Bulan Muharam Menurut Tugiman

Bagikan :

Tugiman membeli Beras Merah di Kedai sebelah rumahnya. Ketika ditanya, katanya ingin membuat Bubur merah. Ma’lum sudah menjadi tradisi keluarganya, jika memasuki bulan Muharam selalu membuat bubur berwarna merah dan putih. Informasi turun-temurun menjadi kabur apa sebenarnya tujuan membuat bubur merah-putih. Tugiman mengatakan bahwa menurut leluhurnya ada yang mengatakan simbol dari keberanian dan kesucian; ada juga yang mengatakan simbol kepahlawanan sayidina hasan dan Husain. Dia mendapatkan informasi secara turun temurun dari sumber yang berbeda-beda.

Tugiman memang tidak pernah sekolah umum maupun agama. Pekerjaan sehari-hari menjadi buruh sawah dengan orang-orang kaya di desa-nya. Usianya kini sudah menginjak cukup tua, 60 tahun. Istrinya Sarimi juga buruh di tempat yang sama. Namun saat waktu menunggu sawah panen, istrinya jualan Kacang Goreng yang di titipkan di kedai SD Impres. Suaminya mencari rumput untuk tiga ekor Kambing. Bukan kambingnya, tapi kambing tetangga dengan menggunakan sistem bagi hasil. Uniknya, walaupun di hidup sebagai buruh sawah pasangan suami-istri ini mempunyai anak cukup banyak, 7 orang.

Ketika ditanya tentang dirinya membuat Bubur merah-putih dan di bawa ke Surau atau Mushola. Tugiman mengatakan bahwa agar buburnya bisa dimakan oleh anak-anak. Menurutnya sangat senang apabila anak-anak bisa menikmati kebahagiaan di daerah nya yang rata-rata memang buruh. Ada rasa kebersamaan dan saling menghargai satu dengan lainya. Mungkin tugiman tidak pernah berfikir tentang makna kerugian membuat bubur merah-putih dalam kondisi yang demikian sulit. Tapi kepercayaannya bahwa kebaikan akan dibalas kebaikan merupakan suatu yang sudah mendarah daging. Dengan kalimat sederhana dia mengatakan “Gusti Allah sing males amale menungso” merupakan Jimat pamungkas yang menjadi pedoman hidupnya.

Kalimat sederhana tapi menjadi way of life Tugiman dalam kehidupan sehari-hari. Sumele ing pandum adalah praktek spiritual pada saat dirinya tidak mengerti pengajian agama, kuliah, internet, mendeley, karya ilmiah, Manuskrip dan sebagainya. Ketika ditanya tentang anaknya yang sangat banyak dan bagaimana cara merawat dan memberi makan serta pendidikan, diapun menjawab dengan rilek: “Gusti Allah wes ngatur mas”.

Tugiman juga tidak tahu dan seolah-olah tidak mau tahu apakah budaya bubur merah-putih dalam menyambut bulan Muharam di benar kan dalam Islam atau tidak. Baginya tidak penting. Dia hanya mempunyai niat untuk membahagiakan orang yang membutuhkan. Bukankah membahagiakan kepada orang-orang yang membutuhkan adalah bagian dari ajaran Islam?

Saya kaget atas jawabannya yang sangat menohok Ulu Hati ku. Saya jadi teringat para ahli ibadah dan ahli sholat justru dianggap pendusta agama manakala pada dirinya telah kehilangan sifat loman atau dermawannya. Kenapa kesadaran tentang ayat justru datang dari orang yang tidak pernah mengaji sama sekali. Apakah ini bagian dari penyakit manusia modern?

Saya kemudian merenung. Saat ini Mushola, Masjid, dan Pesantren serta sekolah-sekolah agama mblarah begitu banyak . Berbeda pada zamanya. Orang-orang yang bisa sekolah sampai tingkat SLTA saja adalah Anak Camat, Kepala Desa dan PNS. Itupun masih terbatas. Anak-anak petani, cukup tamat SD, bisa berhitung, bisa masak dan menikah.

Kini mencari menantu yang punya gelar kesarjanaan dari berbagai jurusan sudah tidak begitu sulit. Sekarang sudah bisa apabila ditemukan calon pasangannya bergelar pendidikan tertinggi, dan tidak hanya itu saja kuliah juga kadang dari luar negeri dengan status bergengsi. Dalil ayat suci sampai pada kitab klasik kumplit. Bahkan suami-istri sama-sama cerdas dan ahli debat. Sampai-sampai untuk menentukan jumlah anak pun harus perang ayat dan dalil. Sungguh sangat tidak lucu.

Saya jadi berfikir, apakah semakin banyak ilmu nya seseorang akan semakin lemah keyakinannya kepada Allah s.w.t? bisa jadi. Dia sibuk dengan pertentangan yang menguras energi. Dia masih berhenti pada tingkat nurul yaqin, belum sampai pada tarap haqul yaqin. Itu sebabnya, saat hujatul Islam mencapai puncak keilmuan nurul yaqin dan menjadi guru para ulama, dia pun sadar, semua menipu. Sebab yang saya cari adalah hakekat kebenaran ilmu. Dan Al-Ghozali pun menempuh ilmu tasawuf yang membahas tariqah, hakikat dan ma’rifat dengan mengarang Kitab Ihya Ulumudin.

Jangan-jangan Tugiman yang saya ajak ngobrol telah khatam kitab Ihya ‘Ulumuddin?

Bengkalis, Selasa 2 Agustus 2022

Imam Ghozali


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Kenangan bersama Tabrani Rab

Mon Aug 15 , 2022
Bagikan :moreBeberapa waktu lalu, saya menulis kenangan bersama Anas Ma’mum dengan judul “Harimau dan Buaya di Bagansiapiapi”. Tulisan ini merupakan catatan kecil yang membekas tentang pribadi Anas Ma’mun sebagai sosok orang tua yang punya kemauan keras dan energik dalam memajukan kabupaten Rokan Hilir secara khusus dan Propinsi Riau secara umum. […]