ACT yang tidak Tanggap

Bagikan :

Aksi Cepat Tanggap [ACT] merupakan organisasi kemanusia global yang berbasis kedermawanan dari para relawan masyarakat global. Ia mempunyai visi yaitu menjadikan organisasi kemanusiaan global professional berbasis kedermawanan dan kerelawanan masyarakat global untuk mewujudkan peradaban dunia yang lebih baik. Salah satu misi dari ACT adalah mengorganisir dan mengelola segala potensi kerelawan global sebagai modal sosial untuk mengatasi berbagai problem kemanusiaan baik dalam skala lokal, nasional, regional maupun global.

Aksi ACT dalam beberapa tahun lalu memang sangat menarik simpati masyarakat lintas agama sebagai suatu gerakan yang sangat konsen terhadap kemanusiaan. media sosial menjadi media untuk memperkenalkan program mereka sekaligus kiprah nya dalam berbagai aksi kemanusiaan. Selain itu, mereka juga aktif memberikan motivasi kepada masyarakat tentang pentingnya zakat, infat dan sodaqah dengan kalimat singkat, bijak, agamis dan memikat semangat bagi masyarakat untuk menyalurkan sebagian uangnya ke rekening ACT.

Kesan positif ini tiba-tiba membuyarkan citra ACT. Majalah tempo [ 2 Juli 2022] menurunkan berita dengan judul “Gunung Utang Toko Sedekah”, yang mempunyai ambisi memiliki jaringan retail yang menyasar umat Islam melalui 212 Mart. Menurut Ibnu Hajar Presiden ACT juga membenarkan bahwa adanya penyelewengan dana donasi hingga soal aliran dana untuk pribadi dan membiayai terorisme. Untuk kepentingan pribadi antara lain: Pertama, Mantan Presiden ACT, Ahyudin menerima gaji jumbo hingga Rp. 250 juta per bulan. Senior Vice presiden menerima Rp. 200 juta, vice presiden menerima Rp. 80 juta dan direktur ekskutif menerima Rp. 50 juta.

Data tersebut tentu sangat pengagetkan publik. Semangat keagamaan masyarakat yang tinggi disalahgunakan oleh oknum untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Mereka mengeruk kekayaan atas nama agama dan atas nama kemanusiaan. Padahal perilaku tersebut sangat membahayakan, bahwa ajaran agama yang agung dipermainkan untuk memenuhi syahwat kehormatan, kekayaan dan kekuasaan.

Penulis artikel ini memang tidak pernah bersentuhan langsung dengan ACT. Laporan Tempo tersebut telah membuka fakta suatu fenomena yang sering kita lihat saat ada suatu bencana atau persoalan politik terutama yang terjadi di Palestina akan dengan mudah melakukan penggalangan dana di jalan-jalan, melakukan orasi dengan ditambah kalimat-kalimat yang sangat provokatif untuk membangkitkan sentiment kebencian terhadap Yahudi, Israel dan Barat dan menarik simpati masyarakat Islam untuk menyalurkan dana-dananya kepada mereka. Para penggalang dana juga bekerja sama ke seluruh lini, baik perusahaan maupun instansi Pemerintah. Dengan dalih penyelamatan agama, mereka dengan luas melakukan aksinya dengan mudah. Makna agama dipersempit menjadi politik identitas. Agama diseret-seret menjadi sesuatu yang eklusif dan kehilangan esensi kebaikan yang universal, sehingga para pelakunya kadang membuat gaduh dan memprovokasi di masyarakat yang berujung pada perpecahan umat Islam dan sikap kebencian terhadap non-muslim.

Mungkin statemen saya dianggap sebagai sesuatu yang mengada-ngada tanpa adanya dasar ilmiah yang kuat. Bahkan bisa jadi saya pun dianggap sebagai bagian kelompok Islam liberal dengan tidak menerima cara perjuangan mereka yang semangat ingin menegakan syariat Islam  dan semangat untuk mendirikan negara yang berdasarkan agama. Mungkin juga, mereka pun bisa berdalih bahwa gerakan pengumpulan harta umat Islam yang sudah lintas negara ini semata-mata hanya untuk misi kemanusiaan. Namun realita perjalanan politik identitas di Indonesia tidak bisa dihilangkan begitu saja. Semua dokumen kegarangan mereka melakukan provokasi atas nama agama dalam politik praktis sering mengotori ajaran Islam yang mulia. Mereka bicara agama, politik, bicara kemanusiaan, tapi pada saat yang sama mereka mencaci maki orang-orang yang berseberangan pemikiran politiknya dengan tuduhan; kafir, pki, liberal, agen Yahudi, agen barat, kacung Cina dan sebagainya. Seolah-olah hanya kelompok mereka yang berhak menyandang sebagai penganut agama Islam yang kaffah, yang diluar golongan mereka adalah Islam abal-abal, abangan, bahkan perusak agama.

Sungguh ironis dan sangat keji tuduhan mereka. Para ulama yang ribuan santri dan telah melahirkan para ulama yang menguasai ilmu agama secara mendalam dengan mudah dikatakan orang yang tidak paham agama Islam yang justru yang menuduhnya adalah orang-orang yang secara latarbelakang pendidikan dan keilmuan bukan berlatar belakang ilmu agama, dan hanya mendapat bermodal sedikit ilmu agama. Namun karena unsur politik yang tertanam dalam hati menyebabkan mereka berbuat, berbicara atas nama agama Islam walaupun yang diserang para ulama, mereka tidak peduli. Politik identitas telah membentuk pikiran mereka merasa paling benar dari para pendapat ulama yang berseberangan dengan kehendak mereka.

Akhirnya Tuhan pun membuka aib mereka. Majalah Tempo telah menguak system kerja mereka mengumpulkan dana kemanusiaan yang ternyata dalam prakteknya mereka meninggalkan nilai-nilai kemanusiaan, bahkan lebih mendalam lagi mereka telah menjual agama demi kepentingan duniawi. Walaupun demikian, mereka tetap merasa benar dan terus membela diri. Mereka tetap percaya diri merasa tidak bersalah melakukan kegiatan tersebut. Ternyata manisnya dunia telah menuntun manusia untuk menghalalkan segala cara. Semoga saja, peristiwa penipuan ACT menjadi jalan terbuka kesadaran masyarakat agar tidak terpedaya oleh manisnya janji-janji perjuangan, syariat, dan Surga.


Bagikan :

Vijian Faiz

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Islamophobia dan Pemilu 2024

Thu Jul 21 , 2022
Bagikan :moreOleh: Imam Ghozali Deklarasi Islamophobia yang dipandegani oleh Ferry Juliantono cukup menyita perhatian berbagai kalangan, terutama kalangan Islam tradisional seperti Nahdlatul Ulama [NU]. Deklarasi ini dilakukan oleh Ferry Juliantono tentu saja tidak lepas dari kepentingan politik, jika dikhususkan pada pemilihan presiden 2024. Hal ini berangkat dari latarbekangnya sebagai salah […]