Ana Basyarun Mislukum

Bagikan :

Imam Ghozali, Dosen STAIN Bengkalis

Setelah membaca tulisan Prof Samsul Nizar yang berjudul “Ulama (ilmuwan) dan Ayat Alam”, saya tertarik untuk men-syarah-i bagian dari tulisan tersebut. Saya membus lorong-lorong waktu masa lalu yang sudah tertutup “kerak-kerak” ingatan dan terbatas referensi. Ini tidak mudah, tapi setidaknya saya masih bisa membersihkan manuskrip-manuskrip kenangan para ulama antara lain tentang cerita kesederhanaan Mbah Kiai Sahal Mahfud, sampai-sampai di larang masuk acara muktamar NU karena pakaianya yang “ndeso” dan tidak sebanding kedudukannya sebagai pimpinan para ulama di masa nya. Saya juga teringat kisah Buya Syafi’i Ma’arif yang sering naik Kereta Api dari Yogyakarta-Jakarta, atau saat dia berobat di RS Muhammadiyah, dia harus antri karena tidak mau menyakiti orang yang datang lebih dahulu. Padahal waktu itu, dia jadi Juru Kunci Muhamadiyah.

Kemudian saya memasuki lebih dalam lagi, ingatan saya pun jatuh pada kebencian Hadratusyeikh Hasyim Asy’ari kepada para Penjajah pada masanya. Ada dua fatwa yang sangat menggetarkan nyali penjajah; pertama,  umat Islam tidak boleh tasyabuh dengan orang kafir ( Belanda-pen). Barangsiapa tasyabuh dengan orang kafir, maka dia berarti bagian dari golongan tersebut. Itu sebabnya, para ulama NU mengikuti fatwanya; membenci celana, jaz, dasi sejenisnya, dan memilih memakai Jubah atau Sarung. Namun kini, fatwa tersebut pun saat ini kurang digunakan dengan pertimbangan shalih li kulli zaman wal makan, yaitu adanya keselarasan perkembangan waku dan tempat. Itu sebabnya, penulis pun kadang pakai Sarung, kadang pakai Celana. Kedua, dia mengeluarkan fatwa resolusi jihad , bahwa melawan penjajah bagian dari jihad, yang kemudian hari melahirkan fatwa nya “hubbul wathan minal iman”, mencintai tanah air sebagian dari iman.

Berbeda dengan Muhamadiyah, K.H. Ahmad Dahlan menunjukan kebencian terhadap Penjajah dengan cara mengadopsi sistem pendidikan dan cara berpakaian. Maka jangan heran orang-orang Muhamadiyah sudah sejak dulu sudah akrab dan biasa memakai Celana Panjang, Pakai Jas dan Berdasi. Namun saat ini pola pemikiran modern para pendiri Muhamadiyah tadi  sedikit-demi sedikit ditinggalkan oleh pengikutnya. Sebagian generasi Muhamdiyah sering berpenampilan lebih puritan dan eklusif pada perilaku sehari-hari mulai dari Celana yang “nyunah” dan penggunaan bahasa Arab dengan kalimat yang sering familier di dengar seperti “akhi”, “antum” dan sejenisnya. Kalimat percakapan dan cara berbusana yang tentu terlihat aneh jika ini dilakukan pada masa KH Ahmad Dahlan. Apalagi Kiai Dahlan adalah orang Yogyakarta, yang sangat mengutamakan bahasa Jawa Kraton yang sangat halus dalam pergaulan sehari-hari.

Kemudian saya mencoba masuk lebih dalam pada lorong-lorong waktu. Saya menemukan sirah-sirah Nabi tentang kehidupanya dan para sahabat nya. Ada kisah yang kaki nya bengkak-bengkak karena sering sholat. Lalu kisah tersebut diadopsi dengan ayat “min atsari sujud” yang diartikan oleh sebagian kelompok dengan bekas sholat satu sisi diartikan bekas nya sujud di kening yang warna hitam, sedang para ulama, ilmuwan dan mufasirin mengartikan potongan ayat tersebut sebagai bentuk perubahan perilaku batin, pola pikir dan amal sholeh dalam keseharian.

Ketika saya membaca Disertasi Fuad Jabali yang menggunakan referensi ratusan kitab-kitab klasik (kemungkinan Disertasi ini ada seribu referensi berkaitan dengan kehidupan nabi dan para sahabat), menemukan kisah yang muskil. Bagaimana bisa seorang Abu Bakar menangis gara-gara kalah diplomasi tentang Pohon Kurma miliknya. Nabi memutuskan bahwa pohon tersebut bukuan milik Abu Bakar, melainkan  milik tetangganya. Abu bakar menangis karena keputusan nabi diluar ekspetasinya. Fuad Jabali juga menampilkan tentang seorang sahabat Nabi, Mu’ad Bin Jabal yang hadistnya menjadi rujukan para Mujtahid ternyata punya sisi yang kurang mengenakan, yaitu pinjam uang kepada seseorang sehingga dia tidak bisa membayarnya. Karena dicari tidak ketemu, akhirnya nabi Muhammad yang membayar hutangnya.

Kisah tersebut di atas tentu sangat ditolak oleh kelompok ahlusunnah wal jama’ah karena dianggap merendahkan status sahabat nabi. Tapi kelompok Mu’tazilah tidak demikian, bahwa kebenaran memang harus dikatakan apapun wujudnya dan tidak mengurangi status nya sebagai kelompok sahabat yang masuk pada assabiqulan awwalun. Begitu juga sangat muskil saat Abu Bakar tidak memberikan bagian khumus dan Tanah Fadak yang merupakan bagian keluarga Nabi kepada keluarga Ali bin Abi Thalib. Dan sangat tidak bisa diterima seorang Aisyah dan sahabat-sahabat Nabi, Muawiyah yang statusnya sahabat dan penulis wahyu melakukan kudeta terhadap pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Akibatnya ribuan umat Islam meninggal dunia yang kemudian dikenang dengan peristiwa “fitnah akbar” yang terjadi ditubuh umaat Islam.

Apakah peristiwa tersebut mengotori status sahabat nabi dan ulama-ulama setelah nya? Jika dilihat dari sisi formalitas ayat dan hadist seolah-olah mereka telah melanggar konstitusi syariah. Kaum Khawarij menyalahkan Muawiyah dan Ali sebagai kelompok yang telah menentang perintah Tuhan, dihukumi kafir. Kaum Syiah pun menyalahkan Abu Bakar, Umar, dan Utsman yang dianggap telah melanggar syariat. Berbeda kelompok Ahlusunah Wal Jamaah melihat persoalan tersebut tidak sebatas yuridis formal, namun juga melihat pada sisi filosofis hukum. Apa yang dilakukan Aisyah, Muawiyah dan sahabat-sahabat lainnya tentu melakukan segala perbuatan atas dasar ijtihad yang dianggap benar. Toh seandainya salah, kata Nabi : “ijtihad benar dapat dua pahala, dan salah dapat satu pahala.” Jadi baik Aisyah, Muawiyah dan Ali berkaitan dengan konflik sedang menerpakan ijtihad yang dua-duanya mendapat pahala walaupun dalam wujud yang menyedihkan dan menyesakan batin.

Dari sini penulis artikel bisa memahami bahwa status manusia sempurna adalah manusia yang ada unsur benar dan salah. Bahkan derajat semakin tinggi seseorang karena ada pertarungan dua unsur pada diri nya ; mutmainah dan syayiah, nafsu baik dan buruk. Bahkan pelaku maksiat dengan segala statusnya, bisa jadi karena tidak menolak kebenaran, namun orang yang belum menemukan jalan menuju kebenaranya.

Itu sebabnya tulisan Prof. Samsul Nizar tersebut sebenarnya sebuah pesan tersirat cukup penting bagi kita (khusus penulis artikel ini) yang mungkin sudah mendapatkan status derajat setingkat lebih tinggi di masyarakat, namun ada sisi kehidupan yang memang perlu terus-menerus untuk belajar mengenal diri hingga kita tidak terjebak pada keakuan diri karena asesoris duniawi. Saya kira proses pengenalan diri adalah gerakan jihad sekaligus ijtihad yang sangat berat. Bukankah demikian?


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Jalan Panjang Menciptakan Perdamaian

Thu Nov 17 , 2022
Bagikan :moreImam Ghozali, Dosen STAIN Bengkalis Pada hari Selasa di Wisma Pertamina saya bertemu pak Musa Ismail, seorang penulis produktif dari Bengkalis. Obrolan ini terjadi pada tanggal 15 November, bertepatan Presiden Joko Widodo membuka forum G20 di Bali. Tentu saja pertemuan ini tidak ada kaitannya sama sekali dan tidak akan […]