Balada Klepon dan Kurma; Pergeseran Makna Islami

Bagikan :

Di dunia maya pada pertengahan Juli 2020 digemparkan oleh sebuah postingan Gambar yang memuat narasi  cukup provokatif: “Klepon Bukan Makanan Islami, Kurma Makanan Islami.” Sontak menuai beragam komentar. ada yang lucu-lucu, ada juga  yang serius sampai menjurus pada persoalan konspirasi  untuk memecah belah umat Islam. Namun terlepas dari siapa yang membuat postingan Gambar tersebut, dan apa maksudnya biarkan saja “Sang Kreator ” dan Tuhan yang tahu. Kita lepaskan dulu perdebatan “lelucon” atau “konspirasi” dalam “sepiring klepon.” Mari kita analisis persoalan ini dalam rentetan sejarah masyarakat indonesia yang dulu terkenal “adem ayem”, dan kini saya merasakan bergeser menjadi “adem gemreneng.”

Saya sebenarnya memandang sederhana saja persoalan “Klepon versus Kurma.” Tidak ada yang aneh-aneh. Hanya saja sekarang menjadi aneh karena memang saat ini lahir manusia yang “menurut saya “ itu berpikir, berkata, dan berperilaku aneh-aneh. Seperti apa aneh-anehnya, nanti saya akan menjelaskan lebih lengkap contoh detailnya.

Pada era-80 atau 90-an, adalah era dimana perbedaan pendapat dalam agama biasa-biasa saja. NU Sholat Taraweh 23 rakaat, Muhamadiyah 11 rakaat. Aman, Tidak ada persoalan. Tidak ada juga yang menjelekan satu dengan yang lainya. Bahkan tahun 90-an, era dimana Professor Amin Rais yang notabene Ketua Muhamadiyah itu blusukan ke berbgai Pesantren NU di berbagai wilayah baik Jawa Tengah ataupun Jawa Timur. Professor Din Samsuddin juga sering ikut acara Tahlilan padahal Dia juga tokoh dan pernah menjadi Ketua PP Muhamadiyah. Dan lebih lucu lagi, salah seorang orang tokoh Ketua PP Muhammadiyah sebelum era Amien Rais pernah berkunjung ke Pesantren Jawa Timur di bulan Ramadhan, Dia di suruh menjadi Imam Shalat Taraweh. Berapa rakaat? 11 rakaat. Kyai dan Santri no problem. Malah ada yang nyeletuk “Malam ini kita dapat diskon 40% Shalat Taraweh.” Semua yang mendengar tertawa. Menyikapi furu’ sangat fleksibel. Dari sini jelas, perbedaan sudah terbangun oleh masyarakat Indonesia dan tidak ada persoalan apapun. NU tidak menyalahkan Muhamadiyah, begitu sebaliknya. Mereka sama-sama menghargai perbedaan. Sebab keduanya pun mempunyai sumber rujukan yang sama-sama shoheh. Titik.

Kenapa persoalan – yang terkadang bukan- agama saat sekarang menjadi sensitif. Kenapa umat Islam dulu yang hatinya “lapang dada” kini menjadi “sempit dada”. Kenapa ada isu-isu kecil seperti Klepon saja menjadi persoalan yang terlihat sangat serius? Karena memang saat ini lahir kelompok manusia yang sangat serius mengurus hal-hal yang “tidak serius”. Lucunya lagi, persoalan yang tidak serius dibuat “sedemikan rupa serius” sehingga terbangun presepsi alam bawah sadar sang pendengar bahwa yang” tidak serius itu” adalah persoalan serius dan harus diselesaikan dengan sangat serius. Kenapa? Karena dianggap bagian dari agama. Ini pangkal pokok persoalannya.

Contoh bagi sebagian orang Muhamadiyah dan umum nya orang NU, memasang gambar Ulama, Tokoh Organisasi atau Juga Foto Wisuda adalah hal yang lumrah. Bagi NU dan Muhamadiyah zaman old (setahu saya) hal yang biasa saja melihat gambar atau foto. Tidak ada pengaruh apa-apa terhadap imannya. Bagaimana mempengerauhinya, wong foto atau gambar itu benda mati.

Dikalangan  orang NU dengan konsep Tauhid sangat jelas: لا معبود بحق في الوجود الا الله  (tidak ada makhluk baik hidup atau mati yang pantas disembah secara hak dalam keberadaanya kecuali hanya Allah SWT-Kitab Safinah Najah). Jadi, jangankan hanya hanya foto, seluruh makhluk yang hebat pun dianggap tidak punya kekuatan sama sekali mempengaruhi Iman, apalagi hanya Gambar atau Foto.

Persoalan saat sekarang ini adalah ada kelompok “kagetan” tadi melihat segala benda ini menjadi serius dan menakutkan sampai mengganggu imanya. Akibatnya segala benda yang dianggap mereka sumber syirik wajib dimusnahkan. Contoh seperti Keris, Gambar, Foto, Patung dan sejenisnya. semakin banyak anggapan, semakin banyak daftar benda yang harus dimusnahkan dengan penilaian sederhana “ tidak islami, dan mengandung syirik.” Maka sasarannya diperluas lagi seperti lagu anak-anak: Balonku ada Lima, Naik Delman, Naik Kepuncak Gunung. Pada Binatang muncul postingan Onta sebagai binatang Islami. Pada busana, Baju ASN atau Baju Pramuka laki-laki disulap menjadi mirip dengan Baju Daster perempuan. Alasanya Islami dan sesuai sunnah Nabi ( Sejak kapan Nabi memakai baju ASN dan Pramuka? ). Pada tiyang Listrik, jemuran dianggap Salib dan pada pohon cemara dituduh sebagai Pohon Kristen (sejak kapan syahadat dan murtad nya Tiyang Listrik dan Pohon Cemara?). dari deretan-deretan ini semakin jelas, bahwa besar kemungkinan akan muncul lagi beberapa persoalan kebendaan yang selalu saja dihubungkan dengan persoalan agama.  Sebenarnya hanya sebatas sampah saja semua ini. Tapi dianggap sangat serius banget.

Padahal jika agak sedikit cerdas kumpul-kumpul dan membuka ruang untuk berdiskusi, maka besar kemungkinan terbuka ruang perbedaan. Sebab selain diskusi itu diperintahkan oleh Allah, Nabi dan juga para Ulama, juga diskusi merupakan jalan untuk menguji kebenaran secara ilmiah keilmuan. Jika menutup diri menganggap diri benar dan mendoktrin lain sesat  (lagi-lagi menolak nya dengan dalih dianggap tidak sesuai sunnah), lalu menutup rapat-rapat pintu diskusi. Lucu khan?

Contoh sederhana saja, tentang masalah tauhid jelas terletak pada keyakinan ke-esa-an kepada Allah, bukan ke-esa-an kepada Keris, bukan pada Gambar, bukan juga pada Patung. Itu sudah jelas dalam kalimat sahadat dan makna yang telah saya jelaskan di atas. Tapi “Kelompok Kagetan” tidak juga paham-paham. Menurut mereka keris disembah, dan diminta kekuatan. Tuduhan yang menggelikan. Satu lagi berkaitan dengan kata “islami” adalah pada perilaku manusia bukan pada benda. Sebab benda itu bukan Islam. Islami artinya perilaku seseorang yang sesuai dengan ajaran Islam. sedangkan Islam itu agama. Orang Islam orang beragama Islam. Bisa jadi sesuai dengan ajaran Islam itu islami. Orang non-muslim perilakunya baik, jujur, adil, itu Islami, tapi bukan beragama Islam.

Dari paparan di atas paling tidak kita bisa menemukan benang merahnya, apakah ini bagian dari kelucuan “kelompok kagetan” atau ada konspirasi pihak luar yang ingin menghancurkan Islam dari dalam. Bisa jadi postingan Klepon hanya orang awam yang sangat awam pengetahuan agama tapi semangat agama tinggi, bisa jadi sedangkan jualan atau bisnis biar laris manis seperti kasus First Travel, atau Perumahan Syariah yang akhirnya tidak syariat sama sekali. Bisa jadi postingan tersebut dari kelompok kagetan untuk meneruskan fatwa-fatwa ulamanya yang terkenal aneh-aneh yang sudah beredar di Youtube. Bisa jadi memang ada konspirasi dari pihak asing untuk menghancurkan Islam dari dalam dengan menggunakan orang-orang Islam yang semangat keagamaan tinggi, dan mendapatkan fasilitas dana untuk melakukan operasional nya. Banyak kemungkinan. Tapi yang jelas, umat Islam di Indonesia cukup besar. Pangsa pasar sangat besar. Maka hal yang wajar jika Indonesia menjadi tempat Pemasaran dari segala jenis bisnis, baik politik, ideologi dan pemahaman agama kelompok kagetan.

Jum’at, 24 Juli 2020

Vijian faiz


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *