Harimau dan Buaya di Bagansiapapi

Bagikan :

Beberapa hari ini saya tinggal di Bagansiapaiapi untuk keperluan MTQ Tingkat Provinsi Riau. Namun tulisan ini tidak membahas tentang MTQ.  Saya merasa orang-orang yang berhak membahasnya tentu orang yang sudah waskita dan mempunyai ketajaman mata batin.  Saya hanya ingin membahas tentang Buaya yang konon kata pak sopir, Buaya nya sangat buas. Katanya, hampir tiap tahun selalu ada korban. Apalagi ketika musim pasang, Buaya-buaya itu pun mendarat akan mencari mangsa. Selain manusia yang sering menjadi sasaran mangsanya adalah Monyet yang berada di bibir pantai. Jika Monyet yang menjadi sasaran bisa jadi karena binatang ini rumahnya di pohon-pohon bibir Pantai. Tempat tinggal mereka memang mulai menyempit, dan sudah berubah menjadi Pasar, Perumahan, Hotel, Perkantoran dan lain-lain. Jadi perjuangan hidup nya luarbiasa; bertahan untuk tetap eksis mendapatkan makanan di sekitarnya dan bertahan diri agar tidak sampai masuk ke mulut Buaya yang terkenal ganas.

Saya mendapat informasi dari pak Sopir, setiap tahun selalu ada  manusia yang menjadi korban keganasan Buaya laut. Kadang satu, dua atau tiga yang pasti ada yang menjadi korban. Saya merinding mendengarnya. Namun saya masih bisa bergurau agar “kemerindingan” saya terhadap keganasan Buaya tidak terlihat: “Jika Buaya Laut sedemikian ganas, bagaimana dengan Buaya daratnya pak?”.  Kami pun tertawa gara-gara muncul kalimat “Buaya Darat.” Ternyata kata “bahaya” mempunyai makna berbeda antara Buaya Laut dan Darat. Jika Buaya laut membuat merinding bagi yang mendengarkan, tetapi jika buaya darat semua merasa menikmatinya. Jangan-jangan kami ini mempunyai potensi menjadi Buaya Darat?

Setelah bolak-balik dari Hotel ke tempat MTQ, dan melihat keberagaman manusia dan alam semestanya, saya jadi teringat kepada sosok Anas Ma’mun. Saya sudah mengenalnya sejak tahun 2006, tapi dia tidak mengenal saya. Memang agak unik. Tahun 2006 saya ke Bagansiapi-Api karena undangan Tim Anas Ma’mun, antara lain adalah Suyatno yang ternyata calon wakil bupati Anas. Namun 2006 saya hanya tidur ri rumah pak Yatno, itupun tidak betah dan pindah ke Hotel Lion. Jadi waktu itu saya mengenal daeah Bagan sebatas Hotel dan Lampion. Kesimpulan saya, kota Bagansiapi-Api persis seperti Selatpanjang. Isinya Warga Tionghoa.

Pada tahun 2012 saya kembali lagi ke Bagansiapi-Api. Saya mendapat undangan khusus dari Tim Anas Ma’mun-Suyatno. Acara pelantikan mereka menjadi bupati-wakil bupati periode kedua. Acaranya di tempat MTQ. Saya duduk bersebelahan dengan Prof. Tabrani Rab. Dia memakai jaz hitam, baju putih, dan celana hitam. Saya memakai Peci hitam, Baju koko warna putih dan Celana hitam.  Para pejabat memakai baju Melayu dan baju dinas. Waktu itu saya pun berpikir akan keluar dari ruangan VIP, sebab saya merasa baju nya kurang cocok untuk acara resmi. Ini lebih cocok kenduri setiap malam jumat atau yasinan. Namun, karena dilarang oleh ajudan, saya pun tetap duduk sampai acara selesai.

Ketika saya melihat foto Anas Ma’mun, terus terang saja ingin tertawa. Wajah nya sudah terlihat tua. Batin saya bertanya-tanya juga, kok orang tua ini bisa terpilih sebagai Bupati dua periode. Apa keistimewaannya? Lagian kalau berbicara pun tidak seindah para politikus saat ini yang bicaranya “melipis”, tertata rapi dan tersetruktur dengan baik. Apalagi ketika saat debat terbuka ketika maju sebagai calon gubernur Riau tahun 2014, saya benar-benar tidak bisa menahan tawa. Mungkin orang se-Riau atau bahkan Nasional yang melihatnya pun tertawa seperti saya.

Ketika Tim Anas Ma’mun menelpon saya dan ingin datang ke rumah, saya mengatakan padanya tidak perlu datang. Saya katakana padanya, Anas Ma’mun Insya Allah terpilih menjadi Gubernur. Ternyata memang benar, dia terpilih menjadi Gubernur. Tentu saja, ucapan saya bukan karena keampuhan doa, tetapi karena memang sudah menjadi kewajiban seorang muslim mendoakan kebaikan kepada siapapun, bahkan kepada orang yang menyakiti pun, saya mengirim doa kebaikan kepadanya.

Saya belum mengetahui kehebatan Anas Ma’mun. informasi yang masuk ke telinga saya adalah seorang pemimpin yang otoriter, keras kepala, bahkan kalau tak salah ingatan saya, dia berani melawan perintah Presiden SBY. Apakah keras kepala ini bagian dari watak nya atau karena keteguhan hatinya dalam membuat suatu keputusan yang dianggap benar, sehingga apapun resikonya, dia siap menerima? Saya kurang begitu memahami dengan baik pribadinya.

Apabila melihat dari cara bicara, diksi-diksi kata yang digunakan, guratan sinar wajah,  dan sorot matanya, adalah sosok yang cermat dan mempunyai visi jauh kedepan. Dia menyadari bahwa Sumber Daya Manusia (SDM) masyarakat Rohil belum bisa menterjemahkan visi-misinya. Namun Sang Bupati mempunyai “segepok” ide-ide nya harus dikeluarkan dengan cepat. Maka jalan satu-satunya yaitu melakukan berbagai eksekusi yang terlihat ekstrem dan terkesan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Bagi Anas Ma’mun dianggap tidak menjadi persoalan. Saya melihat langkahnya, kemungkinan Dia sedang memposisikan dirinya sebagai orang tua yang menyayangi terhadap anak-anaknya. Dia akan melakukan segala cara untuk kebahagiaan masyarakat Rohil di masa mendatang. Apapun resikonya.

Saya berpendapat demikian paling tidak melihat beberapa karya monumental Anas Ma’mun sebagai berikut: Pertama, model atau bentuk bangunan perkantoran  adalah model bangunan mirip gedung putih, terutama gedung kantor bupati dan BAPEDA. Ini adalah simbol bahwa Rohil yang dulu sudah terkenal dari hasil Ikanya dan sudah mendunia harus diteruskan dipertahankan baik dalam segi sumber daya alamnya dan juga cara berfikirnya yang maju dan modern; Kedua, simbol-simbol Kubah di Perkantoran sehingga Rohil disebut dengan Kabupaten seribu Kubah. Ini mencerminkan bahwa modernisasi dan nilai-nilai Islam saling keterkaitan dan bisa berjalan beriringan; Ketiga, Taman Wisata yang dipenuhi dengan replika binatang seperti Ikan, Buaya, Harimau, Kijang, dan Gajah adalah cermin keaslian alam  yang tidak boleh hilang dari jatidirinya. Binatang-binatang tersebut adalah bukti keberagaman sebagai cermin dari keberagaman manusia yang mempunyai watak dasar yang beragam. Namun semua itu harus hadir dan saling menguatkan agar perbedaan tersebut menjadi kekuatan untuk mewujudkan visi modernisasi Rokan hilir di masa mendatang tanpa harus meninggal kearifan lokal yang ada.

Saya juga tidak tahu bagaimana perasaan Anas Ma’mun saat ini. Di masa tuanya, dia harus menerima ujian yang cukup menyedihkan, terutama bagi orang-orang yang belum pernah menikmati pahit-getirnya kehidupan. Saya tidak berani mengatakan bahwa saat ini dia sedang menderita. Sebab seorang pejuang sejati memang tidak pernah menikmati keindahan dunia. Isinya adalah berjuang dan terus berkarya. Kalau toh ada pada dirinya suatu prestasi menurut pandangan orang, baginya hanya sebatas cenderamata yang cukup ditaruh di lemari. Tidak ada kembanggaan kecuali ketika bisa memberi yang terbaik kepada masyarakat.

Hari ini memang Anas Ma’mun tidak terlihat di Bagansiapi-Api. Namun selama 6 hari di kota ini, saya sering mendengar pujian dari masyarakat dan pegawai Pemda atas jasa-jasanya dalam membangun kota Bagan. Saya kira ini sebuah prestasi dari sikap kerasnya saat menjadi kepala daerah. Bisa jadi dia belajar dari alam, bahwa dia harus seperti  Buaya ketika di Laut akan menerkam siapapun yang mengganggunya, dan bagai Harimau akan menguliti siapapun yang akan merusak marwah daerahnya. Jika demikian, bukankah itu perilaku seorang pahlawan?

Bagainsiapi-api, 28 Juli 2022

Imam Ghozali


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

1 Muharom dalam Segalas Kopi

Sat Jul 30 , 2022
Bagikan :moreSetelah selesai melaksanakan tugas sebagai dewan hakim di MTQ Provinsi Riau pada bidang KTIQ, saya langsung tancap naik Travel menuju Dumai. Sebenarnya ingin ke Pekanbaru, langsung berangkat ke Aceh. Namun mendengar Istri sakit, rencana pun batal. Saya menemui panitia, minta tolong untuk mencarikan Travel ke Dumai yang sore hari. […]