Dinamika Pemikiran Islam

Bagikan :

Jika merujuk pada perkembangan pemikiran Islam di Indonesia, ada tiga garis besar jenis pemikiran Islam, yaitu Puritan, Moderat, dan Modernis. Perbedaan jenis pemikiran ini lahir dari beberapa faktor, antara lain: Pertama, faktor Ideologi. Faktor Ideologi berasal dari latarbelakang ilmuwan. Pandangan Ideologinya sangat mempengaruhi corak pemikiran dalam melihat suatu persoalan agama baik yang  berhubungan dengan akidah, ibadah, politik, ekonomi, pendidikan dan bidang-bidang sosial lainya.

Bagi ulama berasal dari ideologi puritan, melihat suatu persoalan mengacu kepada sumber asli ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist. Kelompok ini mengukur suatu kebenaran pada tekstual. Sehingga secara otomatis menutup penafsiran-penafsiran ulang terhadap Ayat atau Hadist, terutama berkaitan dengan persoalan ibadah ritual atau ibadah mahdoh ( ibadah yang langsung kepada Allah SWT). Klaim bahwa apa yang tertulis dalam kedua sumber hukum Islam merupakan kebenaran mutlak dan melaksanakan nya bagian dari ta’abud atau ibadah.

Sedang bagi kelompok Islam moderat melihat suatu persoalan tetap mengacu kepada Al-Qur’an dan Hadist, namun dalam memahami persoalan-persoalan tertenu menerima berbagai tafsir atau penjelasan terhadap persoalan-persoalan berkaitan dengan masalah ubudiyah dan lain-lainya. Contoh dalam pemahaman fiqih seperti tentang zakan fitrah. Jika mengacu kepada teks hadist, zakan fitrah dengan kurma atau gandum. Kelompok moderat memahami zakat fitrah bukan pada jenis barang yang digunakan untuk zakat, tetapi lebih mengacu kepada fungsinya yaitu membantu masyarakat fakir miskin. Itu sebabnya, para ulama dan kekompok ilmuwan moderat menerima zakat fitrah dengan beras atau dikeluarkan harga nya, sebagai ganti dari kurma atau gandum.

Persoalan hukum agama tersebut menunjukan bahwa ajaran islam pada persoalan-persoalan tertentu membutuhkan tafsir ulang untuk menerapkan ajaran agama itu sendiri agar bisa dilaksanakan dengan mudah. Jika, persoalan zakat fitrah dipaksakan harus menyesuaikan dengan tekstual hadist, maka sangat memberatkan kaum muslimin yang berada di daerah yang berpenghasilan kurma ada atau gandum. Toh jika memang diusahakan dalam bentuk impor, maka nilai zakat fitrah menjadi persoalan baru, yaitu pada ukuran harga nya menjadi lebih besar. Berbeda ketika memaknai zakat pada segi tujuannya, maka tidak perlu memikirkan jenisnya. Disini sebenarnya, kelompok moderat memberi solusi persoalan keagamaan.

Alasan kelompok moderat melakukan demikian, karena menyakini bahwa yang mengetahui secara murni maksud dari Al-Qur’an itu sendiri tentu sang pemilik yaitu Allah dan juga Rasul-nya. Jadi, manusia tidak mempunyai hak untuk meng-klaim diri sebagai pemegang otoritas kebenaran dalam mengartikan ayat Al-Qur’an atau pun Al-Hadist. Karenanya, melakukan penelitian dan pengkajian, lalu melahirkan keberagaman pemikiran menjadi bagian tradisi yang tidak bisa dihilangkan, sebagai upaya menyelaikan persoalan al-Din yang pasti muncul setiap waktu.

Kedua, faktor pendidikan. Pendidikan merupakan faktor paling penting dalam membentuk keberagaman pemikiran dalam Islam. Bahkan juga, pendidikan telah menciptakan lahirnya suatu perpindahan dari suatu lintas pemikiran. Kadang pada tahap permulaan, para ilmuwan mengikuti pola pikir tradisional, lalu kemudian berubah menjadi puritan, dan modernis atau sebaliknya. Mungkin dalam hal ini yang bisa dicontohkan dalam artikel ini yaitu pola pikir K.H. Ahmad Dahlan. Jika merujuk pada sejarah riwayat pendidikan, Ahmad Dahlan muda masih mengikuti model pemikiran tradisional. Kajian kita kuning sebagaimana tradisi yang ditekuni oleh K.H. Hasyim Asy’ari dan Pesantren Tradisional adalah bentuk permulaan perjalanan intelektual dari Ahmad Dahlan. Sejalan perjalan waktu, terjadi perubahan setelah bersentuhan pemikiran kaum Wahabi di Mekah, dan para tokoh Pembaharu seperti Jamaluddin Al-Afgani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha.  Ahmad Dahlan pun me-revisi pemikiran tradional ke arah modernis. Pembuktian ini dengan mendirikan organisasi yang disebut Muhammadiyah.

Ketiga, faktor Budaya. Kelompok pemikir ini sering disebut kaum Tradisional. Perbedaan dengan kaum Modernis dan Puritan adalah pada pijakan landasan pemikiranya, yaitu bukan sebatas pada Al-Qur’an dan Hadist, juga menerima pemikiran Ulama Salaf As-Shalih melalui karya-karya mereka. Dalam bidang Fiqh, merujuk pada empat Madzhab: Imam Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Bidang Tasawuf merujuk pemikiran Imam Al-Ghozali dan Junaidi Al-Baghadi. Bidang Tauhid merujuk pada pemikiran Imam Asy’ari dan Imam Maturidi. Bidang politik pada pemikiran Al-Ghozali dan Al-Mawardi. Alasanya sederhana, bahwa kelompok ulama Salaf as-Sholeh adalah ulama yang pemikirannya lebih mendekati pada Al-Qur’an dan Hadist jika dilihat dari sanad ke-ilmu-an. Maka memutuskan mata rantai dan langsung kembali kepada al-Qur’an dan Hadist sungguh sangat tidak mungkin pada saat masyarakat muslim tidak mempunyai kemampuan atau keilmuan yang memadainya. Jika dibiarkan, maka akan terjadi penafsiran liar terhadap hukum Islam di tengah masyarakat.

Kelompok tradisional sering disebut dengan kelompok yang sangat ramah dengan Budaya. Ribuan tokoh ulama dan ilmuwan lahir dari kelompok ini seperti K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Abdul Wahab Hasullah dan K.H. Wahid Hasyim. Kelompok generasi berikutnya antara lain Abdurrahman Wahid dan Nurcholish Madjid. Mereka adalah ilmuwan yang lahir dari tradisi budaya ke-Indonesia-an. Mereka mencoba meneropong sumber hukum Islam baik Al-Qur’an dan Hadist dengan pendekatan budaya-budaya yang dibangun oleh masyarakat Indonesia. Kejeniuasan mereka dalam menjelaskan hubungan agama dan budaya telah menjadi jembatan yang penting, bahwa keduanya saling mengaitkan dan tidak bertentangan antara keduanya. Agama sebagai sumber hukum Islam yang berasal dari Tuhan bersifat spiritual. Sedangkan budaya adalah hasil pemikiran, dan karya manusia yang membutuhkan nilai-nilai ilahiyah. Jadi sepanjang budaya mendapatkan ruh-ruh dari nilai-nilai agama maka budaya sendiri justru memperkuat kehadiran agama dalam kehidupan sehari-hari. Seperti umpanya ketika dalam ilmu fiqih, ibadah sholat harus menutup aurat, maka budaya masuk pada wilayah kreasi berupa aneka ragam bentuk baju seperti batik di Jawa, baju Melayu daerah Riau, dan baju adat istiadat lain di berbagai daerah bisa digunakan untuk ibadah kepada Allah sepanjang mempunyai fungsi utama, yaitu menutup aurat.

Bagi kelompok modernis seperti Muhammadiyah tentu saja tidak menjadi persoalan. Bahkan dalam sejarah berdirinya Muhammadiyah, Ahmad Dahlan dan istrinya tetap memegang teguh budaya bangsa Indonesia, seperti memakai Blangkon dan Peci. Begitu juga istrinya masih menggunakan pakaian tradisi muslimah Indonesia dengan kepala ada kain yang kecil memanjang atau juga menggunakan jilbab seperti layaknya masyarakat muslimah Indonesia. Sampai saat ini pun, sebagian para pengurus Muhamadiyah masih menggunakan budaya Indonesia seperti memakai Peci hitam dan baju batik. Walaupun dalam internal Muhamadiyah sendiri sudah mulai terjadi erosi pemikiran Ahmad Dahlan, yaitu sudah mengarah kepada model puritan, yaitu dengan melihat suatu budaya menjadi bagian ajaran Islam yang tidak bisa dipisahkan seperti memakai Baju dan Peci Putih dengan Celana Cingkrang. Model yang sebenarnya ini budaya arab, lalu kemudian dianggap ini bagian dari syariat yang harus dilakukan sebagai bentuk sunnah Rasul.

Tentu penulis artikel ini tidak bisa melarangnya pemahaman tersebut. Tapi menjadi sangat lucu, karena mensyakralkan suatu yang seharusnya tidak syakral. Tapi itulah fakta pemikiran Islam di Indonesia. Beragam. Hanya saja, sering diantara mereka tidak bisa menerima keberagaman. Salah satu bukti, muncul kelompok yang suka meng-kafir-kan atau mem-bid’ah-kan kelompok lain yang menurut mereka tidak sesuai ajaran Islam. Lucu bukan?

Sabtu, 27 Juni 2020

Vijian Faiz


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Anak adalah Mutiara Termahal

Sat Jun 27 , 2020
Bagikan :Jika sudah berumah tangga, maka anak adalah mutiara termahal yang dimiliki oleh keluarga tersebut. Kehadiran mereka memberikan kebahagiaan melebihi kebahagiaan harta benda lain baik dalam bentuk jabatan atau pun harta kekayaan. Status anak melebihi dari jabatan dan harta benda. Jika kedua keindahan dunia ini hilang, maka hanya anak lah […]

Baca Juga