? Bahwa agama hadir selain sebagai petunjuk keesaan kepada Allah tetapi juga petunjuk bagi manusia bahwa Tuhan menjadikan manusia sudah dengan desain budaya yang sempurna, baik bahasa, pola makan, cara bergaul dan perangkat-perangkat budaya lainya. Ketika mereka bertemu dengan yang lain, maka akan semakin memperkaya budaya melalui proses “lita’arofu”, dari sini kemudian terbangun persaudaraan yaitu beraudara dalam satu iman dan agama tetapi mempunyai beragam budaya yang berbeda-beda dengan hidup berdampingan. Jadi Islam sebagai umatan wahidah bukan berarti harus merubah kepribadian kita mengikuti Budaya Arab yang kemudian memaksa diri kita yang tidak berjenggot harus berjenggot dengan menyiram wajah nya dengan Minyak Firdaus, sehingga orang tua nya stress gara-gara anaknya mempunyai jenggot yang tidak beraturan. Itu tidak perlu, sebagaimana orang-orang Arab pun tidak perlu memakai Blangkon atau Baju Kurung Melayu. Bisa pasti di tertawakan di Tanah Arab. Tuhan telah memberi suatu anugerah kepada kita berupa bahasa dan budaya bukan untuk dihancurkan, tapi dilestarikan agar karya Tuhan yang beragam tersebut tidak hilang. Kesatuan dan persatuan sebagai umatan wahidah adalah persatuan dan kesatuan dalam tauhid, ibadah dan akhlak. Jika kamu orang pedalaman dan mempunyai akhlak yang baik, tetap saja menjadi penghuni Surga Firdaus dan tidak harus menunggu persis seperti orang Arab dalam bentuk budaya, rupa dan bahasa. Tidak perlu. Bukankah orang yang dekat dengan Allah pada takwa nya?


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Demi Waktu

Fri Sep 16 , 2022
Bagikan :moreImam Ghozali, Dosen STAIN Bengkalis Diantara tulisan yang menyentuh hati saya yaitu karya Daisaku Ikeda, Presiden Osaka Gakkai Internasional. Saat berdialog dengan Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Dia menceritakan betapa berharganya arti sebuah waktu. Sebagai seorang Penulis, Ikeda pernah mengalami suatu masa di hari tuanya dengan fisik yang sudah mulai […]