Cinta Tuhan dalam Wujud yang Berbeda

Bagikan :

Ketika kita memaknai cinta, selalu yang terbayang adalah wujud yang menyenangkan. Mungkin yang terbayang dalam benak kita seperti kisah Romea dan Juliet, atau Pangeran dan Putri Salju. Tidak ada kesedihan, dan duka nestapa. Yang ada adalah perjalan hidup senantiasa bahagia dan menyenangkan sampai akhir hayat.

Coba tanyakan kepada anak-anak muda yang masih ‘jomblo’ dan masih dalam proses mengakhiri “penjombloan” yang belum jelas kapan berakhirnya. Bisa jadi bayangan cinta persis sebagaimana kisah Pangeran dan Putri Salju tadi, hidup hanya jalan-jalan, memadu kasih, dan aktivitas hanya berisi dalam catatan dongeng romantis yang langgeng. Seolah hidup hanya satu sisi saja, bahagia dan bahagia. Hidup serba kecukupan, dan tinggal di istana yang penuh dengan pelayan yang siap memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya.

Namun ketika sang pemuda tadi sudah mendapatkan pasangannya. Sudah juga melakukan “bulan madu”. Lalu setelah berjalan beberapa bulan kemudian, saat istrinya mulai hamil, maka romantisme sebagaimana saat pertama bertemu dengan kekasihnya (dulu sebelum nikah) bisa dipastikan ada dinamikan “naik turun” perasaan cinta. Jadi tidak lagi hanya satu warna berupa ucapan “I love You”, bisa jadi ada penambahan lain yang kadang bisa mengagetkan kedua pasangan nya. Dulu saat awal-awal perjumpaan selalu keluar kata “sayang”, namun saat perjalanan waktu mulai keluar kata-kata “kasar”, dan kadang juga sudah berani “membentak” dan saling mengoreksi kekurangan masing-masing. Kok bisa demikian?

Itulah hakikat cinta yang sebenarnya. Cinta adalah kesempurnaan hari ada siang dan malam, ada tenang air laut, da nada gelombang besar, ada angina sepoi-sepoi ada juga putting beliung. Semua datang dan pergi pada periodisasi kehidupan yang beragam. Semua ini agar bisa merasakan arti cinta yang sesungguhnya. Seperti arti enaknya sehat pada saat kita sakit. Tuhan mendatangkan lawan-lawan dari kenikmatan, agar bisa mengambil pelajaran yang baik dari setiap perjalanan hidup. Sehingga, kita semakin dewasa ketika melihat fakta hidup yang demikian, dan seni hidup yang beraneka ragam menjadi kita semakin tangguh mengarungi bahtera keluarga. Cinta menjadi berkualitas bukan?

Tidak ada ciptaan yang batil bagi Tuhan. Semua baik dalam wujud yang berbeda dan beragam. Secara nafsu, kita tentu ingin hidup tidak ada kata susah. Sebab susah menjadi kita sakit, pusing dan menderita. Kita ingin hidup yang enak-enak saja. Saat kita bangun ingin sarapan, sudah ada sarapan di dekatnya. Saat kita ingin menikah, mudah mendapatkan jodoh sesuai selera kita. Saat menginginkan pekerjaan, mendapatkan pekerjaan yang basah berlimpah harta benda. Saat kita sudah punya anak, semua sukses dalam pendidikan dan karir. Itu mimpi-mimpi dalam hidup kita.

Tapi Tuhan tidak menginginkan pola hidup yang demikian. Untuk mendapatkan titel kemulyaan di sisi-Nya, Tuhan mendatangkan ujian. Bahkan kekasih Tuhan yaitu para Nabi mendapatkan ujian-ujian yang nyaris merenggut nyawa mereka. Mereka menderita, dan super menderita dalam menjalankan kehidupan mereka. Nabi Adam hidup di Surga, berubah 180 derajat hidup di dunia yang penuh kekurangan dan penderitaan. Nabi nuh harus membuat kapal, dan mendapat cacian sepanjang hari dari kaumnya. Nabi Ayub bertahun-tahun sakit kulit yang hampir semua keluarga dan masyarakat menjauhinya karena mengeluarkan bau yang sangat amis dan menjijikan. Nabi Musa, hampir mati dikejar-kejar oleh Fir’aun dan bala tentaranya. Nabi Isa dicaci maki oleh kaumnya. Nabi Muhammad saw juga diintimidasi dan disiksa dan akan dibunuh oleh bangsa Arab Kafir Qurays. Semua orang yang sering disebut kekasih tuhan menderita. Tidak ada satupun kekasih Tuhan yang hidup nya “ongkang-ongkang” hidup enak dan tidak pernah diuji. Tidak ada sama sekali. Semua melalui ujian yang sangat berat untuk menjadi kekasih Tuhan yang agung.

Akhirnya kita menyadari, bahwa kondisi kita saat ini dalam berbagai kondisi ekkonomi yang tidak menentukan, ada wabah pandemic covid-19 yang belum jelas kapan berakhir telah mendidik kita untuk senantiasa mencintai tuhan. hidup terasa susah. Kadang dada terasa sesak. Namun, saat keadaan seperti ini hati kita selalu bersandar kepada-nya, maka penderitaan kita bagian dari ibadah, dan yang lebih hebat lagi penderitaan kita bagian dari wujud cinta Tuhan untuk mengangkat derajat kita sebagai hamba-hamba yang sholeh dan dikumpulkan dengan para salaf as-sholihin seperi para sahabat, tabiin, tabiin tabiin dan ulama-ulama serta orang-orang sholeh lainya. Amin-amin ya Allah.

Senin, 29 Juni 2020

Vijian Faiz


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

SISTEM PERADILAN PIDANA DI INDONESIA

Sat Jul 4 , 2020
Bagikan :BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Pengadilan di masa lalu merupakan bangunan sosiologis yang bersifat total. Pengadilan sangat dekat dengan masyarakat, bahkan masyarakat itu sendiri. Oleh max weber tipe peradilan seperti itu disebut khadi justice, yaitu suatu peradilan yang tidak berorientasi kepada fixed rules of formally rational law, tetap […]