Gus Dur Menjebol Pintu Otoriter

Bagikan :

Diantara tokoh yang saya ingat dalam memoriku adalah K.H. Abdurrahman Wahid atau sering disebut Gus Dur. Pertama saya pernah melihat sisi kehidupannya kehidupannya saat menjadi Ketua PBNU dan saat menjadi Presiden ke-4 Republik Indonesia. Kedua, saya sudah membaca kisah hidupnya dalam beberapa referensi yang ditulis oleh orang-orang yang saat sekarang masih hidup. Ketiga, saya sejak masih di aliyah sudah sering membaca tulisan Gus Dur di berbagai Majalah Nasional seperti Tempo dan Kompas.

Ketika Gus Dur menjadi Ketua PBNU, Orde Baru sedang berkuasa. Sayangnya, hubungan NU dan Orde Baru tidak harmonis, bahkan sangat bermusuhan. Soeharto dengan berbagai cara ingin menghancurkan NU. Mulai dari melakukan adudomba dengan sesama NU, yaitu dengan menciptakan NU tandingan yang dipimpin oleh Abu Hasan. Pelarangan ceramah atau pengajian, penangkapatan tokoh-tokoh NU, percobaan pembunuhan terhadap Gus Dur, sampai pada pembiaran orde baru terhadap masyarakat NU dalam pembangunan Nasional. NU selama 32 tahun tidak mendapatkan fasilitas pembangunan, dan menjadi warga kelas dua. Untuk menghidupi kegiatan jamaah, NU pun mandiri dengan membuat usaha bisnis dan pertanian melalui berbagai kegiatan pesantren dan jamaahnya.

Bagi anda yang lahir pada era-90-an, jelas tidak merasakan penderitaan akibat kekejaman Orde Baru. Mungkin baru mendapatkan cerita sedikit, dan tidak berbekas dalam hati. Sebab Orde Baru tumbang pada 1998, yang tahun ini disebut sebagai Era Reformasi. Artinya jika generasi lahir pada 1990-an, berarti masih kelas 1 SD atau MI. Masa yang belum mengenal penderitaan yang sesungguhnya. Generasi ini mulai merasakan penderitaan masa reformasi, yang kemudian hari bisa jadi ikut mengatakan “Enak Zaman Ku Toh”. Sebab saat mendapatkan penderitaan sesungguhnya ketika remaja di era reformasi. Sehingga narasi-narasi yang dibangun oleh pendukung Orde Baru benar-benar membius diri mereka untuk bisa hidup seperti zaman Soeharto yang katanya “gemah ripah loh jinawi toto tentrem kerto raharjo.”

Saya sebagai warga NU yang hidup pada zaman Soerhato harus menceritakan dalam tulisan ini agar masyarakat lahir di era reformasi dan era milineal saat sekarang ini tahu, bahwa Soeharto dalam satu sisi telah membuat penderitaan yang sangat besar. Namun, demikian warga NU yang dipimpin oleh Gus Dur tidak pernah mengajarkan untuk membenci dan mengutuk Orde Baru. Disini sebenarnya keagungan kepemimpinan NU pada era Gus Dur.

Keagungan kepemimpinan Gus Dur terletak pada kesetiakawanan sesama warga NU. Gus Dur sebagai seorang pemimpin ormas terbesar, bisa juga dengan mudah mendapatkan akses kekuasaan dari Orde Baru. Namun baginya tidak penting. Apa artinya dia berkuasa, sedangkan jutaan warga NU menderita. Lebih baik sama-sama menderita daripada dia harus bahagia dalam tetasan jutaan warga NU menderita. Karena itu, dalam kehidupan sehari-hari ketika sudah menjadi Ketua PBNU, Istri Gus Dur berjualan kacang goreng atau Kacang Bawang yang ditipkan di warung-warung kecil untuk menopang kehidupannya.

Apa yang dilakukan oleh Istri Gus Dur adalah potret warga NU pada zaman Orde Baru. Jika dibuat prosentase, 90% waktu itu adalah berbasis pertanian, maka hampir semua dalam presentase tersebut. Mereka tidak mengenal politik, tidak mengenal kaum pejabat. Warga NU hanya mengenal pertanian, dan dagang kecil-kecilan. Jika memasuki musim pertanian, mereka bercocok tanam padi. Setelah selesai, sambil menunggu panen, mereka jualan di pasar-pasar tradisional seperti jualan Keset dari “Tepes” (kulit kelapa), sikat, korok WC, Jualan Ayam Kampung, Ubi, Kelapa atau buah-buah dalam pekarangan yang tidak begitu luas. Warga NU betul-betul dijauhkan dari perpolitikan Nasional. Mereka hanya dibutuhkan saat Pemilu untuk tetap mendukung Golkar sebagai Partai Politik milik Orde Baru.

Potret perekonomian warga NU kala itu jelas berpengaruh kepada kualitas pendidikan. Kader NU sangat sulit mengenyam pendidikan tinggi. Ekonomi yang serba sulit generasi NU sudah cukup mengenyam pendidikan dari tingkat SD Inpres, lalu melanjutkan ke tingkat SLTP, dan sedikit ke SLTA. Memang benar, bahan pangan murah, beras sayur murah, tapi duit yang untuk beli tidak ada, jadinya juga mahal. Maka jangan heran ketika sekolah, mereka hanya dua seragam dalam satu tahun, baju merah putih untuk hari senin-rabu, dan Baju Pramuka untuk kamis sampai sabtu. Ketka menjelang Idul Fitri, baru orang-orang tua membelikan baju Pramuka atau Merah Putih yang sekaligus menjadi baju lebaran. Jadi, saat lebaran zaman Orde Baru, memakai baju seragam sekolah itu pemandangan yang wajar sekali. Sayapun waktu itu sangat menikmatinya.

Kini mungkin sudah tidak mengalami hidup yang sedemikian susah. Orang yang senang dan yang susah hidupnya mungkin sudah sama, sama-sama bisa makan satu hari tiga kali. Generasi saat ini sudah tidak menemukan lagi makanan yang nasinya dicampur dengan ubi, yang lauknya untuk sarapan pagi ketika berangkat sekolah hanya “jlantah” ( minyak goreng yang sudah untuk menggoreng). Saat sekarang ini sudah tidak lagi mengenal musim “paceklik” yaitu suatu musim dimana makanan tidak ada sama sekali.

Mungkin kisah ini dianggap lelucon oleh generasi 90-an atau 2000-an. Sebab sesedih apapun saat ini, semiskin apapun masyarakat sekitar kita, di tanganya ada Android, dan sepeda motor. Apalagi program pemerintah melalui PKH telah membantu masyarakat kelas bawah hidup lebih baik dan sejahtera. Tentu tingkat kesejahteraan tidak sama dengan orang-orang yang sejahtera. Namun paling tidak nasib mereka tidak sejelek para petani di masa soeharto atau para guru pns, yang mendapatkan jatah beras bulog berwarna kuning dan bau “penguk.”

Gus dur memahami kondisi warga NU. Dia berkeliling dari daerah satu ke daerah lain. melalui ceramahnya, gus dur selalu menghibur jamaahnya yang berada di bawah garis kemiskinan. Melalui joke-joke segar, Gus Dur mengajarkan hakikat hidup yang sebenarnya, yaitu selalu bekerja untuk menanam kebaikan dan pasrah kepada Allah swt. Ternyata pengaruh pemikiran Gus Dur telah membentuk warga NU menjadi warga yang mempunyai militansi yang sangat tinggi. Kesadaran beragama meningkat. Kelompok intelektual, dan ulama pun bergerak. Hal ini dibuktikan tumbuh subur pondok pesantren-pesantren dimana-mana. Begitu juga, sekolah-sekolah umum dan perguruan tinggi, di era Gus Dur pun bermunculan. Walaupun belum banyak. Tapi Gus Dur telah melakukan pondasi kemandirian pendidikan baik agama maupun umum telah berhasil.

Perkembangan bangkitnya kesadaran NU dalam bidang pendidikan dan ekonomi mendapat sorotan tajam dari Orde Baru. Baginya, Gus Dur sangat membahayakan. Maka berbagai usaha untuk melemahkan nya pun dilakukan, antara lain berkali-kali orde baru melakukan percobaan bunuh diri kepada Gus Dur, dan juga menginginkan gus dur lengser dari pimpinan pbnu nu sebagaimana yang telah saya ceritakan di atas.

Namun Gus Dur tidak bergeming. Gus Dur terus melakukan gerakan penyadaran terhadap masyarakat NU secara khusus, dan bangsa Indonesia secara umum tentang pentingnya suatu tatanan yang demokratis dan menghormati segala lapisan masyarakat. tulisan-tulisan gus dur di media massa telah menjadi lokomotif perubahan. Maka, bukan hanya warga NU yang siap membelanya, tapi juga masyarakat yang telah terpinggirkan oleh Orde Baru pun bergabung dibelakang Gus Dur. Gelombang reformasi tahun 1998-an tidak bisa lepas dari campur tangan Gus Dur. Ini fakta yang tidak terbantahkan.

Senen, 22 Juni 2020

Vijian Faiz


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Ketika Benci Berbalut Cinta

Tue Jun 23 , 2020
Bagikan :Rancangan Undang-Undang Haluan Ideologi Pancasila (RUU HIP) yang diajukan oleh DPRI RI mendapat penolakan dari berbagai pihak, termasuk dari nu. Berikut ini pernyataan sikap PBNU (16/6) sebagai berikut: Perkuat Pancasila Sebaai Konsensus Kebangsaan Setelah melakukan pengkajian mendalam terhadap Naskah Akademik, rumusan draft RUU Haluan Ideologi Pancasila (HIP) dan Catatan […]