Ahwa dan Ruh spritual NU

Bagikan :

Dalam sejarah, cikal bakal Ahlul Halli Wal Aqdi [Ahwa] ada pada masa khalifah Umar bin Khatab. Saat dalam keadaan kritis akibat serangan penusukan dari Abu Luklukah sebanyak tiga kali ketika sholat subuh. Sebelum meninggal dunia, beberapa sahabat menemuainya yaitu: Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Saad bin Abu Waqqash, Abd Al-Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah, serta Abudllah bin Umar. Dia pun menyerahkan ke forum untuk memilih penggantinya setelah dia meninggal dunia. Sedangkan Ali bin Abi Thalib dipilih secara aklamasi oleh sahabat senior tersisa di Madinah seperti Thalhah, Zubair dan Saad. Lalu diikuti oleh masyarakat Madinah.

Kenapa Ahwa sebagai sistem warisan para sahabat yang orientasi pada politik kekuasaan kemudian hari menjadi suatu sistem pemilihan untuk rais ‘Aam Syuriyah PBNU. Apakah ini bertanda PBNU sudah mulai berpolitik praktis? Atau mungkin karena ada kerisauan dari para ulama NU dalam mengelola ormas agama terbesar di Indonesia?

Kedua pertanyaan yang perlu mendapat kajian lebih mendalam. Karena dari kelahiran pertama NU sebenarnya sebagai wadah para ulama madzhab empat agar secara terorganisir dan menjadi wadah untuk mengantisipasi dan melawan gerakan Wahabi yang sangat masif setelah Arab Saudi jatuh di tangan Ibn Saud, dan ideologinya berubah menjadi wahabi. Namun tidak menutup kemungkinan, nu juga mempunyai peran dalam pergerakan politik praktis yaitu melakukan perlawanan terhadap penjajah barat, Jepang, dan juga para pemberontak dari dalam seperti memberangus PKI baik pada peristiwa di Madiun pada tahun 1948, dan peristiwa G30S/PKI 1965. Peristiwa perjuangan politik ini menyebabkan nu tidak bisa melepaskan diri dari persoalan politik, termasuk dalam politik praktis.

Menurut penulis, lahirnya Ahwa dalam organisasi NU merupakan bentuk kerisauan dari para ulama setelah meninggalnya ulama-ulama besar pada pendiri NU. Berbagai persoalan komplek baik ditubuh NU sendiri dan juga persoalan bangsa dan negara membutuhkan pemikiran-pemikiran para ulama yang arif-billah, faqih, ‘alim ‘alamah, dan mempunyai kejernihan mata batin yang mendalam. Itu sebabnya, kebersamaan para ulama sebagai bagian dari wasilah untuk musyawarah bersama dan memutuskan suatu persoalan dengan penuh pertanggungjawaban baik dilihat dari sudut agama maupun kemaslahatan umat.

Jika demikian adanya, maka posisi Ahwa sangat penting menjadi rujukan setiap kebijakan organisasi yang dilaksanakan oleh Tanfidziyah PBNU. Segala program dan kebijakan yang dilakukan oleh Ketua Tanfidziyah merupakan cermin dari dawuh Rais ‘Aam Syuriah sebagai representasi para anggota Ahwa yang harus dilaksanakan. Sehingga konflik di tubuh NU bisa diperminim, bahkan bisa jadi  NU semakin solid dan kuat menghadapi hantaman dari berbagai arah mata angin di era modern saat ini. Syuriah mulai dari tingkat pusat sampai pada ranting menjadi rujukan organisasi, yang berarti mengembalikan lagi posisi ulama sebagai posisi strategis dan sentral baik dalam kehidupan organisasi maupun sosial-politik.

Posisi syuriah di NU, saya ibaratkan seperti wilayah al-faqih pada sistem politik Imamah di Iran. Efektifitas peran para ulama yang ada dalam anggota wilayah al-faqih sangat besar sekali. Presiden dalam memutuskan suatu persoalan atau kebijakan negara baik dalam dan luarnegeri mendapatkan legitimasi kuat dari ulama. Sehingga presiden Iran ketika memutuskan suatu kebijakan politik serta merta mendapatkan dukungan penuh dari parlemen dan rakyat. Terbukti, embargo dari barat tidak menyebabkan Iran lumpuh. Bahkan negara ini tetap eksis, dan membangun kemandiria,termasuk dalam bidang ekonomi dan pendidikan.

Memang penulis secara pribadi sangat kagum dengan kesholehan dari anggota wilayah al-faqih di Iran. Kecerdasan, luasnya ilmu, mujthahid dan  jiwa kesufian diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka benar-benar menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak dibenarkan dalam agama serta membangun pola hidup sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra. Ada perbedaan konsep dalam hal ini. Jika NU merujuk Ahwa dari para sahabat Nabi, Syiah menggunakan sistem wilayah al-faqih buatan Imam Khomeini. Walaupun berbeda kelahiran dan pandangan ideologinya, tapi semangat spiritualnya hampir sama, yaitu kekuatan spiritual dan kemandirian dalam hal duniawiyah. Dan saya yakin, pada posisi Ahwa  saat ini bisa menjagi kekuatan spiritual bagi  warga NU dalam memasuki usia satu abad dengan persoalan yang sangat komplek, terutama dalam bidang kemandirian ekonomi dan pendidikan warga NU. Saya kira jika ini berhasil diselesaikan, bidang-bidang lain pun semakin tertata dengan baik. Wallahu a’lam


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Mimpi Terbukti di Muktamar NU ke-34?

Fri Dec 24 , 2021
Bagikan :moreTulisan ini sebenarnya hanya ingin membuktikan firman Allah tentang mimpi yang pernah dialami oleh nabi Ibrahim dan nabi Yusuf. Jika nabi Ibrahim diberi oleh Allah kemampuan memahami mimpi secara langsung seperti mimpi membunuh nabi Ismail, sedangkan nabi Yusuf melalui simbol-simbol berupa Bulan, Matahari, dan bintang-bintang. Lalu simbol tersebut oleh […]