Haji dan Muhasabah Nasional

Bagikan :

Oleh : Imam Ghozali [ Dosen STAIN Bengkalis, dan Ketua Umum MUI Kabupaten Kepulauan Meranti ]

Ibadah haji merupakan rukun Islam kelima. Seorang muslim yang sudah mempunyai kemampuan untuk melaksanakan, maka wajib melaksanakan ibadah haji. Itu sebabnya, nabi Muhammad saw memberikan suatu peringatan keras kepada orang-orang yang sudah mempunyai kemampuan ibadah haji, dan belum pergi haji maka ancamannya ketika mati disuruh mati Yahudi atau Nasrani. Maka nabi memerintah untuk menyegerakan ibadah haji dengan sabdanya sebagai berikut:

“Barangsiapa yang ingin pergi haji maka hendaklah ia bersegera, karena sesungguhnya kadang datang penyakit atau kadang hilang hewan tunggangan atau terkadang ada keperluan lain yang mendesak.”

Sabda Nabi saw tersebut terbukti ketika Tuhan menurunkan suatu wabah penyakit covid-19. Sudah dua musim ibadah haji dihentikan. Pemerintah Arab Saudi menutup kegiatan ibadah haji akibat wabah covid-19 yang mendunia.  Negara-negara yang telah merencanakan ibadah haji untuk tahun 2020 dan 2021 pun tertunda. Hanya ada jumlah terbatas bagi Negara-negara yang telah memenuhi standar kesehatan yang telah ditentukan oleh Negara Arab Saudi.

Selain itu, akan datang suatu kendala lain seperti peperangan yang diibaratkan dalam hadist berupa hilangnya hewan tunggangan.  Contoh konflik yang saat ini masih hangat yaitu peperangan Ukraina dan Rusia. Mungkin konflik tersebut tidak langsung berhubungan dengan negara Arab atau negara-negara yang akan ibadah haji seperti Indonesia, namun akibat konflik tersebut sangat berpengaruh kepada ekonomi dunia yang bisa menyebabkan biaya operasional haji menjadi membengkak, yang menjadi persoalan baru.

Terlepas dari persoalan teknis yang memang bagian dari kewenangan pemerintah baik pemerintah daerah maupun pusat, ada yang prinsipil yang harus menjadi perhatian yaitu melihat ibadah haji dari sudut sepiritual. Para ahli fiqh sudah membahas bahwa kemampuan ibadah haji yaitu kemampuan pada sisi dana, perjalanan, kondisi negara aman, dan keadaan fisik nya kuat untuk melaksanakan serta hal-hal yang berkaitan dengan kebutuhan operasional dan administrasi. Namun para ulama sufi tidak sebatas melihat persoalan yang bersifat konkrit, tapi juga abstrak. Memang benar ibadah tidak bisa lepas dari persoalan konkrit karena secara terkstual sering mengaitkan pada hal-hal yang bersifat materi. Namun juga, pembicaraan pentingnya kekuatan spiritual dan benarnya tatanan hati dalam mendesain badan menjadi tunduk kepada nafsu mutmainah menjadi sangat penting.

Al-Qur’an menggambarkan keterkaitan ibadah dhohir dengan batin dengan ungkapan seperti ini “Celaka lah orang-orang yang sholat”. Bagaimana bisa demikian ekstrim ancaman Allah, padahal sholat juga perintah-Nya. Tentu saja bukan karena sebatas pada persoalan salah pada rukun sholatnya, tapi lebih jauh lagi yaitu sholat yang dilakukan tidak menjadikan diri menjadi manusia yang mampu memanusiakan orang lain. Sholat nya justru menjadi dirinya punya sifat takabur dan merasa paling sholeh dan mudah menyalahkan orang lain. Selain itu, sholat yang dilakukan juga sering menjadi jalan para ahli ibadah menjadi “sahuun” yaitu mudah melupakan rasa kasih sayang dan kurang empati terhadap kehidupan sosial.

Dalam hal puasa, nabi juga menjelaskan bahwa pentingnya keselarasan dhohir dan batin. Menurutnya, banyak orang yang berpuasa tetapi hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Secara fiqih sah puasanya, namun secara spiritual puasa model tersebut tidak menjadi dirinya orang puasa dekat dengan Allah, tapi malah mendapatkan murka dari Allah swt.

Sebagaimana sholat dan puasa, haji sebagai ibadah yang secara persyaratan lebih berat daripada sholat dan puasa tentu saja harus mencerminkan pelaku ibadah haji sebagai manusia yang sempurna, yaitu manusia yang bisa menginternalisasikan nilai-nilai rukun Islam di atasnya yaitu: syahadat, sholat, puasa, dan zakat dalam kehidupan sehari-hari. Artinya para pelaku haji benar-benar sudah bisa berdamai dengan Allah melalui sholat dan berdamai dengan sesama manusia dengan amal kebaikannya. Dua kutub ibadah ini merupakan suatu persyaratan spiritual yang penting agar meninggalkan cerita kebaikan dari masyarakat sekitarnya bahwa para jamaah haji benar-benar orang-orang mukhlisin, mukhsinin yaitu orang-orang yang ahli menebarkan kebaikan dengan sesamannya. Dan jangan sampai terjadi ucapan-ucapan dari tetangga yang justru sebaliknya dengan ucapan yang menusuk hati seperti : “ haji pelit”, “ haji hasil korupsi”, “ haji mau nyalon jadi pejabat”, dan lain-lain.

Maka jika ada pertanyaan yang terlintas begini: “Mengapa ada penyakit covid-19 yang mewahab seluruh dunia, sehingga tidak bisa melaksanakan ibadah haji?” salah satu bentuk jawaban spiritual yaitu: Tuhan tidak membuat suatu peristiwa dengan cara yang batil. Bisa jadi, orang-orang yang mau berangkat haji masih ada hutang-piutang, ilmu kurang, tujuan haji salah, dan masih banyak perilaku-perilaku yang menyakiti Tuhan dan mendzalimi sesama manusia. Bisa jadi Tuhan sedang menahan para calon haji agar tidak takabur dengan harta dan jabatan yang ada pada dirinya. Sebab semua bisa hilang dan lenyap seketika hanya dengan terkena penyakit wabah covid-19 langsung bisa meninggal dunia dan semua fasilitas yang dipunya pun sudah tidak memberi manfaat lagi.

Maka sangat baik sekali apabila tahun ini digunakan untuk muhasabah, baik secara individu atau kolektif atau lebih tepatnya muhasabah nasional. Gerakan muhasabah ini menjadi sangat penting, sebab dari sini ada kesadaran kolektif bahwa pengakuan atas kekurangan diri sendiri itu penting, dan memperbaiki itu jauh lebih penting. Karena itu sebenarnya, muhasabah yang berhasil dalam kontek sosial, atau kontek hubungan atasan dan bawahan atau pejabat dan rakyatnya yaitu ada balance yang terbangun secara komprehensif bahwa ada keterbukaan para pejabat dikritik untuk kebaikan, dan ada kejujuran rakyat atas keberhasilan beberapa program yang dilakukan oleh pemerintah.

Sayangnya, muhasabah yang sering dilakukan adalah muhasabah eklusif, yaitu mengakui dosa dirinya kepada Tuhan, tapi tidak mengakui dosa kepada sesame manusia. Maka jangan heran, jika ada kritik malah yang terjadi saling jatuh menjatuhkan. Bukankah demikian prakteknya saat ini?


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Gus Dur, Jokowi dan Partai Islam

Wed Jun 15 , 2022
Bagikan :moreOleh: Imam Ghozali [ Dosen STAIN Bengkalis/ Ketua Umum MUI Kabupaten Kepulauan Meranti ] Saya sudah lama tidak melihat siaran di TV.  Sekitar berjalan tiga tahun,  saya telah menyerahkan urusan TV kepada istri yang ingin melihat sinetron “Ikatan Cinta” dan anak-anak yang suka melihat film Upin dan Ipin. Jadi […]