Etos Kerja

Bagikan :

Imam Ghozali, Dosen STAIN Bengkalis

Ada tradisi di Pesantren Tradisional yang sangat terkenal yaitu Ro an. Tradisi ini adalah tradisi gotong-royong seperti masyarakat di Pedesaan bersama-sama membersihkan Selokan agar bersih sehingga ketika Musim Hujan Air bisa mengalir dan mengurangi potensi banjir. Atau seperti masyarakat bersama-sama membantu secara sukarela mendirikan Rumah model dulu, yaitu Rumah yang terbuat dari Kayu dan Bambu, atau sama-sama gotong-royong pengecoran Lantai Masjid atau Mushola. Tradisi yang demikian masih banyak lagi jenis-jenis nya di masyarakat pedesaan. Berjalan dengan wolak-walik nya zaman, tradisi ini mulai bergeser berubah dengan sistem tukang. Perintah Tukang, dan di bayar, ada harian ada juga borongan.

Kegiatan roan atau kegiatan gotong-royong adalah istilah kerjabakti di Pesantren. Biasanya dihari-hari libur, baik mingguan maupun bulanan, atau karena keadaan sedang mendesak seperti Pesantren sedang membangun penambahan Gedung Pembelajaran, Asrama dan lain-lain. Maka jangan heran, apabila pesantren-pesantren besar di Jawa dan juga diluar Jawa, bukan karena ketergantungan dari para donator dan uluran tangan, tetapi lebih pada semangat roan para santri yang tumbuh dari relung hati yang paling dalam.

Itu sebabnya para alumni Pesantren biasanya ketika pulang ke rumah masing-masing ataupun ikut mertuanya, biasanya secara sepontanitas terpanggil untuk menularkan ilmunya kepada anak-anak di sekitar rumahnya, membuat “gotaan” atau asrama kecil-kecilan dan Mushola yang terbuat dari Kayu atau Bambu dengan atap dari Daun Kelapa. Jadi Pesantren bisa berkembang cepat sampai ke pedalaman bukan karena Instruksi secara organisasi, terutama adalah alumni pesantren yang dibawah naungan para ulama tradisional seperti Pesantren Tebuireng, Denanyar, Lirboyo, Situbondo, Blokagung Banyuwangi, Berasan Muncar, dan raturan Pesantren besar lainya secara mandiri dan kesadaran diri membuat lembaga-lembaga pendidikan keagamaan. Itu sebabnya, jika kita masuk ke suatu wilayah seluruh Indonesia sampai pada wilayah terpencil akan menemukan alumni Pesantren yang mengajarkan ilmu-ilmu agama. Karena mereka bergerak secara mandiri, maka menjadi kelompok alumni pesantren yang dalam istilah NU disebut dengan kelompok kultural, punya pesantren, Sekolah mulai tingkat dasar sampai SLTA atau ada juga tingkat Perguruan Tinggi secara mandiri dan biasanya kerjasama dengan masyarakat setempat. Hubungan alumni sebatas pada hubungan spiritual dimana para guru-guru yang telah mendidiknya selalu didoakan setiap waktu. Kadang juga ada waktu-waktu tertentu datang ke pesantren induk untuk reuni yang dikemas pada ulang tahun pesantren atau haul Pendiri Pesantren.

Karena sifat kemandirian para alumni, mereka kemudian bekerjasama dengan masyarakat sekitarnya. Hubungan kerjasama ini yang kemudian melahirkan budaya baru pada masyarakat dan budaya khusus di kalangan pesantren. Meminjam istilah yang digunakan oleh Abdurrahman Wahid [Gus Dur] pesantren sebagai sub-kultural, bahwa ada suatu budaya yang khusus di kalangan santri, namun santri bisa melebur diri dengan budaya masyarakat setempat. Santri tetap eksis dengan karakter manusia yang mempunyai watak lembut, moderat dan toleran, sehingga mudah diterima di tengah-tengah masyarakat secara taken of granted. Lambat laun terbentuk tatanan budaya yang kemudian hari disebut budaya santri, dimana masyarakat berubah secara evolusi pada sisi budaya tertentu dengan tetap menjaga tradisi tertentu yang dianggap positif. Contoh tradisi Idul Fitri yang dilakukan keliling ke rumah-rumah tetangga adalah tradisi kebiasaan masyarakat yang telah bercampur dengan budaya santri dengan dimasuki ruh ajaran Islam yaitu menyambung silaturahim. Ini tradisi yang tidak ditemukan di Arab Saudi sebagai asal lahirnya agama Islam, karena memang budaya nya berbeda dengan Indonesia.

Kenapa Pesantren tetap eksis dan tidak terpengaruh oleh gonjangan krisis ekonomi atau moneter? Mereka telah terlatih dengan kemandirian dan apa adanya dalam menjalani kehidupan. Di Pesantren-pesantren tradisional sudah terbiasa tidak mendapat kiriman biaya hidup dari orang tua. Mereka kemudian mengabdi dan bekerja di sawah, berdagang dan bekerja sebagai buruh untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kebiasaan sudah tertempa penderitaan yang menyebabkan mereka tidak terpengaruh kondisi dunia yang sering disebut dengan istilah krisis ekonomi, krisis moneter, resesi dan sejenisnya. Mereka tetap bekerja, dan mengajar serta malamnya bertaqarub kepada Allah s.w.t.

Namun kisah tersebut rasanya telah menjadi kisah yang unik dan antik. Ironisnya disisi lain, seminar dan diskusi-diskusi kaum intelektual tidak lepas dari bahasan-bahasan yang sangat luarbiasa tentang suatu kemandirian atau istilah Soekarno “berdikari”, berdiri di atas kaki sendiri. Ironisnya acara ini bisa berlangsung apabila ada sponsor baik dari Kampus, Pemda atau Pemerintah Pusat dan Perusahaan. Para cendekiawan di acara yang mewah dan diselenggarakan di hotel-hotel berbintang memaparkan makalah-makalah yang hebat-hebat, rujukan makalahnya dari penulis internasional dan pakar-pakar yang konon terbaik di dunia. Tapi kadang hasil rekomendasi dari acara akbar tersebut hanya sebatas rekomendasi yang tersusun di rak-rak perpustakaan. Ia hadir saat ada kepentingan administrasi yang melelahkan.

Sebagai penutup, penulis jadi teringat pada masa Ali bin Abi Thalib. sahabat yang ada terbelah. Kelompok pertama, mengkritik Ali karena tidak becus mengelola Negara dan tidak mampu menyelesaikan kasus yang menimpa Ustaman bin Affan. Kelompok kedua mengkritik Ali karena tidak mampu berbuat adil dan memperbaiki ekonomi. Kelompok ketiga, menuduh ali sudah keluar dari Islam. Mereka bertengkar berebut yang paling benar.

Padahal saat Nabi memimpin, kemiskinan pun tidak berbeda juga pada masa Ali bin Abi Thalib. penulis kadang tersenyum saat nabi puasa karena di rumah tidak ada makanan. Di sisi lain, Ali bin Abi Thalib pergi ke Pasar jualan Kayu Bakar untuk kebutuhan hidup. Dan lebih membuat penulis tersenyum lebar, saat orang fakir menikah dan di bulan ramadhan melakukan hubungan suami istri. Saat disuruh oleh nabi puasa dua bulan, dia bilang tidak sanggup. Saat disuruh memberi makan kepada orang-orang miskin, dia pun menjawab bahwa dia juga termasuk orang miskin. Ketika nabi memberikan sekeranjang kurma dan disuruh untuk diberikan kepada kaum fakir-miskin, dia pun menjawab : “ Ya Rasul, bukankah di antara mereka, kamilah yang paling miskin?”. Nabi pun tersenyum.

Sudah saatnya menghidupkan etos kerja sebagaimana yang telah diajarkan oleh para orang tua kita dulu dalam kondisi dan situasi apapun. Bisa jadi disini turunnya keberkahan hidup.


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Lentera Hati Bagian I

Tue Sep 6 , 2022
Bagikan :moreImam Ghozali, Dosen STAIN Bengkalis Ada sebuah dawuh Kanjeng Nabi Muhammad s.a.w dalam Hadist Arba’in Nawawi tentang makna Iman, Islam dan Ikhsan. Dalam Hadist tersebut adalah kisah spiritual antara Nabi dan Sahabat-sahabatnya. Karena Hadist ini menceritakan tentang seseorang yang selalu bertanya kepada Nabi, tapi ketika sudah menjawab, Sang Penanya […]