Demonstrasi, antara Ideologi dan Sakit Hati

Bagikan :

Keberadaan pancasila memang telah menjadi keputusan final para Pendiri Bangsa (Founding Fathers ) Indonesia. Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia telah disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI. Sebagai ideologi Negara, Pancasila merupakan manifestasi dari nilai-nilai yang hidup di Masyarakat.  Nilai-nilai tersebut telah menjadi way of life masyarakat Indonesia dalam kehidupan sehari-hari. Ia menjadi kausa material Pancasila yang lahir dan wajah asli dari karakter bangsa Indonesia itu sendiri.

Pemilihan ideologi Pancasila yang telah ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945 merupakan ijtihad para pendiri bangsa untuk mencegah terjadinya disintegrasi. Pancasila telah menyatukan keberagaman Suku, Budaya, Etnis dan Agama menjadi satu naungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia menjadi kekuatan untuk menyatukan keberagaman menjadi persaudaraan. Keberagaman yang saling menghormati untuk melaksanakan keyakinan dan ibadah masing-masing tanpa harus menghina dan mencaci-maki. Keberagaman yang telah menjadikan kesadaran Nasional bahwa ada yang terpenting dalam kehidupan sosial, berbangsa dan bernegara yaitu rasa kemanusiaan yang tinggi terhadap sesama manusia. Bukankan sifat kemanusiaan merupakan ajaran Tuhan yang paling Agung sehingga sifat kasih sayang berdampingan dengan nama Tuhan ?

Memang sejak Pancasila dirumuskan menjadi ideologi bangsa dan negara, kelompok Islam Kanan selalu ingin merubah menjadi Pancasila bersyariat, yaitu Pancasila yang tertuang dalam Piagam Jakarta. Mereka menginginkan Pancasila kembali keasal rumusannya, yaitu menjalankan syariat ajaran Islam secara kaffah. Pada Orde Lama, kelompok ini telah melakukan pemberontakan yang terkenal dengan gerakan DI/TII yang ingin mendirikan NII (Negara Islam Indonesia). Gerakan ini bisa dihancurkan, baik pada zaman Orde Lama, dan diteruskan oleh Orde Baru. Mereka pun tiarap dalam percaturan politik Indonesia. Namun tetap bergerak menjadi gerakan politik bawah Tanah. Bergerak terus menggerogoti syaraf-syarat ideologi negara dan menyebarkan virus Khilafah kepada para Pejabat, Militer, Dosen, Mahasiswa, Pelajar dan para ASN di berbagai instansi pemerintah. Tujuanya jelas, agar daya tahan tubuh NKRI ini lemah, dan berganti menjadi ideologi agama dalam bentuk Khilafah Islamiyah

Era reformasi pada tahun 1998 membawa dampak melemahnya nilai-nilai Pancasila di Perguruan Tinggi. Pintu reformasi telah membuka lebar masuk arus baru pemikiran revivalisme Islam. Paham ini masuk melalui partai politik dan organisasi keagamaan yang mempunyai tujuan menegakan syariat Islam dan Khilafah Islamiyah. Melalui jalur politik, dengan disahkan UU No 2 tahun 1999 tentang tidak ada pembatasan jumlah partai politik. melalui jalur organisasi seperti Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Salafi, dan Ikhwanul Muslimin. Gerakan ini adalah lanjutan dari cita-cita DI/TII yang terkubur. Kini arwahnya kembali mengganggu anak-anak bangsa agar tergoda untuk mengikuti ajakan manisnya, dan meninggalkan sesuatu yang nyata. Dengan slogan “menegakan syariat Islam”, sebagian anak-anak bangsa “kepincut”.  Bayangan indah beribadah dan kehidupan yang sejahtera dengan tidak ada hutang, tidak ada riba, tidak ada kemiskinan, makmur, semua kaya, dan urusan gampang, selesai tidak ada konflik adalah gambaran dari promosi “Salesmen Khilafah”. Persis seperti penjual obat di pasar tradisional. Dengan modal Toa sederhana dan sedikit pandai berdalil dan berdalih, penjual obat tadi mampu membius masyarakat, mulai dari petani, guru dan pejabat untuk membeli obat serbat manjur dan mujarab. Tentu saja, mereka yang membeli karena berfikir instan dan terpedaya oleh ucapan manis dari penjual obat tadi. Sungguh ironis bukan, penjual obat yang hanya latihan ngomong dan akrobat bisa menipu ribuan orang terpelajar dan terdidik, apalagi ketika “bumbu agama” dijadikan racikan nya, maka semakin kepincut masyarakat untuk mendapat cita-cita yang sangat menggoda, yang sebenarnya tidak realistis sama sekali dalam tataran realita kehidupan.

Tentu saja, cita-cita indah tersebut harus disingkronkan fakta sejarah pada saat umat Islam menjadi penguasa. Saat Nabi Muhammad menjadi Kepala Negara, Nabi sendiri, keluarga dan para sahabat juga sudah terbiasa lapar. Hari-harinya tidak menemukan makanan yang bisa dimakan. Para sahabat Ahlu Suffah yang tidur di Masjid adalah masyarakat miskin yang selalu mendapatkan bantuan dari orang-orang kaya. Begitu juga berbagai Hadist menceritakan tentang orang yang sangat miskin ketika melakukan suatu kesalahan di siang bulan Ramadhan. Bukankah ini realita kehidupan saat Islam periode pertama persoalan ekonomi, kemiskinan pada zaman Nabi dan para sahabat juga tidak bisa dihilangkan. Sehingga, membayar zakat menjadi rukun Islam. Orang kaya dan orang yang menerima berarti orang miskin?

Apakah para pejuang Khilafah akan melawan rukun Islam itu sendiri dan memutar balikan sejarah dengan seenak sendiri bahwa zaman Nabi, masyarakat Islam tidak ada yang miskin? Apakah memperjuangkan ideologi Islam harus dengan mengabaikan kebenaran pondasi Rukun Islam dan fakta sejarah? Lalu yang kalian perjuangan syariat Islam, Islam yang mana? Yang katanya Islam semua makmur, Islam pada zaman siapa? Apakah saat ini di Indonesia yang Islam bebas sholat baik wajib lima waktu, pengajian agama, bisa puasa, zakat, haji, bisa nikah, dan wakaf apakah ini bukan dari ajaran Islam?

Para Pejuang Khilafah semakin kacau nalar perjuangan ideologinya. Saat melihat fakta syariat Islam dijalankan dalam kehidupan sehari-hari, kini berulah lagi melakukan demonstrasi untuk memperjuangkan Pancasila. Sungguh sangat lucu. Khilafah yang menganggap Pancasila sebagai ideologi “toghut”, kini sibuk membela dan menyalahkan pemerintahan Jokowi-Ma’ruf. Benarkah ini murni, atau menginginkan cita-cita politik lain yaitu melengserkan pemerintah yang sah ?

Memang saat ini saat HTI, sebagai wadah gerakan Khilafah dibekukan, mereka melakukan Politik “Jurus Mabuk” Wiro Sableng. Siapapun yang bisa disusupi dan dimanfaatkan untuk kepentingan panjang mereka, akan terus didekati walaupun dengan cara yang salah. Sebab bagi HTI, Khilafah adalah bagian dari ibadah. Memperjuangkan khilafah berarti memperjuangkan agama. prinsip ini merupakan pedoman politik, yang pada akhirnya tidak berbeda lagi dengan konsep politik lain yang sering bersifat pragmatis untuk kepentingan kekuasaan semata. Makanya, walaupun ber-kedok agama, cara-cara untuk mendapatkan kekuasaan politik pun tidak berbeda dengan model konvensional, yaitu demonstrasi dan melakukan kudeta terhadap penguasa yang sah.

Kamis, 25 Juni 2020

Vijian Faiz


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Dinamika Pemikiran Islam

Sat Jun 27 , 2020
Bagikan :Jika merujuk pada perkembangan pemikiran Islam di Indonesia, ada tiga garis besar jenis pemikiran Islam, yaitu Puritan, Moderat, dan Modernis. Perbedaan jenis pemikiran ini lahir dari beberapa faktor, antara lain: Pertama, faktor Ideologi. Faktor Ideologi berasal dari latarbelakang ilmuwan. Pandangan Ideologinya sangat mempengaruhi corak pemikiran dalam melihat suatu persoalan […]

Baca Juga