Ibadah Qur’an dan Kesadaran Sosial

Bagikan :

IBADAH QUR’AN DAN KESADARAN SOSIAL 

Idul Adha atau sering disebut dengan Lebaran Qurban. Umat Islam pada hari tersebut melaksanakan Ibadah Qurban sebagai rasa ketulusan beribadah kepada Allah Swt. Sebab sering manusia ketika dituntut untuk melakukan ibadah yang bersifat material atau harta benda, sering ada perasaan “sayang” dan merasa “rugi” apabila sebagian hartanya dikeluarkan melaksanakan perintah-Nya. Sifat dasar manusia yang “hubuddunya” (cinta dunia) ini sering menghalang-halangi untuk melakukan ibadah  dengan ikhlas.  Manusia sering menghitung kenikmatan yang dipunyai pada “keakuan” dalam hal berusaha dan mendapatkannya. Sering melupakan unsur campur tangan Allah atas kenikmatan yang didapatkan. Ini kemudian menjadi Ibadah Qurban sesuatu yang berat dilakukan oleh umat Muslim. 

Jadi hari Raya Idul Adha sebenarnya peringatan dari Allah Swt kepada Umat Muslim bahwa manusia yang baik adalah yang bermanfaat bagi orang lain(dalam kontek agama). Kebaikan tersebut harus membekas pada masyarakat sekitarnya, antara lain dengan mengorbankan sebagaian hartanya sebagai bagian ibadah yang dianjurkan oleh Sang Khaliq. Dasar ini yang kemudian tergerak untuk menulis makna Ibadah Qurban sebagai momentum kebangkitan Umat Islam.

Dasar Hukum Ibadah Kurban 

Dasar  yang diwajibkan ibadah kurban yaitu Firman Allah: “Sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena tuhanmu;dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (Al-Kautsar:1-3).  Nabi saw bersabda: “Dari Abu Hurairah Ra, Ia Berkata: Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang mempunyai kecukupan untuk berkurban dan ia tidak suka berkurban, maka janganlah dekat-dekat di tempat sholat-ku”(HR. Hakim). Dasar tersebut menjadi sangat penting kedudukan ibadah kurban. Sebab paling tidak ada tiga komponen yang menjadikan kewajiban kurban yaitu; Pertama, Allah telah melimpahkan kenikmatan kepada manusia; Kedua, perintah Kurban beriringan dengan perintah Sholat; Ketiga, ancaman orang-orang yang tidak Melaksanakan Ibadah Kurban. Ketiga komponen tersebut menjadi satu kesatuan yang utuh untuk menunjukan kesempurnaan ibadah seorang Muslim. Ibadah sholat tidak mempunyai makna yang signifikan apabila tidak dibarengi dengan mensyukuri kenikmatan yang diberikan-Nya. Salah satu bukti kenikmatan tersebut yaitu melakukan ibadah kurban. Dengan demikian kesempurnaan sholat diwujudkan pada kerelaan seorang hamba mengorbankan sebagian hartanya. 

Menarik sekali ayat dan hadist tersebut. Penghambaan bukan semata-mata banyak ibadah sholatnya. Justru ia menjadi kering manakala tidak dibarengi ibadah sosial. Allah tidak menginginkan ibadah hanya berfungsi sebagai ritual hubungan habluminallah(ibadah kepada Allah). ibadah yang benar yaitu berdampak pada perubahan sosial. Sebab tujuan dari diturunkan agama yaitu untuk memberi perubahan hidup positif kepada umat manusia. Sholat dan ibadah kurban sebagai juziyah(bagian) dari ajaran Islam untuk mewujudkan tujuan mulia tersebut.

Kebangkitan Umat Islam

Ibadah Kurban sebenarnya mempunyai makna bahwa Umat Islam senantiasa merelakan dirinya berkorban demi kejayaan Islam. sejarah telah menunjukan bahwa suatu kejayaan bisa diraih apabila disertai dengan kekuatan umatnya untuk berkorban. Umat Islam zaman nabi sebagai sebagai uswatun khasanah. Mereka merelakan harta benda, jiwa dan segala kekayaan demi mencari Ridha Allah. mereka sadar bahwa untuk mencapai kemulyaan sejati dengan kebulatan dalam berkurban. Umar bin Khatab mengorbankan separoh hartanya untuk perjuangan Islam. Bahkan Abu Bakar mengorbankan seluruh hartanya untuk berjuang Fisabilillah. Perbuatan Abu Bakar tentu menimbulkan suatu keheranan Nabi dan para Sahabat. Nabi saw berkata: “Wahai Abu Bakar, sisakan hartamu agar tidak mengalami kesusahan di kemudian hari”. Abu Bakar menjawab: “saya sudah menyisakan paling berharga, yaitu Allah dan Rasul-Nya”. Ucapan Sahabat Rasul ini suatu bentuk perjuangan total menegakan Agama Islam.

Umat Islam mengorbankan hartanya merupakan manusia pilihan. Mereka tidak mengharapkan kesenangan di dunia. Harapkan dan kesenangan abadi yaitu surga. Sehingga fasilitas yang dipunyai di dunia digunakan untuk memperbesar Agama Allah swt. Hidup dikemas menjadi sebuah perjuangan. Tidak ada kata berhenti. Sebab berhenti berarti menyiakan nafas dengan tidak beramal ibadah. Semuanya telah diwakafkan di jalan allah. dan hanya istirahat ketika sudah dipanggil oleh malaikat maut.

Dengan demikian setiap muslim mempunyai peluang yang sangat besar untuk melakukan revolusi kebangkitan Umat Islam dengan segala fasilitas yang diberikan oleh Allah Swt, antara lain: Pertama, berkorban dengan harta benda. Yaitu menggunakan harta benda sebagai investasi akherat. Kekayaan seorang muslim harus diwujudkan hasilnya ketika berjumpa dengan Allah Swt, yaitu berupa amal jariyah. Caranya dengan menyalurkan harta kekayaan untuk kemaslahatan umat Islam seperti mendirikan lembaga-lembaga pendidikan berkualitas, membantu beasiswa untuk pelajar dan mahasiswa yang berprestasi, membangun pusat-pusat perekonomian, mendirikan rumah sakit dan lain-lain. Dengan demikian seandainya para hartawan bangkit bersama-sama, maka tidak ada satupun kekuatan yang mampu menandingi kedahsyatannya. Kedua, bekerja keras. Umat Islam harus mengorbankan tenaga untuk bekerja keras. Mereka bukan penonton, tapi pemain. Perubahan nasib seseorang menjadi mulia terletak pada keinginan kuat untuk keluar dari keterpurukan ekonomi. Memang persaingan hidup sangat keras. Namun persaingan menjadi nikmat ketika dihadapi dengan serius dan niat hanya mencari Ridha Allah Swt. Seberapa jauh keberhasilannya, tergantung pada kekuatan berusaha dan bertawakal kepada-nya. Ketiga, berkorban untuk mencari ilmu pengetahuan. sangat sulit mencapai kejayaan kalau tidak ada sebagian umat islam memperdalam ilmu pengetahuan. apapun jenis ilmu pengetahuan. islam memandang bahwa ilmu pengetahuan hanya satu yaitu Ilmu Agama (Ulumuddin). Artinya semua profesi dengan latar belakang ilmu pengetahuan merupakan bagian dari ibadah.   

Apalagi zaman komunikasi, perkembangan ilmu pengetahuan sangat pesat. Manusia mudah terpengaruh oleh informasi-informasi yang masuk kesegala penjuru angin. Ini harus disikapi dengan positif. Umat Islam harus menjadikan ilmu pengetahuan sebagai jihad menegakan Agama Allah. jadikan zaman komunikasi tunduk kepada islam dengan cara mewarnai nilai-nilai informasi dengan nilai-nilai ilahiyah. Keempat, berkorban dengan jabatan. Saat ini rakyat Indonesia sedang mengalami “ketidak percayaan” kepada para penguasa. Pergantian pemimpin dengan dalih “demokrasi” ternyata masih berpihak kepada para pejabat dan golongan elit. Rakyat belum mendapatkan perubahan nasib semakin baik. Bahkan justru lebih terkesan semakin tidak jelas arah pemerintahan. Kondisi seperti ini seharusnya menjadi momentum kebangkitan “para pejabat” muslim untuk mengorbankan “kepentingan pribadi” demi kepentingan rakyat. penulis yakin bahwa hamper sebagian besar pejabat di Indonesia dalam muslim. Seandainya ada kesadaran total, maka perubahan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang bermartabat tidak perlu membutuhkan hitungan tahun. cukup keajaiban tersebut dengan hitungan bulan. Ini sesuatu yang sangat mungkin. Sebab perubahan bangsa berawal dari perubahan sikap para penguasa. Jika penguasa mampu menjadi contoh, maka rakyatpun akan mengikutinya. Walahul Muwafiq Ila Aqwamitariq, Wassalam.

Rabu, 17 Juni 2020

Vijian Faiz


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Belajar Ilmu Hati Dari Ganti Hati Nya Dahlan Iskan

Sat Jun 20 , 2020
Bagikan :Saya sudah cukup sering menulis tentang Dahlan Iskan, baik dalam bentuk buku atau Artikel. Sama seringnya saya menulis tentang Gus Dur. Keduanya selalu memberi inspirasi. Laksana mata air yang tidak pernah kering. Setetes kisahnya mampu membuka keindahan ruhaniah untuk senantiasa menjalani hidup ini dengan penuh semangat, berprestasi dan hanya […]