Haul Masyayikh; Sebuah Refleksi

Bagikan :

Imam Ghozali [ Dosen STAIN Bengkalis ]

Nanti malam [ Sabtu, 20 Agustus 2022] para alumni pesantren dari seluruh penjuru Pesantren di Indonesia akan mengadakan acara haul masyayikh. Para ulama, kiai, ustadz, dan muhibin (para pecinta ulama) Kabupaten Kepulauan Meranti akan memperingati jasa  para ulama saat masih hidup dalam menyebarkan agama islam dan menularkan ilmu-ilmu agama nya kepada para santri ketika mereka masih di pesantren dan/atau sudah menjadi alumni. Sebagai bentuk penghargaan, para alumni membuat acara dikemas dengan sebutan “haul masyayikh”.

Acara haul masyayikh di Kabupaten Kepulauan Meranti tahun ini di Desa Segoming Kecamatan Rangsang Barat. Ini acara yang ke-44. Artinya kegiatan ini sudah cukup lama dan menjadi rutinan tiap tahun. Kegiatan ini biasanya diisi kegiatan-kegiatan positif seperti : mengirim doa kepada para ulama, menyantuni anak yatim dan mengadakan pengajian akbar yang penceramahnya berasal dari pengasuh pesantren.

Dalam kontek hukum Islam, “haul” mempunyai arti “ satu tahun”, dan “masyayikh” mempunyai arti para syeikh atau ulama-ulama besar dari kalangan pesantren. Haul Masyayikh artinya memperingati kematian para ulama besar para pengasuh pesantren dan para ulama-ulama yang telah berjasa dalam menyebarkan agama kepada para santri dan masyarakat. Jika dilihat dari kajian agama haul masyayik merujuk kepada hadist nabi Muhammad yang diriwayatkan oleh muslim berbunyi: “Rasulullah berziarah ke makam syuhada (orang-orang mati syahid) dalam Perang Uhud dan makam keluaga baqi. Beliau menguapkan salam dan mendoakan mereka atas amal-amal yang telah mereka kerjakan.” Dalam Kitab Najh Al-Balaghoh, hlm. 394-396 disebutkan hadist yang diriwayatkan oleh al-qakidi bahwa rasulullah mengunjungi makam para pahlawan perang uhud setiap tahun. Jika telah sampai di Syi’ib (tempat makam mereka), rasulullah agak keras berucap: “Assalamu’alaikum bima’ shabartum fani’ma uqba ad-dar (Semoga kalian selalu mendapat kesejahteraan atas kesabaran yang telah kalian lakukan. Sungguh Akherat adalah tempat yang paling nikmat.

Sebenarnya dasar-dasar tentang haul cukup banyak, jika dilihat dari dianjurkan mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Nabi Ibrahim berdoa : “ Ya Tuhan kami, ampunilah aku dan kedua ibu bapakku dan semua orang yang beriman pada hari diadakan perthitungan ( hari kiamat). Syariat islam juga mengajarkan doa kepada orang yang sudah meninggal saat kita melaksanakan Sholat Jenazah ( sholat untuk orang yang telah meninggal ) dengan mengucapkan doa dalam sholat : “Allahuma firlahu/laha warhamu/ha/ wa’afini wa’funganhu/ha.”

Dalam konteks hukum, maka tidak ada persoalan. Namun ketika haul masyayikh dikaitkan dalam konteks lain dalam kehidupan sosial-keagamaan maka perlu adanya catatan-catatan penting menurut penulis artikel ini, yaitu: pertama, haul masyayikh adalah refleksi kecintaan santri terhadap jasa para ulama. Dalam konteks ini keberagaman latarbelakang ulama sering memberi pengaruh cara memandang berbagai persoalan dalam aspek sosial, bahkan juga yang lebih sensitif dalam konteks politik. Berbagai kasus yang ketara dalam hal ini adalah daerah-daerah yang menjadi basis Pesantren seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat. Arah politik para ulama sering menjadi rujukan dalam menentukan politik, baik dalam hal arah partai politik, calon pemimpin mulai dari tingkat kabupaten, provinsi dan presiden. Beberapa penelitian ilmiah dalam hal ini telah dilakukan oleh para peneliti berkaitan pengaruh ulama terhadap arah politik Indonesia.

Pada refleksi pertama ini yang perlu diambil bagi para santri dan muhibin adalah kedewasaan menerima keberagaman pandangan politik yang kemungkinan pasti terjadi. Para santri yang telah kembali ke kampung halamananya yang kemudian hari menjadi tokoh, ulama dan pemimpin pesantren atau lembaga terntentu selalu tidak sepi dari sebuah tradisi ulama yang sering tidak lepas dari persoalan politik dan tarik-menarik kepentingan dalam berbagai kontestasi pesta demokrasi. Pada titik ini, kedewasaan menjadi sangat penting, sehingga perbedaan tidak mengganggu suatu “ruh silaturahim” yang sudah mentradisi dalam kalangan ulama walaupun dalam konteks pandangan politik yang berbeda. Para santri dalam hal ini memang harus bisa belajar dari perbedaan pandangan politik Kyai As’ad Samsul Arifin dan Gus Dur atau perbedaan pandangan politik Kiai Maimun Zubair dan Gus Dur. Mereka berbeda sangat tajam. Tapi mereka saling mencintai sangat dalam sekali.

Kedua, haul masyayikh harus melahirkan spirit dakwah yang lebih komplementer yang tidak sebatas menghidupkan tradisi keilmuan para ulama, tetapi juga bisa memberi konstribusi pemikiran dalam perbaikan-perbaikan dalam berbagai aspek seperti pendidikan, ekonomi, dan politik dalam arti yang lebih luas. Usia haul masyayikh yang sudah cukup dewasa yaitu 44, sudah menunjukan bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) dari para alumni Pesantren dan latar belakang pendidikan formal yang sudah lintas disiplin ilmu baik dari dalam dan luar negeri serta para santri yang tidak sedikit jumlahnya. Besarnya SDM dengan kualitas pendidikan yang cukup mumpuni paling tidak bisa memberikan suatu rekomendasi positif dalam memperbaiki berbagai persoalan masyarakat. Tentu saja dalam melakukan hal tersebut yang harus dihindari adalah terjadinya dikotomi-dikotomi sempit oleh kepentingan-kepentingan sementara dan melupakan ruh dari jiwa santri yaitu meneruskan Tongkat estafet para ulama. Jangan sampai para alumni terjebak oleh suatu sejarah yang menyakitkan sebagaimana terjadi pada Perang Uhud. Penulis Artikel ini sungguh sangat sedih saat para santri tertipu sebagaimana para sahabat nabi yang rela meninggalkan wilayah kerjanya dan turun dari Gunung untuk mengambil Ghonimah. Padahal itu jebakan untuk membunuh jiwa militansi dan disiplin diri. Gara-gara itu, hampir saja nabi Muhammad meninggal dunia.

Ketiga, haul masyayikh lahir dari santri sebagai sarana untuk menyambung mata rantai keilmuan dan mata rantai jiwa mahabah dalam membangun komunikasi batin antara syeikh dan santri. Acara ini bukan sebatas pengajian belaka, namun ada makna yang terkandung di dalamnya bahwa seorang santri tidak boleh berhenti dalam belajar walaupun sudah menjadi ulama. Seorang ulama seperti Syeikh Zarnuji menekankan betapa pentingnya menyambung silaturahim dengan para ulama agar terus mengalir keberkahan dan semakin memancar jiwanya. Begitu juga ulama Indonesia seperti Syeikh As’ad Samsul Arifin menganjurkan kepada para santrinya untuk terus belajar kepada para ulama yang lebih dalam ilmunya dan yang mengetahui jalan-jalan menuju kepada tuhan. Maka hal yang wajar apabila pada acara ini yang mengisi pengajian adalah para pengasuh pengajian. Sebab acara haul masyayikh sebenarnya bukan gebyar atau tenarnya penceramahnya, bukan juga lucu dan terkenal mubalighnya. Namun yang perlu dipahami adalah haul masyayikh adalah jalan membangun ruh-ruh pesantren agar tetap hidup di hati para alumni dengan senantiasa berbuat baik, mengirim doa dan juga mendengar pengajian dari para pengasuh pesantren saat para santri nyantri pada masa lalu.

Sebagai penutup mari berdoa untuk para ulama, para masyayikh, semoga mereka ditempatkan ditempat yang mulia yaitu di Surga, amin.


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Arti Selembar Kain

Mon Aug 22 , 2022
Bagikan :moreImam Ghozali [ Dosen STAIN Bengkalis ] Jika anda Beli kain lalu dibuat tiga jenis barang; Baju, Dasi, dan ( mohon maaf ) “Celana Dalam”, maka akan mempunyai arti yang berbeda-beda. Ketika anda memakai Baju tersebut, akan kelihatan lebih anggun dan terlihat sopan. Ketika anda memakai Dasi, anda akan […]