Citayam Bukan Mie Ayam

Bagikan :

Hari ini saya sedikit terlambat sampai Selatpanjang. Biasanya saya naik Dumai Line dari Bengkalis sampai Selatpanjang, jam 10.40 sudah sampai pelabuhan.  HP sudah menunjukan jam 11.15 menit, jadi cukup lama istri menunggu di Pelabuhan. Untung saja cuaca hari ini cukup cerah dan angin pun menghembus lembut, walaupun cukup lama menunggu, istri masih tersenyum. Ternyata senyuman istri mengalahkan indahnya 73 bidadari di Surga.

Sampai di Rumah, biasanya istri memegang HP saya. Ma’lum dia tidak punya FB, yang ada hanya WA. Makanya HP saya sering “dibajak” untuk melihat berita-berita kekinian, terutama berkaitan dengan hal-hal yang unik seperti :  Tas, Lipstik, Baju, Peralatan Dapur, Dompet dan sejenisnya. Mungkin itu sudah menjadi dunia kaum hawa, yang kadang-kadang membuat kolesterol saya naik turun. Persis seperti naik turunya Dolar AS ke Rupiah RI.

“Mas, Citayam Fashion Week itu apa ?” Tanya istriku.

“Baju Khusus Penjual Mie Ayam” jawab saya sekenanya.

Istri langsung tertawa sambil mencubit pinggang saya. Tentu yang dicubit pinggang, membuat saya semakin keras tertawanya. Ma’lum saya terkadang “geli” apabila pinggang saya dipegang. Entah apa sebabnya, saya pun sampai hari ini belum bisa menjelaskan secara ilmiah. Karena “kegelian” pinggang pun muncul begitu saja, sehingga Istri saya pun kadang ngomel juga : “ Dipegang Gitu Aja Geli”.

Citayam Fashion Week (CFW) adalah aksi peragaan busana di Zebra Cross. Acara yang dilaksanakan di jalan umum, yang kadang menimbulkan hal-hal yang tidak umum. Disebut jalan umum karena pada umumnya jalan tersebut digunakan untuk melintasnya seluruh kendaraan mulai dari Mobil, Truk, kendaraan Roda Dua, Becak, Sepeda, sampai Penjual Somay keliling lewat mencari rizki. Mereka mempunyai hak sama untuk mendapatkan akses kemudahan berlalu-lintas juga berlalu-lalang para pejalan kaki yang mempunyai aktivitas yang beragam. disebut jalan tidak umum, ketika dimonopoli oleh satu kegiatan sebagaimana kegiatan CFW tersebut, sifat keumuman berubah menjadi semi-umum, bahkan jika mungkin sudah melibatkan para penguasa jalan yang tadinya disebut jalan umum berubah menjadi sangat tidak umum. Ironisnya, merasa tidak bersalah. Apakah memang sudah menjadi kodrat manusia ketika berkuasa, hal-hal yang tidak umum dilakukan status “dosa” nya berubah menjadi “halalan toyibah?”. Saya tidak akan menjawab, biarkan saja rumput-rumput yang bergoyang untuk menyaksikan perputaran dunia yang semakin lucu.

Saya pribadi memang tidak bisa seperti rumput-rumput yang bergoyang yang mampu melihat kelucuan dari pertunjukan film kolosal sebagaimana CFW. Saya hanya mampu melihat bahwa kegiatan itu adalah luapan kebahagiaan anak-anak muda dan orang-orang tua yang berjiwa muda. CFW telah menunjukan sifat demokratis yang luar biasa. Siapapun boleh berlenggak lenggok, terserah. Apapun status anda. Pejabat, politikus, disainer, peragawan atau peragawati, mulai dari tingkat internasional sampai tingkat RT, mulai dari baju desainer model Prancis sampai pada desainer bermodal Celana Levis. Siapapun boleh berlenggak-lenggok walaupun terkadang sumbang  dan lucu jalanya. Apapun jenis orangnya boleh-boleh saja. Mau laki-laki berdandan menjadi “kemayu” persis seorang cewek lagi jatuh cinta, atau perempuan yang berdandan seperti Rambo yang kekurangan bahan baju. Silahkan. Itu demokratis kok. Sepanjang pemimpinmu masih ikut-ikutan, kamu tidak berdosa. Santai saja. Pemimpinmu memang luar biasa, siap menanggung penderitaan dosa rakyatnya.

Ini alam demokratis, dan saya harus belajar menghargai kebebasan mereka. Saya pun tidak marah, dan saya pun tidak akan mengutuk mereka sebagaimana “ Kelompok manusia (kadang sok) suci” bahwa perbuatan mereka itu akan mendatangkan bencana dan murka Allah.  Saya pun seperti anda, bisa jadi. Kita memang bisa bicara yang bertolak belakang dengan hati nurani. Ketika pemimpinnya lawan kita, segala kebijakan bisa dibabat habis-habisan atas nama tuhan walaupun kita belum mengenal-nya.  Tapi saat pemimpin menjadi teman, kita  akan mengumpulkan dalil setinggu Gunung Uhud untuk membela nya.

Saya hidup di alam demokratis ini memang harus belajar melihat satu sisi kehidupan yang tidak hanya terjebak hanya pada dua warna kehidupan “hitam dan putih”. Saya harus belajar melihat anak-anak muda barisan punk yang laki-laki pakai anting-anting di telinganya, dan cewek-ceweknya terlihat “wudel” nya sebagai bagian orang-orang yang saya doakan kebaikan. Saya menyakini, mereka bukan orang yang tersesat yang sering dilontarkan oleh sebagian para pendakwah yang (terlihat) suci. Mereka kaum Punk adalah orang-orang yang sedang mencari jalan kebenaran tetapi belum menemukannya. Saya harus bermeditasi, bertaqarub dan memanjatkan doa kepada Allah agar mereka menjadi orang-orang seperti Umar bin Khatab dan Salman Al-Farisi. Dan tidak menutup kemungkinan, suatu hari mereka menjadi kelompok kekasih Allah berkah doa kita. Sebab dunia ini telah mencatat sejarah yang demikian bukan?

Bagansiapi-Api, 26 Juli 2022

Imam Ghozali


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Bisakah Tugimin menjadi Ali bin Abi Thalib?

Wed Jul 27 , 2022
Bagikan :moreTugimin tertunduk lesu. Seharian dia hanya duduk menunggu penumpang. Namun Becak tua miliknya belum ada yang menyapanya. Padahal hari sudah siang. Matahari sudah di atas ubun-ubun, panasnya sangat menyengat. Untungnya, ada Surau di sampingnya. Dia pun duduk-duduk diteras sambil menunggu masuk sholat Dhuhur. Sekitar 5 menit dia duduk, terdengar […]