Anonim

Bagikan :

Imam Ghozali, Dosen STAIN Bengkalis

Akhir pemerintah ‘Utsman Bin Affan R.A ditandai dengan kerusuhan sosial. Orang banyak berkumpul di Ibu Kota, berasal dari berbagai penjuru, siap untuk melakukan sesuatu. Suatu hari kerusuhan terjadi. ‘Utsman terbunuh. Sesudah itu, para perusuh berlahan-lahan menghilang, kembali ke tempatnya masing-masing. ‘ali bin abi thalib, yang kemudian menjadi khalifah menyebut peristiwa di atas sebagai fitnah, huru-hara besar dan orang banyak yang terlibat di dalamnya sebagai gerakan anonim.

Dulu kata anonim mempunyai makna biasa-biasa saja. Guru bahasa Indonesia menjelaskan kepada murid-muridnya sebuah karya sastra yang tidak jelas penulis atau pengarangnya. Kata anonim waktu itu sebatas pada karya sastra. Kadang ditandai dengan huruf “NN” atau Non-Name. kini anonim sudah luas jangkauanya, pada persoalan politik, bisnis, pendidikan dan aspek kehidupan lainya.

Anonim dalam politik bisa juga disebut buzzer. Mereka bersembunyi dalam keramaian. Bisa saja, orang yang didekatmu adalah buzzer yang paling kamu benci. Bahkan bisa jadi yang kamu ajak ngobrol bareng adalah orang yang sedang kamu cari selama ini. Dia pun hanya tersenyum dan berlagak “blo on” tidak tahu menahu. Padahal pada saat yang sama-dia terus-menerus memainkan jari-jari nya untuk menghubungkan nama-nama yang tersebar di Media Sosial dengan nama-nama Islami, Gambar-Gambar Pedang, Kuda, dan ayat-ayat atau hadist-hadist nabi serta untaian kalimat nasehat dari para ulama. Profil mereka biasanya tidak jelas. Sekali pencet, maka tesebarlah puluhan, ratusan bahkan ribuan kalimat yang sama dengan nama dan identitas yang berbeda-beda. Satu orang bisa menyebarkan informasi yang menyesatkan melalui ribuan medsos anonim dengan beberapa kali pencet.

Lawan politiknya pun sama, yaitu sama-sama mempunyai buzzer Anonim yang berkerja secara mekanik dengan program yang sama. Profil nya pun tidak jelas. Pesan nya sama-sama suci, dan sama-sama membenci buzzer. Tapi pada saat yang sama, mereka pun saling menyerang dan perang dalam Dunia Maya (crime cyber) untuk membangun opini di tengah-tengah masyarakat. Sebab saat ini, perang sesungguhnya bukan pada tembakan-tembakan meriam sebagaimana pada masa imperialisme dulu. Kini perang sudah terjadi di Android-Android. Semua orang sudah tidak lagi saling menyapa dalam satu bangku dan satu meja. Semua sudah asyik tersenyum sendiri dengan memencet-mencet layar Android. Manusia sudah semakin asing dalam keramaian. Kepedulian semakin melemah dengan orang disekitarnya, tapi sangat perhatian kepada orang-orang nun-jauh di sana.

Apakah ini bagian dari dawuh Kenjeng Nabi bahwa kita telah masuk ke Lubang Biawak? Kita terlalu asyik memperhatikan isu-isu global, tapi melupakan yang lokal? Padahal Kanjeng Nabi Dawuh: “ Jika kamu masak, perbanyak lah kuahnya dan bagi kepada tetangga terdekat”. Jika kita mengamalkan hadist ini secara kolektif, bisa jadi tidak ada buzzer-buzer lagi, atau paling tidak bisa dikurangi. Sebab manfaat sedekah dan silaturahim yaitu membuka pintu-pintu rahmat. Diantara mereka yang mendapatkan rahmat dari Allah yaitu mereka terbangun kesadaran untuk saling menyayangi kepada sesamanya. sebagai penutup Allah berfirman :” Bisa jadi apa yang kamu benci itu terbaik menurut Allah, dan yang kamu sukai tidak baik menurut-Aya. Allah yang sangat mengatahui, sedangkan kamu tidak mengetahuinya.”


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Rambut Bercahaya

Sun Sep 18 , 2022
Bagikan :moreImam Ghozali, Dosen STAIN Bengkalis Tempat yang paling menyenangkan saya ketika naik Kapal Dumai Line yaitu tempat duduk yang dekat dengan tempat “colokan” HP. Bagi saya tempat duduk ini paket kumplit; dekat TV, bisa nge-cas HP atau Laptop. Ketika sudah ada yang duduk, dan di tempat duduk ada Tas, […]