Etika Politik Kyai NU

Bagikan :

Dalam sebuah wawancara  Kick Andy Metro Tv, Gus Dur mengatakan bahwa di dunia ini yang menjadi musuhnya Cuma satu, yaitu soeharto. Namun setiap hari lebaran, Gus Dur datang ke rumahnya. Ketika kick Andy bertanya tentang alasanya melakukan hal ini, gus dur menjawab dengan tersenyum dan mantap : “artinya saya tidak punya musuh di dunia ini.”

Penulis artikel ini pun teringat tulisan K.H.M. Cholil Bisri [ sekarang putranya, K.H. Yahya Cholil Staquf terpilih menjadi ketua tanfidziyah PBNU pada muktamar ke-34 di Lampung], mengatakan bahwa dinamika kehidupan politik adalah sebuah perbedaan. Allah s.w.t telah mengajarkan perbedaan pendapat sebagaimana terjadi pada nabi Khidir dan nabi Musa. Walaupun terkadang sudah ada kesepakatan bersama, ada win-win solution, tapi nabi musa tetap melanggar kesepakatan yang tidak tertulis dengan nabi khidir. Alasanya rasional, kemanusiaan, keadilan dan regulasi syariat islam. Dari sini antara etika, akhlak, ilmu dan realisasi perilaku manusia sering berbenturan. Betapa sulitnya ketika berbicara akhlak, tapi pada saat tertentu berbenturan dengan rasionalitas akal dan fakta yang terjadi di depan mata. Tapi kenyataannya demikian, saat Musa melihat kedzaliman dalam presepsinya, dia langsung mengatakan : “ Lha, apa sampeyan (engkau) mau membuat kami semua tenggelam?” (Bisri, 2008).

Setiap orang dalam kehidupan, apalagi dalam sebuah persaingan merebutkan sebuah jabatan bisa berbicara atas nama ilmu, akhlak, amal, dan keikhlasan hati. Semua bisa mengurai dengan prespektif dan acuan dalil yang bisa sama, bisa juga berbeda dengan penafsiran yang berbeda juga. Semua orang sepakat bahwa “daging babi” itu haram. Namun pada posisi tertentu, mereka akan mempunyai pendapat yang berbeda ketika kondisi memungkinkan terjadi. Bahkan seorang koruptor pun tetap bahagia karena dia tahu bahwa “Allah maha pengampun, Allah maha rahman dan Rahim”, masa sih ente yang bukan Tuhan mengutuk kepada ku dengan sangat kejam?”. Bisa jadi ini menjadi dasar kuat untuk melanggengkan perbuatan yang salah, dan belum juga beranjak taubat atas segala kesalahan yang dia lakukan.

Kenapa Gus Dur menekankan sisi kemanusiaan saat dirinya “dikuyo-kuyo” oleh Orde Baru selama 32 tahun? Kenapa Gus Dur dengan mudah menerima maafnya Soeharto pada saat bangsa ini menghujat Soeharto, seolah-olah Gus Dur yang menjadi musuhnya malah berubah menjadi pembela tertinggi? Lalu orang-orang yang benci kepada Soeharto pun beralih kepada Gus Dur, dan sebagaimana kita tahu, Gus Dur pun dengan santai mengatakan : “Gitu aja kok repot”.

Kembali lagi ke pembahasan, bahwa Kyai Said dan Kyai Yahya jika saya boleh bilang tanpa maksud menyamakan sama derajatnya, tapi hanya sebagai tarbiyah semata, bahwa mereka berdua seperti Nabi Musa dan Gus Dur seperti Nabi Khidir. Kedua ulama ini adalah hasil tempaan Gus Dur dalam memahami ilmu hal yaitu ilmu memahami dinamika kehidupan dari sudut nilai-nilai universalitas agama yang luhur dan agung. Saat dalam proses penempaan, mereka juga terkadang tidak memahami pemikiran Gus Dur terkadang nggrundel atau mengkritik dalam hati. Namun ketika Gus Dur telah tiada, mereka sadar bahwa Gus Dur telah mengajarkan tentang politik seorang kyai yang tidak boleh dilupakan yaitu : ikhlas bekerja dan mengabdi kepada allah dan membela siapapun bangsa tanpa harus melihat etnis, budaya, dan agama, yang merupakan wujud dari nasionalisme Islam yang humanis, dan pluralis (Suhanda, 2010).

Politik para kyai adalah politik “garis lurus” yang terkadang berbelok-belok dengan tidak melupakan khitahnya. Politik garis lurus adalah politik yang tidak terjebak pada kepentingan prgamatis dan mengorbankan subtansi. Sehingga makna sebuah kemenangan sering dalam wujud tidak mendapatkan apa-apa, dan disini justru para kyai merasa dalam posisi puncak kemenangan. Karena kyai selalu mempunyai referensi “kamus kehidupan” yang mengartikan sebuah kemenangan bukan sebatas mendapatkan selembar kertas penghargaan ataupun sebuah piala bergilir, namun hakikat kemenangan saat konsistensi perjuangan menegakan kebenaran terus menjadi khitah dalam sebuah organisasi.

Politik kyai itu sebagaiman digambarkan oleh Gus Mus dengan kalimat “ istighfar tiga puluh tahun hanya untuk ucapan alkhamdulillah satu kali.” Kelihatan rancu, tapi itu kenyataanya. Saat Syeikh Sariy As-Saqathy melihat kota Baghdad terbakar dan melalap seluruh bangunan, ternyata hanya toko dia yang tidak terbakar, wutuh, dan isinya tetap sedia kala. Melihat ini, sepontanitas syaik mengucapkan “Alhamdulillah.” Namun dia pun baru sadar, bahwa ucapan tersebut bentuk egoisme terhadap kepentingan pribadi, dan membiarkan penderitaan kepada orang lain. Akhirnya, dia pun bertaubat selama 30 tahun hanya gara-gara satu kalimat hamdalah (Bisri A. M., 2010).

Dari sini penulis artikel ini bisa memahami, bahwa politik kyai NU bukan pada keseriusan untuk mendapatkan kenikmatan pada perjuangan politiknya, lalu melupakan statusnya sebagai warosatul anbiya atau pewaris para nabi. Politik kyai NU mengajarkan kepada penulis untuk selalu memberi konstribusi kebaikan dan menjadi petunjuk kebenaran, serta selalu menjadi pengayom seluruh alam semesta, yang tercermin dalam simbol bola dunia.

Wallahu a’lam.

DAFTAR PUSTAKA

Bisri, A. M. (2010). Kompensasi . Rembang: MataAir Publishing.

Bisri, M. C. (2008). Menuju Ketenangan Batin. Jakarta : Kompas.

Suhanda, I. (2010). Perjalanan Politik Gus Dur. Jakarta : Kompas.


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Sepak Bola adalah Jiwa Kita

Thu Dec 30 , 2021
Bagikan :morePermainan sepak bola merupakan olah raga rakyat. Hampir setiap pelosok daerah mempunyai lapangan sepakbola. Ada yang sesuai setandar, terutama ukurannya, atau kadang hanya berupa  lahan yang kosong, lalu karena digunakan secara terus-menerus, akhirnya menjelma menjadi lapangan kampung. Walaupun sebatas lapangan kampung, mulai dari anak-anak, remaja sampai pada orang-orang yang […]