Bahar bin Smith dan Keturunan Rasulullah, kenapa beda?

Bagikan :

Setelah keluar dari penjara, Habib Bahar bin Smith pun kembali melakukan perbuatan menghentak masyarakat muslim [ mungkin bagi para jama’ahnya sudah dianggap lumrah dan biasa-biasa saja]. Dalam pidatonya, Habib Bahar mengancam para kyai atau ulama yang berhianat terhadap habib rizieq dengan membunuh siapapun yang berkhianat terhadap perjuangan nya. Dia juga mengkritik para intel dan juga kelompok-kelompok yang dianggap penjilat terhadap para penguasa saat ini.

Memang penulis secara pribadi “risih” mendengar setiap pidato atau ceramah yang sangat provokatif. Sebagai orang yang menganggap diri sebagai Habih [ keturunan Rasulullah] tentu saja mempunyai keturunan yang mulia, bukan hanya dari genetic, tapi juga dari etika atau akhlak yang agung sebagaimana yang menjadi ajaran utama nabi Muhammad s.a.w yaitu : Saya diutus ke dunia ini untuk menyempurnakan akhlak.

Penulis tentu membayangkan masa lalu dengan menelusuri buku-buku sirah nabawiyah [sejarah nabi]. Setiap orang memandangnya jatuh cinta. Abu Lahab tidak mau melihat Muhammad karena ketika melihatnya langsung tumbuh rasa sayang dan hormat kepada nya. Begitu juga masyarakat Arab yang dikenal saat itu dengan sebutan “jahiliyah” [ sebagai zaman kebodohan] sangat mencintainya karena akhlak nya tidak pernah ditemukan oleh manusia lain pada zaman itu. Akhlaknya sungguh sangat agung.

Orang-orang Nasrani dan Yahudi dan para tokoh-tokohnya sering ketemu nabi ketika di madinah. Mereka kadang bergurau bersama, sampai-sampai para pengikutnya marah-marah terhadap para ulama-ulama atau pendeta-pendeta mereka, bahkan sampai-sampai dianggap kafir oleh kaum mereka. Namun, para pendeta dan rahib tidak memperdulikan. Mereka tentu menyadari bahwa akhlak yang agung Muhammad tersebut seperti melihat nabi-nabi mereka yang telah mendahului nya seperti nabi musa dan isa dalam keterangan kitab-kitab suci mereka.

Kisah yang sangat menarik adalah ada seorang buta dari kaum bani Israel yang beragama yahudi terkena provokasi oleh para pembenci nabi. Mereka mengatakan dengan kalimat dan kata-kata yang sangat tidak sopan dan menimbulkan kebencian yang luarbiasa. Saat keluarganya sudah bosan mengurusnya dan tidak mau menyuapnya, nabi sering datang dan menyuapinya. Sang yahudi buta merasa heran. Cara menyuapi lembut dan bicaranya sopan. Dia pun sangat senang. Namun kebenciannya terhadap Nabi Muhammad menyebabkan akal dan mulutnya selalu menyebut kejelekan nya, dan tidak menyadari bahwa yang sedang menyuapi dirinya adalah orang yang sedang dibencinya.

Penulis tentu membayangkan bahwa bangsa Arab yang terkenal dengan budaya Badui, keras kehidupanya, dan kasar perangainya serta suka mengalirkan darah di antara mereka dan di antara suku-suku yang ada karena persaingan bisnis, wanita dan karena tersinggung telah menjadi budaya yang sangat mengerikan. Hukum rimba berlaku, siapa yang kuta, mereka yang berkuasa. Itu sebabnya, mereka sangat bangga apabila suku-sukunya banyak kaum laki-lakinya. Begitu sebaliknya, ketika istri-istrinya melahirkan terlalu banyak bayi perempuan, maka di antara mereka harus ada yang dibunuh karena dianggap membawa sial.

Nabi pun hadir, putri-putri nabi saat masih kecil di gendong dan dicium dengan penuh kasih sayang. Para sahabat heran. Mereka belum pernah melakukan demikian. Mereka hanya melakukan kemesraan dan sanjungan setinggi langit ketika istrinya melahirkan bayi laki-laki. Sebab mereka merasa anak-anak laki-laki tadi yang akan meneruskan perjuangannya dan menjadi simbol kebesaran sukunya.

Penulis tidak pernah menemukan catatan bahwa nabi sering mengeluarkan kutukan dan ancaman terhadap sesama muslim. Tidak pernah sama sekali. Justru sebaliknya, dia selalu menebarkan kebaikan. Dia selalu mengatakan bahwa sesama muslim adalah saudara. Dia menganjurkan untuk saling berkasih sayang dan saling hormat-menghormati serta saling membantu ketika terjadi kesusahan, termasuk dalam urusan kebutuhan rumah tangga.bahkan mereka sering kumpul dan makan bersama-sama, kadang diselingi dengan sendau gurau.

Begitu juga sikap nabi kepada non-muslim sangat menghargainya. Wajahnya selalu menebarkan senyum, dan ucapannya selalu santun. Bahkan tidak jarang, nabi selalu membantu mereka dalam kehidupan sosial. Mereka pun menjadi saudara dalam kemanusiaan dan saling menghormati dalam keberagaman.

Kini penulis dibuat kaget, ada kelompok yang mengatasnamakan dzuriah [keturunan] nabi, namun tidak sesuai dengan ucapan dan perbuatanya. Ucapannya kotor, penebar kebencian dan provokatif. Penulis dalam hati, apakah benar yang menggunakan gelar nabi mempunyai darah keturunan nabi? Atau hanya mengaku-ngaku untuk kepentingan duniawi ? atau memang ada kelompok tertentu sedang melakukan kepentingan politik identitas dengan menggunakan legitimasi melalui keturunan nabi?

Pertanyaan-pertanyaan lain pun bisa muncul berkaitan dengan fenomena habib-habib yang provokatif tadi. Terlepas dari benar atau tidak asal-usulnya, masyarakat hanya melihat dari factual ucapan dan perbuatannya. Jika memang mengandung unsur pidana dan membahayakan kesatuan dan persatuan umat Islam dan bangsa Indonesia, saya kira pihak keamanan tidak segan-segan untuk melakukan tindakan hukum kepada nya.


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Gus Dur, The Real Leader

Sat Dec 4 , 2021
Bagikan :moreMembahas K.H. Abdurrahman Wahid Atau Gus Dur berarti mengkaji mata air kehidupan yang telah memberi kesejukan dan keberkahan bukan hanya kepada umat Islam, tetapi juga non-muslim. Ia hadir saat bangsa ini mengalami krisis kepercayaan terhadap penegakan Hak Asasi Manusia [HAM] yang digembok oleh penguasa Orde Baru, Soeharto. Masyarakat merasakan […]