Ingat Muktamar, Ingat Gus Mus

Bagikan :

Jika merujuk ucapan Gus Mus bahwa “Orang NU adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan hidup di Indonesia”, adalah benar adanya. Jauh sebelum adanya Muhamadiyah, cikal bakal NU berasal dari Pesantren-pesantren yang didirikan oleh para ulama yang disebut Wali Sanga. Pesantren menjadi basis perkembangan Islam washatiyah yang akomodatif terhadap keberagaman budaya, suku, dan agama. sehingga dalam perkembangan selanjutnya, Islam model Wali Sanga ini bisa diterima oleh masyarakat yang beragam. Dan uniknya, penganut agama Hindu dan Buda pun dengan suka rela berduyun-duyun masuk agama Islam sebagaimana terjadi pada masa nabi Muhammad s.a.w yaitu peristiwa fathul makah [terbukanya kota makah atau kembalinya kota makah] ke tangan umat Islam.

Jika menggunakan kalkulasi sejarah, ada perbedaan watak orang Arab dan orang Indonesia. jika dalam sirah Islam, kita sering mendengar zaman jahiliyah yang menggambarkan rendahnya kemampuan intelektual masyarakat Arab dan kemampuan menjaga nilai-nilai kemanusian dan moralitas mereka. Gambaran masyarakat Arab waktu itu direkam dalam al-Qur’an Hadist seperti menyakiti anak yatim, membiarkan penderitaan rakyat kecil, suka membunuh anak-anak perempuan, berjudi, berzina, dan peperangan antar suku dalam rangka untuk menjaga kehormatan dan kekuasaan serta kekayaan.

Hal yang sama juga berlaku pada masyarakat Indonesia dari dulu sebagaimana terjadi pada bangsa-bangsa lain pada masa jahiliyah. Ada sisi jahiliyah yang mirip-mirip sebagai watak dasar manusia yang pada dirinya ada nafsu. Perbedaannya adalah pengaruh letak geografis.  Bisa jadi ketika daerah Arab seperti Indonesia mempunyai budaya seperti Indonesia, begitu juga daerah Indonesia seperti Arab, bisa jadi orang Indonesia mempunyai watak keras sebagaimana orang Arab.

Dari sini bisa dipahami bahwa letak geografisnya sangat mempengaruhinya. Jika Arab daerah yang tandus [ kadang satu tahun hanya 10 hari hujan] sangat berpengaruh pada lambatnya perkembangan budaya, cara pandang kehidupan yang keras untuk bisa bertahan hidup dan mempertahankan sumber-sumber mata air. Sedangkan Indonesia daerah yang mengenal dua musim berupa kemarau dan penghujan serta daerah kepulauan telah melahirkan daya kreasi yang sangat tinggi serta bahasa daerah yang sangat banyak. Dengan demikian, masyarakat Indonesia dari sisi ini lebih mudah menerima keberagaman dibandingkan dengan Arab. Akibatnya, sangat mudah terjadi akulturasi budaya melalui perkawinan, berdagangan dan aktivitas lain yang mempertemukan mereka.

Dari sini kita bisa memahami apa yang dikatakan oleh Gus Mus bahwa ketika agama Islam yang bercirikan NU hilang, maka hilanglah wajah Islam ke-Indonesia-an, yaitu wajah Islam yang sangat moderat dengan sangat terbuka menerima keberagaman dan menghormatinya dalam kehidupan sehar—hari sehingga lahir istilah “Bineka Tunggal Ika.” Dari sini bisa dimengerti bahwa ayat al-Qur’an sama, Hadistnya sama, tapi pemahaman esensi dan penerapan dalam kehidupan bisa berbeda-beda. Contoh kecil saja ketika menghormati orang yang lebih tua, bangsa Arab dengan cara memegang kepala dan jenggotnya, sedangkan masyarakt Indonesia dengan mencium tanganya.

Saat ini sekitar 194 negara di belahan dunia sudah ada NU nya, baik secara kultural maupun structural. NU mendunia, tapi tetap ciri khas ke-Indonesia-an, yaitu tetap memakai peci hitam, sarungan, dan wawasan keislamannya tetap wawasan watak orang Indonesia yang diajarkan oleh para leluhur dari wali sanga. Ini berbeda dengan ormas yang sudah almarhum seperti HTI dan FPI. Kedua ormas ini lahir dari Indonesia tapi ingin mengubah watak Islam keindonesiaan dengan merujuk pada dalil-dalil agama yang dipahami berdasarkan tafsir-tafsir mereka yang sangat eklusif. Akibatnya, mereka tampil laksana orang timur tengah dan mencoba membangun budaya Arab dengan merendahkan budaya-budaya asli Indonesia. Akibatnya terjadi pengkultusan budaya Arab yang dianggap sakral, suci dan lebih terlihat sholeh dan berkualitas takwanya. Paham yang sangat tidak sesuai dengan esensi Islam itu sendiri.

Tentu saja, Indonesia sangat terbuka menerima siapapun menjadi warga negara Indonesia dengan prosedur administrasi yang benar. Namun sebagaimana yang telah dicontohkan oleh para pendakwah Islam dulu, mereka berasal dari luar Indonesia yang kemudian menjadi orang Indonesia dengan karakter masyarakat Indonesia. Namun, jika tinggal di Indonesia masih merasa superioritas atas nama keturunan etnis tertentu, maka bisa dipastikan menimbulkan kegonjangan di tengah-tengah masyarakat.

Masihkah Muktamar NU ke-34 memegang amanah dari Gus Mus ?


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Mengetuk Pintu Langit, Berharap Berkah Muktamar NU ke-34

Wed Dec 22 , 2021
Bagikan :moreLampung hari ini dan beberapa hari kedepan mendapat keberkahan yang luarbiasa akibat adanya muktamar NU ke-34. Mulai dari hotel berbintang, penginapan bertambur bintang milik orang-orang kampong yang saat hujan bocor, dan orang-orang yang berjualan di pinggir-pinggir jalan pun kecipratan keberkahan. Semua bercampur jadi satu, seperti sebuah kota modern yang […]