Gelar antara Berkat dan Berkah

Bagikan :

Berbeda orang berbeda dalam memahami prinsip hidup, termasuk memahami arti sebuah pendidikan. Sebagian ada yang mengatakan bahwa gelar pendidikan atau kesarjanaan tidak begitu penting, Sebagian lagi juga beranggapan bahwa gelar itu penting. Alasan keduanya sama-sama benarnya. Bagi yang mengatakan bahwa tanpa gelar pun bisa sukses, itu benar. Banyak sekali orang-orang yang sukses berangkat dari ketidakpunyaan gelar, terutama dalam bidang dunia usaha dan juga dunia politik. Bahkan di antara mereka juga berhasil telah merekrut orang-orang hebat dan berpendidikan yang tidak “main-main” untuk mengelola perusahaann-perusahaann atau partai politiknya.

Namun kelompok yang peduli terhadap pendidikan juga mempunyai alasan yang sangat kuat, bahwa pendidikan sebagai jalan untuk menyelesaikan berbagai persoalan. pendidikan dalam era modern telah menjadi bagian ukuran statistik baik dan tidak baiknya Sumber Daya Manusia [SDM] yang juga nanti berkaitan dengan pendapat manusia itu sendiri. Walaupun kenyataannya terkadang antara pendidikan dan pendapatan sering tidak linear, namun sampai detik ini, pendidikan masih mempunyai pengaruh efektif untuk mengukur keberhasilan pembangunan suatu bangsa dan keberhasilan dalam meningkatkan pendidikan. Sebab logika berfikir, hanya orang-orang yang mempunyai kemampuan finansial yang bisa melaksanakan kuliah ke jenjang lebih tinggi bukan?

Penulis artikel ini tidak sedang memaksa untuk membenarkan salah-satu sudut pandang yang berbeda ini. Tidak sama sekali. Setiap orang mempunyai kemerdekaan untuk menilainya. Yang terpenting tentu komitmen untuk mewujudkan suatu keyakinan kebenaran dalam ucapan, sikap dan perbuatan untuk mewujudkan nilai-nilai yang dianggap sebagai suatu kebenaran tadi. Perbedaan ini tidak menjadi jalan untuk menjatuhkan personal atau kelompok tertentu sebagai pembenar. Namun perbedaan sebagai jalan untuk mencapai suatu cita-cita dengan keberagaman. Bukankah banyak jalan menuju Roma?

Bagi anda yang sedang menempuh dunia pendidikan sebagaimana seorang mahasiswa yang sedang berjuang untuk mendapatk sebuah gelar kesarjanaan, maka rintangan tentu saja semakin hari semakin besar. Berbagai tugas yang diberikan oleh dosen yang menurut kita sebagai sebuah “beban” yang membosankan, sebenarnya sedang mengajak berfikir kepada kita, apakah kita sudah pantas belum masuk pada level tersebut?

Sering penulis artikel ini menemukan keluhan dari para mahasiswa ketika mendapatkan tugas-tugas dari dosen-dosenya. Mereka mengeluh karena terlalu banyak pekerjaan, karena tidak mampu menulis, mengetik, dan sudah merasa kolot, bodoh, tua dan sebagainya. Banhkan bisa jadi jika alasan-alasan itu dibuat bisa menjadi satu artikel tersendiri. Dari sini jelas, bahwa ada ketidaksingkronan antara keinginan dan realita diri dalam mengatur diri dan membangun dalam satu titik yang ideal dalam pikiran dan perbuatan. Akibatnya, mahasiswa pun akan mengalami kebosanan dan ketidaksemangatan dalam menghadapi seluruh tugas yang ada. Akibatnya, pekerjaan menumpuk dan beban pun bertambah.

Memang banyak orientasi dari setiap mahasiswa untuk kuliah, mulai dari orientasi nya yang remeh-temeh ada juga orientasinya yang yang bisa dipertanggung-jawabkan. Jelas perbedaan ini akan berdampak pada cara menyelesaikan suatu pekerjaan yang dihadapinya, apakah dengan sesuatu yang serius, agak serius atau asal-asalan dan terus mengeluh sepanjang hidupnya.

Memang pendidikan tidak menjamin orang untuk mendapatkan kehidupan yang bergelimang harta, walaupun pendidikan menjadi salah satu jalan untuk meraih hal tersebut. pendidikan tinggi tidak selalu selaras dengan harta yang berlimpah, tidak sama sekali. Para sahabat, para tabi’in, tabi’in-tabi’in, para ulama yang telah melahirkan karya monumental yang sampai sekarang masih menjadi rujukan dalam dunia islam, hidup dalam keadaan serba kekurangan. Mereka menguasai seluruh lorong-lorong ilmu pengetahuan, tapi mereka kurang beruntung mendapatkan gembyarnya dunia. Mereka sampai akhir hidupnya tetap mulia dan selalu dikenang sepanjang sejarah.

Itu sebabnya, saat anda kuliah dan mendapatkan gelar kesarjanaan sebenarnya anda sedang berjalan menuju jalan-jalanya para ilmuwan para orang-orang sholihin yang mempunyai orientasi untuk memancarkan cahaya kehidupan yang selalu mendapat snar-sinar ketuhanan. Dari sini kita menjadi sadar, bahwa kuliah bukan untuk mengejar harta, karena tidak kuliah pun bisa dikejar dunia. Namun kuliah adalah sarana untuk membangun ibadah peradaban Islam agar cahaya-cahaya islam tetap hidup dan terus menjadi uswatun khasanah yang rahmatalil ‘alamin.


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Diskusi Mahasiswa ABI-1A

Tue Dec 14 , 2021
Bagikan :moreUJIAN AKHIR SEMESTER     POLITEKNIK BENGKALIS TAHUN 2021-2022 Mata Kuliah         : AGAMA Program Studi      : ABI Semester               : I-A Dosen Pengampu  : Dr. Imam Ghozali, M.Pd.I Keterangan : UAS ini menggunakan sistem open book Bersifat analisis Setiap soal membutuhkan penjelasan disertai dengan dasar pijakan hukum, baik al-qur’an, hadist atau […]